ASKEP PADA ANAK DAN REMAJA

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum.wr.wb.

            Puji syukur kehadirat  Allah SWT karena dengan limpahan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Askep Pada Anak Dan Remaja” tepat pada waktunya. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kan kepada Nabi kita Muhammad SAW, keluarga, sahabat dan pengikut beliau hingga akhir zaman. Aamiin.                        

           Penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran konstruktif dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini di kemudian hari. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian makalah ini. Akhir kata, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca pada umumnya. Aamiin.

Wassalamu’alaikum. Wr. Wb. 

Sigli,   Mei 2024

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ………………………………………………………………………………. ii

DAFTAR ISI …………………………………………………………………………………………….. iii

BAB I      :    PENDAHULUAN…………………………………………………………………… 1

  1. Latar Belakang……………………………………………………………………. 1
    1. Tujuan……………………………………………………………………………….. 2

BAB II    :    TINJAUAN PUSTAKA …………………………………………………………. 4

  1. Definisi dan Deskripsi Komunitas…………………………………………. 4
    1. Pengertian Obesitas…………………………………………………………….. 11
    1. Konsep Asuhan Keperawatan Komunitas………………………………. 16

BAB III   :  ASUHAN KEPERAWATAN OBESITAS……………………………….. 21

BAB IV   :    PENUTUP ……………………………………………………………………………. 27

  1. Kesimpulan ……………………………………………………………………….. 27
  2. Saran ………………………………………………………………………………… 28

DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………………………………….. 29

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Kesehatan merupakan bagian integral dari kehidupan manusia, bertolak dari latar belakang manusia yang berbeda-beda. Hal ini mengakibatkan banyak faktor yang terjadi dan berhubungan dengan masalah kesehatan. Di dalam komunitas masyarakat suatu daerah bila di klasifikasikan berdasarkan kelompok khusus, yang sangat rentan terhadap kondisi kesehatan terganggu adalah kelompok khusus anak usia sekolah. Salah satu upaya yang dilaksanakan adalah meningkatkan pola hidup masyarakat yang sehat dengan melakukan kegiatan keperawatan pada komunitas atau masyarakat yang didalamnya terdapat kelompok khusus anak sekolah.

Berdasarkan hasil pengkajian data yang dilakukan di kelurahan Wonokromo Surabaya yang dilakukan pada tanggal 12 November 2015. Ditemukan sebagian besar anak SDN IV Wonokromo yang memiliki masalah kebersihan diri (personal hygiene), cukup banyak antara lain 45 murid yang bermasalah pada gigi dengan persentase 36.5 %, 25 murid yang tidak menggosok gigi dengan persentase 20.3%, 6 murid yang tidak tidak mencuci tangan sebelum makan dengan persentase 4.9%, 15 murid yang tidak mencuci kaki sebelum tidur dengan persentase 12.1 %, 7 murid tidak biasa memakai alas kaki dengan persentase 5.7 %, 20 murid tidak biasa potong kuku dengan persentase 16.2% , 5 murid yang mempunyai kebiasaan mandi 1 kali sehari dengan persentase 4%. Dampak negatif dari perilaku tersebut adalah menimbulkan berbagai penyakit yang terjadi seperti karies gigi, diare, cacingan, dan gatal-gatal. Sehingga perlu untuk ditindak lanjuti dengan pemberian asuhan keperawatan.

Saat ini di seluruh Indonesia, banyak institusi kesehatan tersebar di bebagai daerah. Jadi dapat diperkirakan mahasiswa-mahasiswa dengan basic kesehatan semakin banyak pula. Untuk membantu mengatasi masalah remaja, maka mahasiswa dengan basic kesehatan hendaknya ikut berperan aktif yakni dengan memberikan pendidikan pada remaja di sekolah ataupun di fakultas non kesehatan. Strategi yang dapat di jalankan adalah melalui penyebarluasan pengalaman dan pelajaran tentang masalah yang banyak terjadi pada remaja.

Masa remaja adalah masa peralihan dari masa kanak-kanak menjadi masa yang yang menyenangkan, meski bukan berarti tanpa masalah. Banyak proses yang harus dilalui seseorang dimasa transisi kanak-kanak menjadi dewasa ini. Tantangan yang dihadapi orangtua dan petugas kesehatan dalam menangangi problematika remaja pun akan semakin kompleks. Namun ada penyelesaian masalah untuk membentuk manusia-manusia kreatif dengan karakter yang kuat, salah satunya dengan melakukan asuhan keperawatan komunitas pada kelompok remaja.

Berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang semakin canggih membawa dampak pada semua kehidupan, terutama pada generasi penerus bangsa khususnya pada remaja. Salah satunya dampak negative banyak para pelajar di kalangan remaja sudah merokok, berkendaraan dengan kecepatan tinggi, percobaan bunuh diri, minum-minuman dan penggunaan zat yang merusak kesehatan.

Dampak yang terjadi pada remaja itu merupakan masalah yang komplek, ditandai oleh dorongan penggunaan yang tidak terkendali untuk terus menerus digunakan, walaupun mengalami dampak yang negative dan menimbulkan gangguan fungsi sehari-hari baik dirumah, sekolah maupun di masyarakat.

  • Tujuan

Tujuan Umum : (anak dan remaja )

  1. Untuk memberikan gambaran tentang perilaku berisiko pada komunitas agregat anak usia sekolah termasuk upaya pencegahan/penanganannya melalui pendekatan proses keperawatan komunitas dan asuhan keperawatan pada pasien dengan obesitas.
    1. Agar mahasiswa /mahasiswi STIKES Medika Nurul Islam sigli memperoleh informasi dan gambaran tentang Keperawatan Komunitas dan Asuhan keperawatan pada pasien dengan obesitas Pada Remaja.

Tujuan Khusus : (anak dan remaja )

  1. Membahas tentang definisi dan deskripsi komunitas pada Anak dan Remaja
    1. Mampu menjelaskan konsep teori tentang anak dan remaja.
    1. Mampu membuat Asuhan keperawatan pada pasien dengan obesitas Pada Remaja.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

  1. Definisi dan Deskripsi Komunitas
    1. Definisi Komunitas
      1. ANAK 

Komunitas dapat diartikan kumpulan orang pada wilayah tertentu dengan sistem sosial tertentu. Komunitas meliputi individu, keluarga, kelompok/agregat dan masyarakat. Salah satu agregat di komunitas adalah kelompok anak usia sekolah yang tergolong kelompok berisiko (at risk) terhadap timbulnya masalah kesehatan yang terkait perilaku tidak sehat. Berdasarkan umur kronologis dan berbagai kepentingan, terdapat berbagai definisi tentang anak usia sekolah yaitu:

  1. Menurut definisi WHO (World Health Organization) yaitu golongan anak yang berusia antara 7-15 tahun, sedangkan di Indonesia lazimnya anak yang berusia 7-12 tahun.
    1. Menurut Wong (2016), usia sekolah adalah anak pada usia 6-12 tahun
    1. Besarnya Komunitas

Komunitas agregat anak usia sekolah yang menjadi sasaran pengkajian adalah anak usia sekolah SD dengan umur 6 – 12 tahun.

  • Anak Usia Sekolah Sebagai Kelompok Risiko

Anak usia sekolah adalah anak yang memiliki umur 6 sampai 12 tahun yang masih duduk di sekolah dasar dari kelas 1 sampai kelas 6 dan perkembangan sesuai usianya. Anak usia sekolah merupakan kelompok risiko yaitu suatu kondisi yang dihubungkan dengan peningkatan kemungkinan adanya kejadian penyakit. Hal ini tidak berarti bahwa jika faktor risiko tersebut ada pasti akan menyebabkan penyakit, tetapi dapat berakibat potensial terjadinya sakit atau kondisi yang membahayakan kesehatan secara optimal dari populasi. Anak usia sekolah merupakan populasi risiko karena beberapa hal yaitu:

  1. Anak banyak menghabiskan waktu di luar rumah
    1. Aktivitas fisik anak semakin meningkat
      1. Pada usia ini anak akan mencari jati dirinya
      1. Masih membutuhkan peran orang tua untuk membantu memenuhi kebutuhan
    1. Framework/ Model yang Digunakan Untuk Pengkajian Komunitas

Dalam memberikan asuhan keperawatan pada agregat anak usia sekolah menggunakan pendekatan Community as partner model. Klien (anak usia sekolah) digambarkan sebagai inti (core) mencakup sejarah, demografi, suku bangsa, nilai dan keyakinan dengan 8 (delapan) subsistem yang saling mempengaruhi meliputi lingkungan fisik,

Delapan subsistem yang dikaji seperti berikut:

  1. Pengkajian
  2. Data inti komunitas, terdiri dari:
  3. Demografi : Jumlah anak usia sekolah keseluruhan, jumlah anak usia sekolah menurut jenis kelamin, golongan umur.
  4. Etnis : suku bangsa, budaya, tipe keluarga.
  5. Nilai, kepercayaan dan agama : nilai dan kepercayaan yang dianut oleh anak usia sekolah berkaitan dengan pergaulan, agama yang dianut, fasilitas ibadah yang ada, adanya organisasi keagamaan, kegiatan-kegiatan keagamaan yang dikerjakan oleh anak usia sekolah.
  6. Data subsystem

Delapan subsitem yang dikaji sebagai berikut :

  1. Lingkungan Fisik

Inspeksi : Lingkungan sekolah anak usia sekolah, kebersihan lingkungan, aktifitas anak usia sekolah di lingkungannya, data dikumpulkan dengan winshield survey dan observasi.

Auskultasi : Mendengarkan aktifitas yang dilakukan anak usia sekolah dari guru kelas, kader UKS, dan kepala sekolah melalui wawancara.

Angket            : Adanya kebiasaan pada lingkungan anak usia sekolah yang kurang baik bagi perkembangan anak usia sekolah.

  • Pelayanan kesehatan dan pelayanan social

Ketersediaan pelayanan kesehatan khusus anak usia sekolah, bentuk pelayanan kesehatan bila ada, apakah terdapat pelayanan konseling bagi anak usia sekolah melalui wawancara.

  • Ekonomi

Jumlah pendapatan orang tua siswa, jenis pekerjaan orang tua siswa, jumlah uang jajan para siswa melalui wawancara dan melihat data di staff tata usaha sekolah.

  • Keamanan dan transportasi.
  • Keamanan : adanya satpam sekolah, petugas penyebarang jalan.
  • Transportasi

Jenis transportasi yang dapat digunakan anak usia sekolah, adanya bis sekolah untuk layanan antar jemput siswa

  • Politik dan pemerintahan

Kebijakan pemerintah tentang anak usia sekolah, dan tata tertib sekolah yang harus dipatuhi seluruh siswa.

  • Komunikasi
  • Komunikasi formal

Media komunikasi yang digunakan oleh anak usia sekolah untuk memperoleh informasi pengetahuan tentang kesehatan melalui buku dan sosialisasi dari pendidik.

  • Komunikasi informal

Komunikasi/diskusi yang dilakukan anak usia sekolah dengan guru dan orang tua, peran guru dan orang tua dalam menyelesaikan dan mencegah masalah anak sekolah, keterlibatan guru dan orang tua dan lingkungan dalam menyelesaikan masalah anak usia sekolah.

  • Pendidikan

Terdapat pembelajaran tentang kesehatan, jenis kurikulum yang digunakan sekolah, dan tingkat pendidikan tenaga pengajar di sekolah.

  • Rekreasi

Tempat rekreasi yang digunakan anak usia sekolah, tempat sarana penyaluran bakat anak usia sekolah seperti olahraga dan seni, pemanfaatannya, kapan waktu penggunaan

  • Peran Perawat Komunitas Terkait Anak Usia Sekolah
  • Praktik Keperawatan Kesehatan Komunitas.

Keperawatan kesehatan komunitas (CHN) merupakan spesialis pelayanan keperawatan yang berbasiskan pada masyarakat dimana perawat mengambil tanggung jawab untuk berkontribusi meningkatkan derajad kesehatan masyarakat. Fokus utama upaya CHN adalah pencegahan penyakit, peningkatan dan mempertahankan kesehatan dengan tanggung jawab utama perawat CHN pada keseluruhan populasi dengan penekanan pada kesehatan kelompok populasi daripada individu dan keluarga.

  • Fungsi dan Peran Perawat CHN Pada Agregat Anak Usia Sekolah

Fungsi dan peran perawat kesehatan komunitas terkait agregat anak usia sekolah  antara lain :

  1. Kolaborator

Perawat bekerjasama dengan lintas program  dan lintas sektoral dalam membuat keputusan dan melaksanakan tindakan untuk menyelesaikan masalah anak sekolah. Seperti halnya perawat melakukan kemitraan dengan tokoh masyarakat, tokoh agama, keluarga, guru, kepolisian, psikolog, dokter,LSM, dan sebagainya.

  • Koordinator

Mengkoordinir pelaksanaan konferensi kasus sesuai kebutuhan anak sekolah, menetapkan penyedia pelayanan untuk anak usia sekolah.

  • Case finder

Mengembangkan tanda dan gejala kesehatan yang terjadi pada agregat anak usia sekolah, menggunakan proses diagnostik untuk mengidentifikasi potensial kasus penyakit dan risiko pada anak usia sekolah.

  • Case manager

Mengidentifikasi kebutuhan anak usia sekolah, merancang rencana perawatan untuk memenuhi kebutuhan anak usia sekolah, mengawasi pelaksanaan pelayanan dan mengevaluasi dampak pelayanan.

  •  Pendidik

Mengembangkan rencana pendidikan kepada keluarga dengan anak usia sekolah di masyarakat dan anak usia sekolah di institusi formal, memberikan pendidikan kesehatan sesuai kebutuhan, mengevaluasi dampak pendidikan kesehatan.

  • Konselor

Membantu anak usia sekolah mengidentifikasi masalah dan alternatif solusi, membantu anak usia sekolah mengevaluasi efek solusi dan pemecahan masalah.

  • Peneliti

Merancang riset terkait anak usia sekolah, mengaplikasikan hasil riset pada anak usia sekolah, mendesiminasikan hasil riset.

  • Care giver

Mengkaji status kesehatan komunitas anak usia sekolah, menetapkan diagnosa keperawatan, merencanakan intervensi keperawatan, melaksanakan rencana tindakan dan mengevaluasi hasil intervensi.

  1. Pembela

Memperoleh fakta terkait situasi yang dihadapi anak usia sekolah, menentukan kebutuhan advokasi, menyampaikan kasus anak usia sekolah terhadap pengambil keputusan, mempersiapkan anak usia sekolah untuk mandiri

b. REMAJA

Remaja atau adolesens adalah periode perkembangan selama di mana individu mengalami perubahan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa, biasanya antara usia 13-20 tahun. Batasan usia remaja menurut WHO adalah 12 s/d 24 th Namun jika pada usia remaja sudah menikah maka ia sudah tergolong dalam kelompok dewasa. Istilah adolesens biasanya menunjukkan maturasi psikologis individu, ketika pubertas menunjukan titik di mana reproduksi mungkin dapat terjadi. Perubahan hormonal pubertas mengakibatkan perubahan penampilan pada orang muda, dan perkembangan mental mengakibatkan kemampuan untuk menghipotesis dan berhadapan dengan abstraksi.

  1. Perkembangan
  2. Perkembangan Kognitif Remaja
  3. Abstrak (teoritis). Menghubungkan ide,pemikiran atau konsep pengertian guna menganalisa dan memecahkan masalah. Contoh pemecahan masalah abstrak ; aljabar.
  4. Idealistik. Berfikir secara ideal mengenai diri sendiri, orang lain maupun masalah social kemasyarakatan yang ditemui dalam hidupnya.
  5. Logika. Berfikir seperti seorang ilmuwan, membuat suatu perencanaan untukmemecahkan suatu masalah. Kemudian mereka menguji cara pemcahan secara runtut, tratur dan sistematis.
  6. Perkembangan Psikososial Remaja
  7. Menyesuaikan diri dengan perubahan fisiologis – psikologis
  8. Belajar bersosialisasi sebagai seorang laki-laki maupun wanita
  9. Memperoleh kebebasan secara emosional dari orang tua dan orang dewasa lain
  10. Remaja bertugas untuk menjadi warga negara yang bertanggung jawab.
  11. Memperoleh kemandirian dan kepastian secara ekonomis
  12. Perkembangan Identitas Diri
  13. Konsep diri
  14. Evaluasi diri
  15. Harga diri
  16. Efikasi diri
  17. Kepercayaan diri
  18. Tanggung jawab
  19. Komitmen
  20. Ketekunan
  21. Kemandirian
    1. Masalah Kesehatan Spesifik Pada Adolesens
  22. Kecelakaan tetap merupakan penyebab utama kematian pada adolesens (sekitar 70%). Kecelakaan kendaraan bermotor, yang merupakan penyebab umum terbanyak, mengakibatkan hamper setengah kematian pada usia 16 sampai 19 tahun (Edelmen da Mandel, 1994). Kecelakaan ini sering dikaitkan dengan intoksikasi alcohol atau penyalahgunaan obat.
  23. Penyalahgunaan zat merupakan kenyataan masalah utama bagi mereka yang bekerja dengan adolesens. Adolesens dapat menyakini bahwa zat yang merubah alam persaan menciptakan perasaan sejahtera atau membuktika tingkat penampilan. Semua adolesensberada pada risiko penggunaan zat untuk eksperimental atau kebiasaan atau berasal dari keluarga yang tidak stabil lebih berisiko terhadap penggunaan kronik dan ketergantungan fisik. Beberapa adolesens percaya bahwa penggunaan zat membuat mereka lebih matur.
  24. Bunuh diri merupakan penyebab utama kemtian ketiga pad adolesens usia antara 15 dan 24 tahun (Hawton, 1990); kecelakaan dan pembunuhan merupakan penyebab utama. Depresi dan isolasi social biasanya mendahului usha diri, tetapi bunuh diri mungkin juga sebagai akibat dari kombinasi beberapa factor.

Penyakit menular seksual dialami sekitar 10 juta orang per tahun di bawah usia 25 tahun. Tingkat insiden tertinggi mengharuskan adolesens yang aktif seksual dilakukan skrining terhadap PMS, meskipun mereka tidak menunjukan gejala. Kehamilan remaja merupakan kejadian umum di Amerika Serikat; 1 dari setiap 10 wanita dibawah usia 20 tahun mengalami kehamilan, dan banyak yang memilih untuk memelihara bayinya sendiri. Kehamilan tidak memiliki risiko fisik pada ibu yang masih remaja kecuali mereka dibawah usia 16 tahun atau tidak menerima perawatan prenatal.

  • Pengertian Obesitas

Obesitas atau kegemukan didefinisikan sebagai kelebihan akumulasi lemak tubuh sedikitnya 20 % dari berat rata-rata untuk usia, jenis kelamin dan tinggi badan. Prognosis umum untuk peningkatan dan mempertahankan penurunan berat badan buruk. Namun keinginan untuk pola hidup lebih sehat dan penurunan faktor resiko sehubungan dengan ancaman penyakit terhadap hidup memotivasi beberapa orang mengikuti diet dan program penurunan berat badan.

  1. Klasifikasi

Obesitas digolongkan menjadi 3 kelompok:

  1. Obesitas ringan : kelebihan berat badan 20-40%
    1. Obesitas sedang : kelebihan berat badan 41-100%
    1. Obesitas berat : kelebihan berat badan >100% (Obesitas berat ditemukan sebanyak 5% dari antara orang-orang yang gemuk)

Indeks Massa Tubuh (Body Mass Index, BMI)

BMIKlasifikasi
< 18.5berat badan di bawah normal
18.5–24.9Normal
25.0–29.9normal tinggi
30.0–34.9Obesitas tingkat 1
35.0–39.9Obesitas tingkat 2
≥ 40.0Obesitas tingkat 3

BMI merupakan suatu pengukuran yang menghubungkan (membandingkan) berat badan dengan tinggi badan.

  • Dengan Rumus:

Satuan Metrik menurut sistem satuan internasional : BMI = kilogram / meter2 Rumus : BMI = b / t2 dimana b adalah berat badan dalam satuan metrik kilogram dant adalah tinggi badan dalam meter.

  • Komplikasi

Seorang obesitas menghadapi risiko masalah kesehatan yang berat, antara lain:

  1. Hipertensi.

Penambahan jaringan lemak meningkatkan aliran darah. Peningkatan kadar insulin berkaitan dengan retensi garam dan air yang meningkatkan volum darah. Laju jantung meningkat dan kapasitas pembuluh darah mengangkut darah berkurang.Semuanya dapat menungkatkan tekanan darah.

  • Diabetes.

Obesitas merupakan penyebab utama DM t2.Lemak berlebih menyebabkan resistensi insulin, dan hiperglikemia berpengaruh negatif terhadap kesehatan.

  • Dislipidemia.

Terdapat peningkatan kadar low-density lipoprotein cholesterol (jahat), penurunan kadar high-density lipoprotein cholesterol (baik) dan peningkatan kadar trigliserida. Dispilidemia berisiko terbentunya aterosklerosis.

  • Penyakit jantung koroner dan Stroke

Penyakit-penyakit ini merupakan penyakit kardiovaskular akibat aterosklerosis.

  • Osteoartritis.

Morbid obesity memperberat beban pada sendi-sendi.

  • Apnea tidur.

Obesitas menyebabkan saluran napas yang menyempit yang selanjutnya menyebabkan henti napas sesaat sewaktu tidur dan mendengkur berat.

  • Asthma

Anak dengan BBL atau obes cenderung lebih banyak mengalami serangan asma atau pembatasan keaktifan fisik.

  • Kanker

Banyak jenis kanker yang berkaitan dengan BBL misalnya pada perempuan kanker payudara, uterus, serviks, ovarium dan kandung empedu; pada lelaki kanker kolon, rektum dan prostat.

  1. Penyakit perlemakan hati

Baik peminum alkohol maupun bukan dapat mengidap penyakit perlemakan hati (non alcoholic fatty liver disease = NAFLD) atau non alcoholic steatohepatitis (NASH) yang dapat berkembang menjadi sirosis.

  • Penyakit kandung empadu

Orang dengan BBL dapat menghasilkan banyak kolesterol yang berisiko batu kandung empedu.

  • Etiologi

Obesitas dapat di sebabkan oleh beberapa faktor antara lain , keturunan,pola makan, obat-obatan,psikososial ekonomi, aktivitas, pola pikir dan konsentrasi intake makanan

  • Manifestasi klinis

Obesitas dapat terjadi pada semua golongan umur, akan tetapi pada anak biasanya timbul menjelang remaja dan dalam masa remaja terutama anak wanita, selain berat badan meningkat dengan pesat, juga pertumbuhan dan perkembangan lebih cepat (ternyata jika periksa usia tulangnya), sehingga pada akhirnya remaja yang cepat tumbuh dan matang itu akan mempunyai tinggi badan yang relative rendah dibandingkan dengan anak yang sebayanya.

Bentuk tubuh, penampilan dan raut muka penderita obesitas :

  1. Paha tampak besar, terutama pada bagian proximal, tangan relatif kecil dengan jari – jari yang berbentuk runcing.
    1. Kelainan emosi raut muka, hidung dan mulut relatif tampak kecil dengan dagu yang berbentuk ganda.
    1. Dada dan payudara membesar, bentuk payudara mirip dengan payudara yang telah tumbuh pada anak pria keadaan demikian menimbulkan perasaan yang kurang menyenangkan.
    1. Abdomen, membuncit dan menggantung serupa dengan bentuk bandul lonceng, kadang – kadang terdapat strie putih atau ungu.
    1. Lengan atas membesar, pada pembesaran lengan atas ditemukan biasanya pada biseb dan trisebnya

Pada penderita sering ditemukan gejala gangguan emosi yang mungkin merupakan penyebab atau keadaan dari obesitas.

Penimbunan lemak yang berlebihan dibawah diafragma dan di dalam dinding dada bisa menekan paru – paru, sehingga timbul gangguan pernafasan dan sesak nafas, meskipun penderita hanya melakukan aktivitas yang ringan.Gangguan pernafasan bisa terjadi pada saat tidur dan menyebabkan terhentinya pernafasan untuk sementara waktu (tidur apneu), sehingga pada siang hari penderita sering merasa ngantuk.

Obesitas bisa menyebabkan berbagai masalah ortopedik, termasuk nyeri punggung bawah dan memperburuk osteoartritis (terutama di daerah pinggul, lutut dan pergelangan kaki).Juga kadang sering ditemukan kelainan kulit.Seseorang yang menderita obesitas memiliki permukaan tubuh yang relatif lebih sempit dibandingkan dengan berat badannya, sehingga panas tubuh tidak dapat dibuang secara efisien dan mengeluarkan keringat yang lebih banyak.Sering ditemukan edema (pembengkakan akibat penimbunan sejumlah cairan) di daerah tungkai dan pergelangan kaki.

  • Patofisiologi pada obesitas

Makanan yang adekuat, yang di sertai dengan ketidak seimbangan antara intake dan out put yang keluar – masuk dalam tubuh akan menyebabkan akumulasi timbunan lemak pada jaringan adiposa khususnya jaringan subkutan. Apabila hal ini terjadi akan timbul berbagai masalah, diantaranya

Timbunan lemak pada area abdomen yang emnyebabkan tekanan pada otot-otot diagfragma meningkat sehingga menggagu jalan nafas , BB yang berlebihan menyebabkan aktifitas yang terganggu sehingga mobilitas gerak terbatasi dan timbul perasaan tidak nyaman, obat-obatan golongan steroid yang memicu nafsu makan tidak terkontrol mengakibatkan perubahan nutrisi yang berlebih, dan krisis kepercayaan diri karena timbunan lemak pada tubuh telah mengubah bentuk badannya.

  • Penatalaksanaan

Penatalaksanaan Obesitas dianjurkan agar melalui banyak cara secara bersama-sama. Terdapat banyak pilihan antara lain:

  1. Gaya hidup

Perubahan perilaku dan pengaturan makan.Prinsipnya mengurangi asupan kalori dan meningkatkan keaktifan fisik, dikombinasikan dengan perubahan perilaku.Kata pepatah Cina kuno “makan malam sedikit akan membuat Anda hidup sampai sembilan puluh sembilan tahun”.Pertama usahakan mencapai dan mempertahankan BB yang sehat.

  • Bedah bariatrik

Di Amerika Serikat cara ini dianjurkan bagi mereka dengan IMT 40 kg/m2 atau IMT 35,0-39,9 kg/m2 disertai penyakit kardiopulmonar, DM t2, atau gangguan gaya hidup dan telah gagal mencapai penurunan BB yang cukup dengan cara non-bedah. (NIH Consensus Development Panel pada tahun 1991).

  • Obat-obat anti obesitas

Ada obat yang mempunyai kerja anoreksian (meningkatkan satiation, menurunkan selera makan, atau satiety, meningkatkan rasa kenyang, atau keduanya), contohnya Phentermin.Obat ini hanya dibolehkan untuk jangka pendek.

  • Balon Intragastrik

Balon Intragastrik adalah kantung poliuretan lunak yang dipasang ke dalam lambung untuk mengurangi ruang yang tersedia untuk makanan.

  • Pintasan Usus

Pintasan usus meliputi penurunan berat badan dengan cara malabsorbsi. Tindakan ini kadang-kadang dilakukan dengan diversi biliopankreatik, yang memerlukan reseksi parsial lambung dan eksisi kandung empedu dengan transeksi jejunum .jejunum proksimal dianastomosiskan (dihubungkan melalui pembedahan) ke ilium distal, dan jejunum distal dianastomosiskan ke bagian sisa dari lambung.

  • Pemeriksaan Diagnostik
    • Pemeriksaan metabolik atau endorin : Dapat menyatakan ketidaknormalan misalnya hipotiroidisme, hipogonadisme, peningkatan pada insulin, hiperglikemi.
    • Pemeriksaan antropometrik : Dapat memperkirakan rasio lemak dan otot.
  • Konsep Asuhan Keperawatan
    • Pengkajian
      • Identitas Pasien

Identitas klien Nama, umur, jenis kelamin, status perkawinan, agama, suku/bangsa, pendidikan, pekerjaan, pendapatan, alamat, dan nomor register.

  • Riwayat kesehatan
  • Riwayat Kesehatan sekarang : keluhan pasien saat ini
  • Riwayat Kesehatan masa lalu : kaji apakah ada keluarga dari pasien yang pernah menderita obesitas
  • Riwayat kesehatan keluarga : kaji apakah ada ada di antara keluarga yang mengalami penyakit serupa atau memicu
  • Riwayat psikososial,spiritual : kaji kemampuan interaksi sosial , ketaatan beribadah, kepercayaan
    • Pemerikasaan fisik :
  • Sistem kardiovaskuler : Untuk mengetahui tanda-tanda vital, ada tidaknya distensi vena jugularis, pucat, edema, dan kelainan bunyi jantung.
  • Sistem respirasi : untuk mengetahui ada tidaknya gangguan kesulitan napas
  • Sistem hematologi : Untuk mengetahui ada tidaknya peningkatan leukosit yang merupakan tanda adanya infeksi dan pendarahan, mimisan.
  • Sistem urogenital : Ada tidaknya ketegangan kandung kemih dan keluhan sakit pinggang.
  • Sistem muskuloskeletal : Untuk mengetahui ada tidaknya kesulitan dalam pergerakkan, sakit pada tulang, sendi dan terdapat fraktur atau tidak.
  • Sistem kekebalan tubuh : Untuk mengetahui ada tidaknya pembesaran kelenjar getah bening.
  • Pemeriksaan penunjang :

Pemeriksaan metabolik / endokrin dapat menyatakan tak normal, misal : hipotiroidisme, hipopituitarisme, hipogonadisme, sindrom cushing (peningkatan kadar insulin)

  • Pola fungsi kesehatan
    • Aktivitas istirahat

Kelemahan dan cenderung mengantuk, ketidakmampuan / kurang keinginan untuk beraktifitas.

  • Sirkulasi

Pola hidup mempengaruhi pilihan makan, dengan makan akan dapat  menghilangkan perasaan tidak senang : frustasi

  • Makanan / cairan

Mencerna makanan berlebihan

  • Kenyamanan

Pasien obesitas akan merasakan ketidaknyamanan berupa nyeri dalam menopang berat badan atau tulang belakang

  • Pernafasan

Pasien obesitas biasanya mengalami dipsnea

  • Seksualitas

Pasien dengan obesitas biasanya mengalami gangguan menstruasi dan amenouria

  • Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul
    • Perubahan nutrisi lebih dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan intake makanan yang lebih
    • Gangguan pencitraan diri yang berhubungan dengan  biofisika atau psikosial pandangan px tehadap diri
    • Hambatan interaksi sosial yang berhubungan dengan ungkapan atau tampak tidak nyaman dalam situasi sosial
    • Pola napas tak efektif yang berhubungan dengan penurunan ekspansi paru, nyeri , ansietas , kelemahan dan obstruksi trakeobronkial
  • Perencanaan

Setelah pengumpulan data, megelompokkan dan menentukan diagnosa keoerawatan yang mungkin muncul, maka tahapan selanjutnya adalah menentukkan prioritas, tujuan dan rencana tindakkan keperawatan.

Diagnosa 1

  1. Perubahan nutrisi: lebih dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan intake makanan yang lebih

Tujuan :

Kebutuhan nutrisi kembali normal

Kriteria hasil :

Perubahan pola makan dan keterlibatan individu dalam program latihan

Menunjukan penurunan berat badan

Intervensi :

  1. Kaji penyebab kegemukan dan buat rencana makan dengan pasien
    1. Timbang berat badan secara periodik
    1. Tentukan tingkat aktivitas dan rencana program latihan diet
    1. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentujan keb kalori dan nutrisi untuk penurunan berat badan
    1. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat penekan nafsu makan (ex.dietilpropinion)

Rasional :

  1. Mengidentifikasi / mempengaruhi penentuan intervensi
    1. Memberikan informasi tentang keefektifan program
    1. Mendorong px untuk menyusun tujuan lebih nyata dan sesuai dg rencana
    1. Kalori dan nurtisi terpenuhi secara normal
    1. Penurunan berat badan

Diagnosa 2

Gangguan pencitraan diri b.d biofisika atau psikosial pandangan px tehadap diri.

Tujuan :

Menyatakan gambaran diri lebih nyata

Kriterian hasil :

Menunjukkan beberapa penerimaan diri dari pandangan idealisme

Mengakui indiviu yang mempunyai tanggung jawab sendiri

Intervensi :

  1. Beri privasi kepada px selama perawatan
  2. Diskusikan dengan px tentang pandangan menjadi gemuk dan apa artinya bagi px trsebut
  3. Waspadai mitos px / orang terdekat
  4. Tingkatkan komunikasi terbuka dengan px untuk menghondari kritik
  5. Waspadai makan berlebih
  6. Kolaborasi dengan kelompok terapi

Rasional :

  1. Individu biasanya sensitif terhadap tubuhnya sendiri
  2. Pasien mengungkapkan beban psikologisnya
  3. Keyakinan tentang seperti apa tubuh yang ideal atau motifasi dapat menjadi upaya penurunan berat badan
  4. Meningkatkan rasa kontrol dan meningkatkan rasa ingin menyelesaikan masalahnya
  5. Pola makan terjaga
  6. Kelompok terapi dapat memberikan teman dan motifasi

Diagnosa 3

Hambatan interaksi sosial b.d ungkapan atau tampak tidak nyaman dalam situasi sosial

Tujuan :

Mengungkapkan kesadaran adanya perasaan yang menyebabkan interaksi sosial yang buruk

Kriteria hasil :

Menunjikan peningkatan perubahan positif dalam perilaku sosial dan interpersonal

Intervensi :

  1. Kaji perilaku hubungan keluarga dan perilaku sosial
  2. Kaji penggunaan ketrampilan koping pasien
  3. Rujuk untuk terapi keluarga atau individu sesuai dengan indikasi

Rasional :

  1. Keluarga dapat membantu merubah perilaku sosial pasien
  2. Mekanisme koping yang baik dapat melindungi pasien dari perasaan kesepian isolasi
  3. Pasien mendapat keuntungan dari keterlibatan orang terdekat untuk memberi dukungan

Diagnosa 4

Pola napas tak efektif yang berhubungan dengan penurunan ekspansi paru, nyeri , ansietas , kelemahan dan obstruksi trakeobronkial

Tujuan :

Mengembalikan pola napas normal

Kriteria hasil :

  1. Mempertahankan ventilasi yang adekuat
  2. Tidak mengalami sianosis atau tanda hipoksia lain

Intervensi :

  1. Awasi, auskultasi bunyi napas
  2. Tinggikan kepala tempat tidur 30 derajat
  3. Bantu lakukan napas dalam, batuk menekan insisi
  4. Ubah posisi secara periodik
  5. Berikan O2 tambahan / alat pernapasan lain

Rasional :

  1. Peranapasan mengorok/ pengaruh anastesi menurunkan ventilasi, potensial atelektasis, hipoksia.
  2. Mendorong pengembangan diafragma sehingga ekspansi paru optimal, pasien lebih nyaman.
  3. Ekspansi paru maksimal, pembersihan jalan  napas, resiko atelektasis minimal.
  4. Memaksimalkan sediaan O2 untuk pertukaran dan penurunan kerja napas.

BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN OBESITAS

  1. Pengkajian

Identitas

Nama                             : Nn. M

Jenis Kelamin                : Perempuan

Dignosa medis               : Obesitas berat

Umur                             : 19 tahun

Tinggi badan                  : 156 cm

Berat badan                   : 120 kg

Pendidikan                    : Mahasiswi

Pekerjaan                       : –

Alamat                           : Pidie

  1. Riwayat Kesehatan

Keluhan utama

Pasien mengatakan susah sekali berdiri sehabis duduk dari lantai.

  • Riwayat Kesehatan Sekarang

Pasien tidak mengalami keluhan apa-apa selain merasakan berat badannya semakin bertambah, disamping itu pasien mengalami kesusahan untuk berdiri sehabis duduk dari lantai.

  • Riwayat Kesehatan Dahulu

Sebelumnya pasien memiliki berat badan yang normal tapi setelah 2 tahun kemudian berat badan pasien mengalami perubahan, itu terjadi saat pasien beranjak kelas 2 SMA.

  • Riwayat Kesehatan Keluarga

Keluarga pasien tidak ada yang mengalami obesitas.

  • Riwayat Psiko-Sosial-Spiritual
  • Psikologi pasien

Pasien dapat menerima dengan keadaan yang dialami sekarang dan merasa enjoy atas apa yang dianugerahkan meski terkadang merasa minder.

  • Sosial

Pasien berinteraksi dan bergaul dengan lingkungannya dengan baik dapat menerima dan diterima oleh orang lain.

  • Spiritual

Dalam kondisi dengan badan yang berlebih pasien masih tetap aktif menjalankan ibadah.

Pemeriksaan fisik

  1. Vital sign

Tekanan darah               : 130/80 mmHg

Pernafasan                     : 24 x/menit

Nadi                               : 85 x/menit

Suhu                              : 370C

  • Keadaan umum     : Baik
    • Pemeriksaan Head to Toe

Kulit               :  Inspeksi (warna kulit sawo matang)

   Palpasi (turgor normal < 3 dtik)

Kepala            :  Inspeksi (kulit kepala bersih, bulat sempurna,

   rambut    panjang lurus, tidak ada benjolan atau lesi)

   Palpasi (tidak ada benjolan)

Telinga            : Inspeksi (normal tidak ada lesi, bersih tidak ada serumen)

  Palpasi (normal tidak ada lipatan)

Mata               : Inspeksi (bulat besar, bersih tidak cowong)

Mulut              : Inspeksi (bersih, lembab, gigi normal)

Dada               : Inspeksi (bentuk dada simetris/normal)

  Palpasi (tidak ada benjolan atau lesi)

  Perkusi (terdengar bunyi sonor paru, tidak ada benjolan atau     

  lesi)

  Auskultasi (terdengar bunyi sonor paru, tidak ada suara   

  tambahan)

Abdomen        :  Inpeksi (buncit terdapat lipatan)

·                  Pola Fungsi Kesehatan

  1. Pola Nutrisi
    1. Kebiasaan sehari-hari

Pasien makan 3x sehari dengan porsi biasa

  • Saat sekarang

Pasien makan lebih dari 3x sehari dengan porsi banyak dan kadang-kadang ditambah dengan makanan ringan, pasien selalu ingin ngemil.

  • Pola Eliminasi
    • Kebiasaan sehari-hari

Pasien BAB dan BAK normal

  • Saat sekarang

Pasien BAB dan BAK normal

  • Pola Istirahat-Tidur
    • Pasien tidur pada jam-jam istirahat
    • Sesudah mengalami obesitas pasien lebih sering mengantuk dan memperbanyak tidurnya.
    • Pola Aktivitas
      • Kebiasaan sehari-hari

Pasien dalam menjalankan aktivitas tidak mengalami keluhan / hambatan.

  • Saat sekarang

Pasien mengalami hambatan, cepat capek dan lelah, malas dengan berat badan yang berlebihan.

Pengkajian Psiko-Sosial-Spiritual

  1. Psikologi pasien

Pasien dapat menerima dengan keadaan yang dialami sekarang dan merasa enjoy atas apa yang dianugerahkan meski terkadang merasa minder.

  • Sosial

Pasien berinteraksi dan bergaul dengan lingkungannya dengan baik dapat menerima dan diterima oleh orang lain.

  • Spiritual

Dalam kondisi dengan badan yang berlebih pasien masih tetap aktif menjalankan ibadah.

  • Analisa Data

Data Fokus

DS         : Pasien mengatakan terkadang tidak nyaman dengan berat badan yang dimilikinya.

DO        :

  • Pasien tampak terganggu dalam melaksanakan aktivitas karena berat badannya
    • Pasien sering kali kesusahan berdiri sehabis duduk dari lantai
SymptomEtiologiProblem
a.  DS :Pasien mengatakan terkadang merasa kurang nyaman dengan berat badan yang dimilikinya DO : Pasien tampak kesusahan dalam beraktivitas karena barat badannya.   b.   DS : Pasien mengatakan kurang percaya diri jika berinteraksi / bersosialisasi dengan orang lain DO: Pasien kelihatan minder saat berkomunikasi dan bergaul dengan temannya.Berat badan yang berlebihan           Harga diri rendahGangguan dalam beraktivitas           Gangguan dalam bersosialisasi dengan orang lain dan pandangan negatif terhadap diri
  • Diagnosa Keperawatan
  • Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan berat badan yang ditandai dengan kesusahan dalam beraktivitas.
  • Resiko terhadap kerusakan interaksi social yang berhubungan dengan ketidakmampuan untuk mempertahankan hubungan akibat perasaan malu dan respon negatif dari orang lain.
  • Perencanaan Keperawatan
No. Dx KepTujuanIntervensiRasional
1                                           2Setelah dilakukan perawatan dan penyuluhan 2×24 jam pasien diharapkan mampu melaksanakan diet dengan criteria hasil : – Menunjukkan perubahan pola makan dan keterlibatan individu dalam program latihan –   – Menunjukkan penurunan BB dengan pemeliharaan kesehatan optimal               Setelah dilakukan penyuluhan 2×24 jam pasien diharapkan mampu bersosialisasi dengan baik dengan kriteria hasil : –  – Menyatakan gambaran diri lebih nyata –  – Menunjukkan beberapa penerimaan diri aripada andangan idealisme –  – Mengakui diri sebagai individu yang mempunyai tanggung jawab sendiri–   – Diskusikan emosi / kejadian sehubungan dengan makan dan buat rencana makan dengan pasien. –   – Tekankan pentingnya menghindari diet berlemak dan diskusikan tambahan tujuan nyata untuk penurunan BB –   – Diskusikan dengan pasien pandangan menjadi gemuk dan apa artinya bagi individu   –   – Dorong pasien untuk mengeksprsikan perasaan dan persepsi masalah   –   – Bantu dalam mengidentifikasi tanggung jawab sendiri dan control pada situasi— Membantu mengidentifikasikan kapan pasien makan untuk memuaskan kebutuhan emosi daripada lapr fisiologi — Hilangkan kebutuhan komponen yang dapat menimbulkan ketidakseimbangan metabolik ex : penurunan karbohidrat berlebih    – Pandangan mental termasuk ideal kita dan biasanya tidak terbaru, gemuk dapat mempunyai akar dalam psikologi.     — Membantu mengidentifikasi dan memperjelas alasan untuk kesulitan dalam berinteraksi dengan orang lain — Megidentifikasi masalah khusus dan menganjurkan tindakan yang dapat diambil untuk mempengaruhi perubahan
  • Pelaksanaan / Implementasi
No. DxTindakanRespon
1                           2a.  Memberikan penyuluhan dan nasehat kepada pasien agar melaksanakan diet teratur dan optimal b.  Menganjurkan kepada pasien untuk berkonsultasi kepada ahli diet           a.   Memberi semangat bahwa berat badan pasien masih bisa diturunkan b.  Memberi dukungan bahwa itu adalah anugerah dari Tuhan c.   Memberikan pengertian kalau hanya diri kitalah yang mampu merubah keadaan yang ada pada dari kita sendiria.  Pasien menerima tentang anjuran untuk menurunkan berat badannya dan berkeinginan diet secara teratur b.   Pasien masih tampak ragu untuk berkonsultasi dengan ahli diet karena belum yakin apakah BBnya bisa kembali normal a.  Pasien masih tampak ragu b.  Bisa menerima dan percaya bahwa itu adalah yang terbaik untuknya c.  Pasien tampak semangat dan optimis akan penurunan berat badannya   f.        

E.     EVALUASI

No. DxCatatan Perkembangan
1         2–  Pasien bias sedikit mengurangi porsi makanannya –   Pasien mampu meghindari makanan yang banyak mengandung lemak : gorengan   –   Pasien terkadang masih kurang percaya diri jika berkumpul dengan banyak orang –   Pasien mampu menerima dan menyadari bahwa berinteraksi dengan orang lain itu sangat penting

BAB IV

PENUTUP

  1. Simpulan

Komunitas dapat diartikan kumpulan orang pada wilayah tertentu dengan sistem sosial tertentu. Komunitas meliputi individu, keluarga, kelompok/agregat dan masyarakat.

Dalam memberikan asuhan keperawatan pada agregat anak usia sekolah dan remaja menggunakan pendekatan Community as partner model. Klien (anak usia sekolah) dan remaja digambarkan sebagai inti (core) mencakup sejarah, demografi, suku bangsa, nilai dan keyakinan dengan 8 (delapan) subsistem yang saling mempengaruhi meliputi lingkungan fisik, pelayanan kesehatan dan sosial, ekonomi, keamanan dan transportasi, politik dan pemerintahan, komunikasi, pendidikan dan rekreasi.

Kegemukan (obesitas) didefinisikan sebagai kelebihan akumulasi lemak rubuh sedikitnya 25% dari berat rata-rata untuk usia., jenis kelamin, dan tinggi badan. Prognosis umum untuk peningkatan dan mempertahankan penurunan berat badan buruk.Namun, keinginan pola hidup lebih sehat Dn penurunan factor risiko sehubungan dengan ancaman penyakit terhadap hidup memotivasi beberapa orang untuk mengikuti diet dan program penurunan berat badan.Obesitas juga merupakan suatu keadaan patologis dengan terdapatnya penimbuan lemak yang berlebihan daripada yang diperlukan untuk fungsi tubuh. Masalah gizi karena kelebihan kalori biasanya disertai kelebihan lemak dan protein hewani, kelebihan serat dan mikro nutrien.

Obesitas terjadi karena adanya  kelebihan energi yang disimpan dalam bentuk jaringan lemak. Gangguan keseimbangan energi ini dapat disebabkan oleh faktor eksogen (obesitas primer) sebagai akibat nutrisional (90%) dan faktor endogen (obesitas sekunder) akibat adanya kelainan hormonal, sindrom atau defek genetik (meliputi 10%).

Faktor yang menentukan antara lain :

  1. Faktor Genetik
    1. Faktor Psikologis (gangguan emosi)
    1. Faktor Neurogenik ( gangguan hormon)
    1. Faktor Nutrisi
    1. Aktivitas fisik
  • Saran
  • Di dalam menentukan intervensi keperawatan telebih mengenai program diet, harus lebih banyak berdiskusi dengan klien.
  • Untuk klien dengan obesitas, harus lebih mengutamakan pengaturan pola makan yang baik untuk menghindari kemungkinan buruk yang bisa terjadi.
  • Dalam perawatan klien, sebaiknya banyak melibatkan orang terdekat klien, mulai dari keluarga,, mulai dari keluarga,abat samapi teman akrab klien.
  • Dibutuhkan peran serta orang tua, guru, dan anggota masyarakat untuk mendukung keberhasilan intervensi asuhan keperawatan pada komunitas anak usia sekolah dan reamaja

DAFTAR PUSTAKA

Kemenkes RI, (2015). Buletin data dan kesehatan :Situasi Diare diIndonesia,Jakarta :Kemenkes

Wong Donna L. (2018). Buku Ajaran Keperawatan Pediatrik. Vol 2. EGC : Jakarta

Ngastiyah. (2015). Perawatan Anak Sakit Edisi Dua. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta

Nurasalam (2017). Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Edisi2 Jakarta : Salemba

Medika.Hidayat A. A. A. (2016). Pengantar Ilmu Keperawatan Anak. Jakarta. Salemba Medika

Potter dan Perry. (2005). Fundamental Keperawatan edisi 4. Jakarta: EGC

Mansjoer, Arif., et all. (2016). Kapita Selekta Kedokteran. Fakultas Kedokteran UI : Media Aescullapius

Barbara C long.(2016). Perawatan Medical Bedah. Pajajaran Bandung Guytion & Hall, Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 9, Penerbit Buku Kedokteran EGC

JURNAL Efek Kondisi Kritis Pada Pasien dan Keluarga

ANALISIS JURNAL

  1. IDENTITAS JURNAL
  2. Nama Jurnal          : Husada Mahakam
  3. Volume                 : 03
  4. Nomor                   : 6
  5. Halaman                : 263 – 318
  6. Tahun Penerbit      : November 2013
  7. Judul Jurnal           : Efek Kondisi Kritis Pada Pasien dan Keluarga
  8. Nama Penulis        : Wardah
  • ABSTRAK JURNAL
  • Jumlah Paragraf    : 1 Paragraf
  • Halaman                : Setengah Halaman
  • Ukuran Spasi         : 1.0
  • Uraian Abstrak      : Keluarga merupakan bagian integral dari perawatan pasien dimana keluarga memberikan dukungan terbesar bagi pasien dalam proses penyembuhannya. Keluarga dengan anggota keluarga yang dirawat di ICU berada dalam kondisi penuh kekhawatiran terhadap keadaan dan prognosis pasien. Keluarga juga mengalami berbagai risiko gangguan kesehatan fisik dan mental baik selama bahkan setelah keluar  dari ICU. Efek kondisi kritis pada keluarga dapat  berupa kurang tidur, gangguan nafsu makan dan pencernaan, ketakutan, stress, kecemasan, depresi hingga post traumatic syndrome (PTSD). Dalam keadaan stresfull, keluarga membutuhkan   berbagai macam kebutuhan spesifik yang harus dipenuhi. Perawat sebagai pemberi asuhan keperawatan  harus memahami kondisi krisis yang di rasakan keluarga agar dapat menetapkan sebuah intervensi yang tepat. Peran parawat dalam memfasilitasi keluarga di area perawatan intensif dapat berupa Caring, advocator, pemberi informasi secara lisan disertai informasi tertulis dan edukasi.
  • Kata kunci : Keluarga, ICU, Kondisi Kritis. Kebutuhan Psikososial, Peran Perawat.
  • PENDAHULUAN JURNAL

Didalan pendahuluan jurnal penulis menggambarkan penulis menggambarkan area keperawatan kritis keterlibatan keluarga merupakan bagian integral dari perawatan pasien di ICU. Hal ini tergambar pada synergy model yang dikembangkan oleh American Association of Critical-Care Nurses (AACN) pada tahun 1992. (Alspach. 2006). Dalam model tersebut dijelas- kan bahwa kebutuhan dan karakteristik pasien dan keluarga akan mempengaruhi karekteristik serta kompetensi perawat. Ketika kebutuhan pasien dan keluarga ber sinergi dengan kompetensi perawat, maka out comes pasien dapat tercapai dengan optimal.

  • TUJUAN PENELITIAN
  • Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak kondisi kritis pada pasien dan keluarga pasien yang sedang dirawat di ruang intensif serta peran perawat dalam mengurangi dampak tersebut.
  • Mendeskripsikan dampak kondisi kritis pada pasien dan keluarga pasien
  • Mendeskripsikan Perawatan Intervensi bertujuan untuk meminimalkan gangguan psikologis seperti stress, kecemasan dan depresi yang nantinya dapat mengganggu fungsi keluarga dalam mensupport kesembuhan pasien.
  • METODE PENELITIAN

Jenis penelitian yang diguanakan oleh penulis adalah penelitian Kualitatif yaitu penelitian yang lebih memberikan tekanan makna berkaitan erat dengan nilai-nilai tertentu, lebih menekankan proses dari pada pengukuran, mendeskripsikan, menafsirkan dan memberikan makna dan tidak cukup dengan penjelasan belaka, dan memanfaatkan multi metode dalam penelitian serta mengumpulkan dan menganalisis artikel dan jurnal-jurnal terdahulu yang membahas tentang  keterlibatan, peran, dan efek kondisi kritis pada keluarga dengan pasien. ( Sutama, 2012: 61)

  • HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Secara keseluruhan didalam pembahasan penulis sudah bisa memberikan data sesuai dengan tujuan penelitian yang dikemukakan yaitu:

  1. Pada dasarnya penyakit kritis sering terjadi secara tiba-tiba, sehingga pasien ataupun keluarga tidak memiliki persiapan (Hughes,et al 2009). Ketidaksiapan keluarga dalam menghadapi kondisi tersebut dapat mempengaruhi kondisi fisik dan mentalnya.
  2. Mengenai kondisi fisik pada keluarga,studi yang dilakukan oleh Horn&Tesh (2000) tentang efek hospitalisasi pada keluarga pada lingkungan perawatan kritis di Inggris,  menyatakan  80%   responden (50 orang) dalam kondisi kurang tidur, 62 % penurunan nafsu makan, 42%  mengalami gangguan pencernaan dan ketidaknyamanan pada perut, 56% dalam kondisi sangat lelah. Sedangkan Day et al (2013) melakukan penelitian terhadap 98 responden di Kanada, didapatkan hasil berupa  faktor yang berkontribusi terhadap kurang tidur keluarga adalah kecemasan (43,6%), ketegangan (28,7%) dan ketakutan (24,5%).
  3. Kondisi  fisik yang dalam keadaan tidak stabil, kekhawatiran terhadap kondisi  pasien serta lingkungan perawatan ICU  membuat keluarga pasien rentan terhadap risiko gangguan psikologis  seperti stress, kecemasan hingga depresi baik selama bahkan setelah keluar dari area perawatan intensif. (Horn & Tesh .2000) 
  4. Mengenai gangguan kesehatan mental yang dialami keluarga, sebuah penelitian  yang di lakukan oleh Pochardet et.al ( 2005) melalui studi observasional yang melibatkan 544 anggota keluarga di Prancis menemukan bahwa diawal mulainya perawatan 69% keluarga pasien di ICU mengalami kecemasan, 35% mengalami depresi.  Gangguan kesehatan mental ini tidak hanya   saat keluarga berada di lingkungan ICU saja, namun akan berlanjut setelah keluar di lingkungan ICU, hal ini di jelaskan oleh penelitian yang dilakukan Anderson dkk (2008) dengan tekhnik wawancara  terhadap masalah gangguan kese-hatan mental pada keluarga di saat ataupun setelah pasien di rawat di ruang intensif, didapatkan hasil pasca 1 bulan merawat anggota keluarga di ICU 42%  mangalami kecemasan, 16% mengalami depresi, dan setelah 6 bulan  kemudian 35% dari peserta memiliki stress pasca trauma, 38% reaksi berduka dan 46% mengalami berduka yang berkepanjangan. Perasaan cemas  dan depresi yang di rasakan anggota keluarga di ICU dapat berkembang menjadi post traumatic stress terkait dengan pengalaman ICU setelah pemulangan atau bahkan ke- matian pasien. Kondisi mental keluarga secara tidak langsung akan mempengaruhi kemampuan keluarga dalam memberikan dukungan terhadap pasien.
  5. Penelitian lain dari Pochard (2001), menemukan bahwa kemampuan keluarga dalam memberikan dukungan psikologis kepada pasien dipengaruhi beberapa faktor, salah satunya adalah kondisi keluarga.

Kondisi kesehatan  yang terganggu pada keluarga selain menyebabkan dukungan dan pengambilan keputusan yang tidak maksimal, kondisi psikologis keluarga yang tidak stabil  juga dapat mengganggu proses komunikasi keluarga.  Keadaan cemas dan depresi akan mempengaruhi kemampuan keluarga untuk menerima dan mengolah informasi yang telah diberikan (Leske 2002) oleh karena itu dibutuhkan pemberian informasi berulang dari perawat dan tim kesehatan lainnya (Horn & Kautz, 2007).

Pemberian informasi secara khusus ini bertujuan agar keluarga memahami informasi yang diberikan secara keseluruhan. Akerlof (1997) dalam Blanchard & Alavi, (2008) menyatakan kurangnya pengetahuan serta informasi yang tidak lengkap dapat mengacu kepada ketidakharmonisan hubungan keluarga dan tenaga kesehatan Kebutuhan Informasi yang tidak terpenuhi dengan baik akan mempengaruhi respon keluarga terhadap perawatan yang dilakukan.

Defisit komunikasi, informasi yang kontradiktif, dan kurangnya dukungan akan menyebabkan kondisi stress, frustasi, depresi dan ketidakpuasan pada anggota keluarga (Kirchhoff et al 2002, Pochard et al, 2006,  Bailey et al, 2010).  Adanya perasaan diabaikan,  ketidakjelasan kondisi pasien akibat kurangnya pemahaman atas informasi yang diberikan dan kebutuhan fisiologis yang tidak terpenuhi secara sempurna akan memicu ekspresi emosional sebagai respon stress dari keluarga (Horn & Tesh:2000). Hal ini dapat muncul dalam bentuk perilaku ketidakpercayaan terhadap staf kesehatan, ketidakpatuhan terhadap pengobatan, kemarahan dan ketidakpuasan terhadap layanan bahkan berakhir dengan tuntutan hukum (Leske, 2002 )  Dalam pemberian informasi sangat di sarankan disertai dengan informasi tertulis.Penggunaan informasi tertulis sebagai sarana komunikasi tambahan telah di kaji dalam beberapa literatur.

Moult.B (2004) menyatakan pasien dan keluarga mungkin akan melupakan setengah dari informasi dalam waktu lima menit setelah dilakukan konsultasi kesehatan, dan hanya mengingat 20% dari keseluruhan informasi yang diberikan. Macfarlaneetal (2002) menyatakan bahwa penyimpanan informasi  dapat di tingkatkan hingga 50% dengan pemberian informasi secara tertulis.  Menurut  National Health Sevice (NHS) di Inggris pemberian informasi secara tertulis bertujuan untuk menyediakan informasi secara bebas kepada pasien, keluarga ataupun orang yang bertanggung jawab terhadap pasien, yang memudahkanmereka membuat pilihan dan memberikan informed consent.

  • KESIMPULAN

Di kesimpulan penulis menguraikan kesimpulannya yang objektif secara pribadi dengan melihat subjek yang telah diamati. Berikut uraian Kesimpulan penulis : Keluarga  pasien yang di rawat di perawatan intensif  merupakan bagian dari intervensi keperawatan. Intervensi tersebut bertujuan untuk meminimalkan gangguan psikologis seperti stress, kecemasan dan depresi yang nantinya dapat mengganggu fungsi keluarga dalam mensupport kesembuhan pasien. Pemenuhan kebutuhan informasi adalah salah satu bentuk intervensi yang dapat  mengurangi kecemasan keluarga, dan modifikasi  cara pemberian dengan menggunakan media tertulis telah terbukti memberikan hasil yang lebih maksimal.

  • KELEBIHAN DAN KEKURANGAN
  • Kelebihan

Secara keseluruhan jurnal memiliki kelebihan yang menonjol, jika dilihat dari abstraknya penulis sudah menggunakan abstrak dengan format Bahasa Indonesia. Kelebihan yang lain adalah dilihat dari metode penelitian yang digunakan yaitu kualitatif menyajikan sebuah data dengan sangat valid dan dapat dipertanggung jawabkan.

  • Kekurangan

Terlepas dari kelebihan yang dimilki jurnal ini tentunya ada satu kekurangan yang mengurangi nilai kesempurnaan dari jurnal ini yaitu, Tahun Referensi jurnal yang sudah terdahulu sehingga perlu dilakukannya penelitian kembali dikemudian hari.

  1. REFERENSI

Alspach, JG (2006) Core Curriculum for Critical care Nursing. Sixth Edition. Saunders.Elsevier. ISBN13:978-0-7216-0450-3

Auerbach,S.M., Kiesler, D.J., Wartella, J.Rausch,S.,Ward,K.R.,Ivatury,R (2005) Optimism, satisfaction with  needs met, interpersonal perceptions of the healthcare team,and emotional distress in patients’ family members during critical care hospitalization. American Journal of Critical care; May.Vol:14 No:3.

Azoulay, E., Pochard, F., Chevret, S.,Jourdain, M., Bornstain, C., Wernet, A. et al (2002).  Impact of a family information leaflet on effectiveness of  information  provided to family members of intensive care unit patients. Am J Respir Crit Care Med Vol 165.pp 438-442.

Bailey. JJ., Sabagh, M & McVey, L. (2010). Supporting families in the ICU: A descriptive correlational study of informational support, anxiety, and satisfaction with care.Intensive and Critical Care Nursing, 26.

Bijttebier, P., Vanoost, S., Delva, D., Ferdinande, P., Frans, E. (2001) Needs of relatives of critical care patients: perceptionsof relatives, physicians and nurses. Intensive  Care Med.27

Bishop,S.M.,Walker,M.D.,Spivak,M.(2013)Family Presence In The Adult Burn Intensive Care Unit During Dressing Changes.Crit Care Nurse:33:14-24.

Blanchard, D. & Alavi, C., (2008) Asymmetry  In The Intensive Care Unit: Redressing Imbalance And Meeting The Needs Of Family. Journal Compilation. British  Association of Critical care Nurses, nursing in critical care.Vol:13 No:5

AKHLAK SISWA KEPADA SEORANG GURU

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Akhlak merupakan sesuatu yang sangat penting bagi umat Islam, karena diutusnya Rasulullah saw di muka bumi ini tidak lain adalah untuk menyempurnakan umatnya, dan salah satu akhlak yang terbaik adalah akhlak Rasulullah, karena Al Qur’an adalah salah satu cerminan akhlak Rasulullah saw. Jadi kita sebagai umat Islam sangat dianjurkan untuk berakhlak sesuai apa yang di contohkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabat serta generasi penerusnya, berdasarkan pemahaman yang lurus/ benar. Baik di lingkungan masyarakat, keluarga, dan kampus. Mengingat dewasa ini telah terjadi degradasi/menurunnya moral umat manusia yang sepertinya tidak enggan lagi melakukan perbuatan/ perilaku dan penampilan yang tidak mencerminkan akhlak terpuji, khususnya akhlak di kampus. Oleh sebab itu, diperlukan pemahaman-pemahaman akhlak di kampus menurut agama, etika, dan budaya yang bertujuan untuk membentengi atau langkah pencegahan mahasiswa/ mahasiswi Islam agar tidak melakukan perbuatan-perbuatan atau penampilan yang tidak mencerminkan akhlakul karimah.

  • Rumusan Masalah
    • Bagaimana akhlak kepada guru menurut agama ?
    • Bagaimana akhlak kepada guru menurut etika ?
  • Tujuan Makalah

Tujuan penulisan makalah ini adalah, untuk memenuhi tugas Akhlak, selain itu juga untuk menambah wawasan penulis serta pembaca lebih mendalam lagi sebagian tentang bagaimana akhlak kepada guru atau dosen menurut agama dan etika.

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Pengertian  Akhlak

Secara etimologi kata akhlak berasal dari bahasa Arab Akhlaq atau khuluq. Kata Khuluq mempunyai bermacam-macam arti, tergantung pada mashdar yang digunakan. Dalam bahasan kali ini diartikan sebagai budi pekerti, perangai, tingkah laku, atau tabi’at. Oleh karena itu, Al khuluq itu sifatnya diciptakan oleh si pelaku itu sendiri, dan ini bisa bernilai baik (ahsan) dan buruk (qabih) tergantung pada sifat perbuatan itu. Kemudian Al Khuluq itu bisa dianggap baik dengan syarat memenuhi aturan-aturan agama. Sifat Al Khuluq itu tidak hanya mengacu pada pola hubungan kepada Allah, namun juga mengacu pada pola hubungan dengan sesama manusia serta makhluk lainnya. Sedangkan pengertian akhlak secara terminologi (istilah) adalah suatu sifat yag tertanam dalam jiwa yang dari padanya tergantung perbuatan-perbuatan dengan mudah dan gampang tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.

Akhlak merupakan manifestasi iman, Islam, dan Ihsan yag merupakan refleksi sifat dan jiwa secara spontan yang terpola pada diri seseorang sehingga dapat melahirkan perilaku secara konsisten dan tidak tergantung pada pertimbangan berdasar interes tertentu.

  • Akhlak Kepada Guru atau dosen Menurut Agama

Guru adalah orang tua kedua, yaitu orang yang mendidik murid-muridnya untuk menjadi lebih baik sebagaimana yang diridhoi Allah ‘azza wa jalla. Sebagaimana wajib hukumnya mematuhi kedua orang tua, maka wajib pula mematuhi perintah para guru selama perintah tersebut tidak bertentangan dengan syari’at agama. Di antara akhlaq kepada guru yaitu :

  1. Memuliakan, tidak menghina atau mencaci-maki guru, sebagaimana sabda Rasulullah : 

 “Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak memuliakan orang yang lebih tua dan tidak menyayangi orang yang lebih muda.” (HSR. Ahmad dan At-Tirmidzi)

  • Datang ke tempat belajar dengan ikhlas dan penuh semangat, sebagaimana sabda Rasulullah :

 “Barangsiapa menempuh jalan dalam rangka menuntut ilmu padanya, maka Allah mudahkan baginya dengannya jalan menuju syurga.” ( HR. Ahmad, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah )

  • Datang ke tempat belajar dengan penampilan yang rapi, sebagaimana sabda Rasulullah :

“Sesungguhnya Allah itu indah dan suka kepada keindahan.” ( HR. Ahmad, Muslim dan AlHakim )

  • Diam memperhatikan ketika guru sedang menjelaskan, sebagaimana hadits Abu Sa’id Al Khudri ra :

 “Orang-orang pun diam seakan-akan ada burung di atas kepala mereka.”     ( HR. AlBukhari)

  • Bertanya kepada guru bila ada sesuatu yang belum dia mengerti dengan cara baik. Allah berfirman :

“Bertanyalah kepada ahli dzikr ( yakni para ulama ) bila kamu tidak tahu.”    ( Qs. An Nahl: 43 dan Al-Anbiya’ : 7)

  • Dan menghindari pertanyaan-pertanyaan yang tidak ada faedahnya, sekedar mengolok-olok atau yang dilatarbelakangi oleh niat yang buruk, oleh karena itu Allah berfirman :

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menanyakan sesuatu yang bila dijawab niscaya akan menyusahkan kalian.” ( Qs. Al-Maidah : 101 )

  • Menegur guru bila melakukan kesalahan dengan cara yang penuh hormat, sebagaimana sabda Rasulullah :

“Agama adalah nasihat.” Kami ( Shahabat ) bertanya : “Untuk siapa ?” Beliau menjawab : “Untuk menta’ati Allah, melaksanakan Kitab-Nya, mengikuti Rosul Nya untuk para pemimpin kaum muslimin dan untuk orang-orang umum.” ( HR. Ahmad, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi dll )

Ingatlah,bahwasannya guru ketika mendidik kamu sangat sulit diantaranya : Mendidik akhlak kalian, mengajarkan ilmu yang bermanfaat dan memberikan nasihat yang baik, kesemuanya itu agar kamu bahagia seperti orang tua membahagiakan anaknya dan mengharapkan masa depan kalian berpendidikan.

Kemudian apabila kamu ingin menyenangkan guru kamu maka tetapkanlah kewajibanmu diantaranya :

  1. Untuk hadir setiap hari dan jangan sampai terlambat kecuali ada alasan yang membenarkan
  2. Dahulukan masuk ke kelas.
  3. Faham dalam segala pelajaran
  4. Menghafalkan dan menela’ah atau mempelajari kembali  pelajaran
  5. Menjaga kebersihan di buku kalian dan diperalatan sekolah kalian.
  6. Patuh terhadap perintah guru.
  7. Jangan sampai marah ketika gurumu mendidik kalian karena mendidik kamu suatu kewajiban dan hendaklah bersyukur dan tidak sombong
  8. Mendo’akannya.
  • Akhlak Kepada Guru Menurut Etika

Murid adalah orang yang sedang belajar dan menuntut ilmu kepada seorang  guru. Demi untuk keberkahan dan kemudahan dalam meraih dan mengamalkan ilmu atau pengetahuan yang telah diperoleh dari seorang guru, maka seorang murid haruslah memiliki akhlak atau etika yang benar terhadap gurunya. Beberapa contoh etika murid terhadap guru (Mu’allim), diantaranya adalah sebagai berikut :

  1. Memohon Pilihan Terbaik dari Allah

Dalam Memilih Guru Hendaknya seorang murid mengambil ilmu dari orang yang sempurna keahliannya, terbukti kasih sayangnya, tampak kehati-hatian sikapnya, di kenal akan ke homatanya, terkenal penjagaanya, da dia adalah yang terbaik dalam pengajaran dan memahamkan ilmu kepada murid-muridnya. Seorang murid tidak boleh menambil ilmu kepada guru yang kurang dalam sifat wara’ dan agamanya atau tidak berakhlak mulia. Sebagaimana yang di katakan sebagian salaf (mereka berkata) : “ Ilmu ini adalah agama maka lihatlah dari siapa kalian mengambil agama kalian”

  • Patuh Terhadap Arahan-arahan Gurunya yang Sesuai Syar’i

Mematuhi gurunya di semua urusan-urusannya, dan tidak keluar dari pendapat  gurunya, serta aturannya. Dia bermusyawarah dengan gurunya tentang apa yang dia inginkan, dan mencari keridhaan gurunya terhadap apa yang dia pilih. Dan dia sungguh-sungguh dalam menghormati gurunya, dan mendekatkan diri kepada Allah dengan cara melayani gurunya. Berkata Al Imam Ghazali : “ilmu tidak akan diraih kecuali dengan tawadhu’dan mencurahkan pendengaran (ke arah ilmu tersebut).”

Khidir mengatakan seperti ini bersamaan dengan tingginya kedudukan Nabi Musa Al-Karim (yang pernah diajak bicara  Allah secara langsung) dalam kerasulan dan ilmu; hingga Khidir memberi syarat kepada nabi Musa untuk diam (jika ingin mengambil ilmu darinya), Khidir berkata: “Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku sendiri yang menerangkannya kepadamu”                      (Al-Kahfi: 70)

  • Menghormati Guru dan Mengagungkannya

Memandang guru dengan pandangan penuh pengagungan, dan menyakini  kesempurnaan gurunya, karena hal ini memudahkannya mengambil manfaat dari gurunya. Imam Syafi’i Rahimahullah, berkata:“ “dahulu aku membuka lemabaran kitab di hadapan Imam Malik dengan sangat pelan, karena menghormati Imam Malik; agar jangan samapi beliau mendengar suara kertas” Imam Ar-Rabi’ Rahimahullah berkata: “Demi Allah, aku tidak berani minum air, sedangkan imam Syafi’i melihat ke arahku, karena menghormati beliau.” Ketika guru tidak ada, kitabtidak menyebut namanya kecuali dengan disertai ungkapan yang menunjukkan pengagungan kepadanya; misalnya; Syaikh atau Ustadz, atau semisalnya.

  • Bersabar Atas Sikap Sang Guru

Bersabar atas sikap ‘keras’ yang keluar dari gurunya, atau sikap yang tidak  mengenakkan, dan hal ini tidak menghalanginya untuk terus menyertainya dan dari kelurusan akidahnya, dan apabila sikap seorang guru yang terlihat seolah kebenaran  tetapi bertentangan dengan kebenaran, maka hendaknya seorang murid memberi nasihat kepada gurunya tersebut dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.

Diriwayatkan dari sebagian ulama salaf: “Siapa yang tidak sabar dari kehinaan belajar, maka sepanjang umurnya akan senantiasa berada di dalam butanya kebodohan, dan siapa yang sabar darinya maka urusannya akan membuahkan kemuliaan dunia dan akherat.” Sebagian ulama salaf yang lain berkata: “Sesungguhnya seorang pengajar dan dokter, keduanya tidak akan tulus mengajarb dan mengobati jika keduanya tidak dimuliakan. Maka bersabarlah terhadap kebodohanmu, jika engkau bersikap kaku kepada pengajarnya, dan bersabarlah terhadap penyakitmu, jika engkau merasa kaku terhadap dokternya.”

  • Berterimakasih Kepada Sang Guru di Semua Keadaan

Berterimakasih kepada sang guru atas arahannya terhadap segala sesuatu yang di dalamnya terdapat keutamaan, seperti mengingatkan kita dari kelalaian, malas, dan sifat tak ingin untuk belajar. Anggaplah bahwa ini semua merupakan nikmatnikmat dari Allah kepadanya; yaitu dengan perhatian sang guru dan pandangannya kepadanya; karena hal ini semua, bisa membuat hati sang guru cenderung padanya, dan bisa membangkitkan perhatian sang guru terhadap kemaslahatan muridnya.

Mungkin salahsatu contohnya ialah ketika sang guru menasehati kita sang murid atas kesalahanyang sudah pernah terjadi sebelumnya, maka kita sebagai sang murid jangan menamppaknnya seolah kita sudah mengetaguinya, akan tetapi berterimakasihlah padanya atas perhatiannya dan kepeduliannya terhadap kita.

BAB III

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Guru adalah orang tua kedua, yaitu orang yang mendidik murid-muridnya untuk menjadi lebih baik sebagaimana yang diridhoi Allah ‘azza wa jalla. Sebagaimana wajib hukumnya mematuhi kedua orang tua, maka wajib pula mematuhi perintah para guru selama perintah tersebut tidak bertentangan dengan syari’at agama.

Para Guru, Ustadz, Ustadzah, atau Mua’lim, Mursyid, selain mengantarkan kita menjadi orang yang beramal sholih, mereka termasuk pewaris Nabi-Nabi, justru merekalah penyalur pusaka dalam menjalankansyari’at, akhlak, aqidah, dan mereka pula contoh yang terdekat dengan kita. Berkaitan dengan hal tersebut,Nabi bersabda : Dalam agama kita bukan hanya murid saja yang diperintahkan untuk menghormati Gurunya, tetapi guru juga diharuskan menghargai sang murid, baik itu pendapatnya maupun pribadinya. Syarat pertama kesuksesan guru mendidik anak muridnya ialah menanamkan kepercayaan dan rasa cinta  serta simpatiknya, maka sekali-kali jangan mengharap remeh terhadap murid, begitupun sebaliknya.

  • Saran

Bagaimanapun juga guru merupakan orang tua kedua kita setelah orang tua kita yang di rumah. Mereka adalah orang tua kita saat kita berada di luar rumah. Jadi sebagaimana kita menghormati orang tua kandung kita, maka kitapun juga harus menghormati guru kita. Menghargai mereka dan tidak melupakan jasa-jasa yang mereka berikan kepada kita.

DAFTAR PUSTAKA

Abarokah, Nazzahao. “Akhlak terhadap orang tua dan guru”, Blog Nazzahao Abaroka.

Nazzhao Abarokah akhlak-terhadap-orang tua-dan guru 439. “Adab Seorang Murid Terhadap Guru”. Nazzahao Al- baroka.

Imam Badruddin Ibnu Jama’ah.2016.”Adab Penuntut Ilmu & Orang yang Memiliki Imu.Lebanon.Pustaka Al-Ihsan.  

MAKALAH SISTEM PANCA INDRA

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Dalam segala hal, serabut saraf sensorik dilengkapi dengan ujung akhir khusus mengumpulkan rangsangan yang khas tempat setiap organ berhubungan. Sistem indra memerlukan bantuan system saraf yang menghubungkan badan indra dan system dengan system saraf pusat. Organ indra adalah sel – sel tertentu yang  dapat menerima stimulus dari lingkungan maupun dari dalam badan sendiri untuk diteruskan sebagai impuls saraf melalui serabut saraf ke pusat susunan saraf. Setiap organ indra menerima stimulus tertentu, kesan yang sesuai sebagai system organ indra hanya mampu menerima stimulus, diklasifikasikan menjadi dua yaitu, organ indra umum seperti reseptor raba terbesar diseluruh tubuh dan organ indra khusus seperti putting pengecap yaqng penyebarannya terbatas pada lidah.

  • Tujuan
  • Untuk mengetahui pengertian panca indera
  • Untuk mengetahui fungsi panca indera
  • Untuk mengetahui jenis penyakit pada panca indera

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Pengertian Panca Indera

Panca indra adalah organ – organ akhir yang dikhususkan untuk menerima jenis rangsangan tertentu. Serabut saraf yang menanganinya merupakan alat perantara yang membawa kesan rasa dari organ indra menuju ke otak ketempat perasaan ini ditafsirkan. Beberapa kesan timbul dari luar seperti sentuhan, pengecapan, penglihatan, penciuman, dan suara. Ada kesan yang timbul dari dalam antara lain, lapar, haus, dan rasa sakit.

  • Fungsi Panca Indera dan Penyakitnya
  • Indera Penglihat (Mata)

Mata mempunyai reseptor khusus untuk mengenali perubahan sinar dan warna. Sesungguhnya yang disebut mata bukanlah hanya bola mata, tetapi termasuk otot-otot penggerak bola mata, kotak mata (rongga tempat mata berada), kelopak, dan bulu mata.

Penyakit pada Mata

  1. Presbiopi

Presbiopi adalah penyakit mata karena proses penuaan, disebut juga mata tua. Pada anak-anak, titik dekat mata bisa sangat pendek, kira-kira 9 cm untuk anak umur 11 tahun.

  • Hipermetropi

Hipermetropi atau mata jauh dapat terjadi pada anak-anak. Hipermetropi disebabkan bola mata terlalu pendek sehingga bayang-bayang jatuh di belakang retina. Penderita hipermetropi ini tidak dapat melihat benda yang dekat atau biasa disebut rabun dekat.

  • Miopi

Miopi atau mata dekat adalah cacat mata yang disebabkan oleh bola mata terlalu panjang sehingga bayang-bayang dari benda yang jaraknya jauh akan jatuh di depan retina.

  • Astigmatisma

Astigmatisma merupakan kelainan yang disebabkan bola mata atau permukaan lensa mata mempunyai kelengkungan yang tidak sama, sehingga fokusnya tidak sama, akibatnya bayang-bayang jatuh tidak pada tempat yang sama. Untuk menolong orang yang cacat seperti ini dibuat lensa silindris, yaitu yang mempunyai beberapa fokus.

  • Katarak

Katarak adalah cacat mata, yaitu buramnya dan berkurang elastisitasnya lensa mata. Hal ini terjadi karena adanya pengapuran pada lensa. Pada orang yang terkena katarak pandangan menjadi kabur dan daya akomodasi berkurang.

  • Imeralopi

Imeralopi atau rabun senja adalah kelainan yang menyebabkan penderita menjadi rabun pada senja hari.

  • Xeroftalxni

Xeroftalxni adalah kelainan pada mata, yaiut kornea menjadi kering dan bersisik.

  • Keratomealasi

Keratomealasi adalah kelainan pada mata yaitu kornea menjadi putih dan rusak.

  • Indera Pendengar (Telinga)

Telinga merupakan sebuah organ yang mampu mendeteksi/mengenal suara dan juga banyak berperan dalam keseimbangan dan posisi tubuh. Suara adalah bentuk energi yang bergerak melewati udara, air, atau benda lainnya, dalam sebuah gelombang. Walaupun telinga yang mendeteksi suara, fungsi pengenalan dan interpretasi dilakukan di otak dan sistem saraf pusat. Rangsangan suara disampaikan ke otak melalui saraf yang menyambungkan telinga dan otak (nervus vestibulokoklearis).

Kelainan pada telinga

  1. Tuli

Tuli adalah ketidakmampuan telinga untuk mendengarkan bunyi atau suara. Tuli dapat disebabkan oleh adanya kerusakan pada gendang telinga, tersumbatnya ruang telinga, atau rusaknya saraf pendengaran.

  • Congek

Congek adalah penyakit telinga yang biasanya disebabkan oleh infeksi pada bagian telinga yang tersembunyi di tengah-tengah. Infeksi ini disebabkan oleh bakteri.

  • Otitis eksterna

Otitis eksterna adalah suatu infeksi pada saluran telinga.  Infeksi ini bisa menyerang seluruh saluran (otitis eksterna generalisata) atau hanya pada daerah tertentu sebagai bisul (furunkel).  Otitis eksterna seringkali disebut sebagai telinga perenang (swimmer’s ear).

  • Perikondritis

Perikondritis adalah suatu infeksi pada tulang rawan (kartilago) telinga luar. Perikondritis bisa terjadi akibat cedera, gigitan serangga dan pemecahan bisul dengan sengaja.  Nanah akan terkumpul diantara kartilago dan lapisan jaringan ikat di sekitarnya (perikondrium).

  • Eksi

Eksim pada telinga merupakan suatu peradangan kulit pada telinga luar dan saluran telinga, yang ditandai dengan gatal-gatal, kemerahan, pengelupasan kulit, kulit yang pecah-pecah serta keluarnya cairan dari telinga. Keadaan ini bisa menyebabkan infeksi pada telinga luar dan saluran telinga.

  • Cidera

Cedera pada telinga luar (misalnya pukulan tumpul) bisa menyebabkan memar diantara kartilago dan perikondrium.  Jika terjadi penimbunan darah di daerah tersebut, maka akan terjadi perubahan bentuk telinga luar dan tampak massa berwarna ungu kemerahan.

  • Tumor

Tumor pada telinga bisa bersifat jinak atau ganas (kanker). Tumor yang jinak bisa tumbuh di saluran telinga, menyebabkan penyumbatan dan penimbunan kotoran telinga serta ketulian.

  • Kanker

Kanker sel basal dan kanker sel skuamosa seringkali tumbuh pada telinga luar setelah pemaparan sinar matahari yang lama dan berulang-ulang. Pada stadium dini, bisa diatasi dengan pengangkatan kanker atau terapi penyinaran.

  • Indera Peraba (Kulit)

Kulit merupakan indra peraba yang mempunyai reseptor khusus untuk sentuhan, panas, dingin, sakit, dan tekanan. Reseptor untuk rasa sakit ujungnya menjorok masuk ke daerah epidermis. Reseptor untuk tekanan, ujungnya berada di dermis yang jauh dari epidermis. Reseptor untuk rangsang sentuhan dan panas, ujung reseptornya terletak di dekat epidermis. Kulit berfungsi sebagai alat pelindung bagian dalam, misalnya otot dan tulang.

Kelainan pada kulit

  1. Jerawat. Jerawat mudah menyerang kulit wajah, leher, punggung, dan dada. Penyakit ini timbul akibat ketidakseimbangan hormon dan kulit yang kotor. Anak-anak yang memasuki masa remaja serta orang-orang yang memiiki jenis kulit berminyak sangat rentan terhadap jerawat.
  2. Panu. Panu disebabkan oleh jamur yang menempel di kulit. Panu tampak sebagai bercak atau bulatan putih di kulit dan disertai rasa gatal. Panu timbul karena penderita tidak menjaga kebersihan kulit.
  3. Kadas. Kadas nampak di kulit sebagai bulatan putih bersisik. Pada setiap bulatan terdapat garis tepi yang jelas dengan kulit yang tidak terkena. Kadas juga menyebabkan rasa gatal. Penyakit ini disebabkan oleh jamur.
  4. Skabies. Skabies disebut pula “seven-year itch”. Penyakit tersebut disebabkan oleh parasit insekta yang sangat kecil (Sarvoptes scabies) dan dapat menular pada orang lain.
  5. Eksim. Eksim merupakan penyakit kulit yang akut atau kronis. Penyakit tersebut menyebabkan kulit menjadi kering, kemerah-merahan, gatal-gatal, dan bersisik.
  6. Biang keringat. Biang keringat terjadi karena kelenjar keringat tersumbat oleh sel-sel kulit mati yang tidak dapat terbuang secara sempurna. Keringat yang terperangkap tersebut menyebabkan timbulnya bintik-bintik kemerahan yang disertai gatal. Daki, debu, dan kosmetik juga dapat menyebabkan biang keringat.
  7. Indera Pengecap (Lidah)

Lidah adalah kumpulan otot rangka pada bagian lantai mulut yang dapat membantu pencernaan makanan dengan mengunyah dan menelan. Lidah dikenal sebagai indera pengecap yang banyak memiliki struktur tunas pengecap. Menggunakan lidah, kita dapat membedakan bermacam-macam rasa. Lidah juga turut membantu dalam tindakan bicara

Kelaianan pada lidah

  1. Oral candidosis.  Penyebabnya adalah jamur yang disebut candida albicans.. gejalanya yaitu lidah akan tampak tertutup lapisan putih yang dapat dikerok.
  2. Atropic glossitis. Lidah akan terlihat licin dan mengkilat baik seluruh bagian lidah maupun hanya sebagian kecil. Penyebab yang paling sering biasanya adalah kekurangan zat besi. Jadi banyak ditemukan pada penderita anemia.
  3. Geografic tongue. Gejalanya yaitu lidah seperti peta, berpulau-pulau. Bagian pulau itu berwarna merah dan lebih licin dan bila parah akan dikelilingi pita putih tebal.
  4. Fissured tongue. Gejalanya yaitu lidah akan terlihat pecah-pecah.
  5. Glossopyrosis. Kelainan ini berupa keluhan pada lidah dimana lidah terasa sakit dan panas dan terbakar tetapi tidak ditemukan gejala apapun dalam pemeriksaan. Hal ini lebih banyak disebabkan karena psikosomatis dibandingkan dengan kelainan pada syaraf.
  6. Indera Pembau (Hidung)

Saat manusia baru lahir indera penciumannya lebih kuat dari manusia dewasa, karena dengan indera ini bayi dapat mengenali ibunya. Indera penciuman manusia dapat mendeteksi 2000 – 4000 bau yang berbeda. Indera pembau manusia berupa kemoreseptor yang terdapat di permukaan dalam hidung, yaitu pada lapisan lendir bagian atas.

Kelainan pada hidung

  1. Angiofibroma Juvenil, adalah tumor jinak pada hidung bagian belakang atau tenggorokan bagian atas (nasofaring), yang mengandung pembuluh darah. Tumor ini paling sering ditemukan pada anak-anak laki yang sedang mengalami masa puber.
  2. Papiloma Juvenil, adalah tumor jinak pada kotak suara (laring). Papiloma disebabkan oleh virus. Papiloma bisa ditemukan pada anak usia 1 tahun. Papiloma bisa menyebabkan suara serak, kadang cukup berat sehingga anak tidak dapat berbicara dan bisa menyumbat saluran udara.
  3. Rhinitis Allergica, adalah peradangan hidung karena alergi. Disebabkan oleh adanya reaksi alergi pada hidung yang ditimbulkan oleh masuknya substansi asing ke dalam saluran tenggorokan.
  4. Sinusitis, merupakan peradangan sinus, yaitu rongga-rongga dalam tulang yang berhubungan dengan rongga hidung, yang gawat dan biasanya terjadi dalam waktu menahun (kronis).
  5. Salesma dan influenza, merupakan infeksi pada alat pernapasan yang disebabkan oleh virus, dan umumnya dapat menyebabkan batuk, pilek, sakit leher dan kadang-kadang panas atau sakit pada persendian.
  6. Anosmia, adalah gangguan pada hidung berupa kehilangan kemampuan untuk membau. Penyakit ini dapat terjadi karena beberapa hal, misalnya cidera atau infeksi di dasar kepala, keracunan timbel, kebanyakan merokok, atau tumor otak bagian depan. Untuk mengatasi gangguan ini harus diketahui dulu penyebabnya.
  • Indera Pembau (Hidung)
  • Bagian-bagian hidung
  • Lubang hidung berfungsi untuk keluar masuknya udara
  • Rambut hidung berfungsi untuk menyaring udara yang masuk ketika bernapas
  • Selaput lendir berfungsi tempat menempelnya kotoran dan sebagai indera pembau
  • Serabut saraf berfungsi mendeteksi zat kimia yang ada dalam udara pernapasan
  • Saraf pembau berfungsi mengirimkan bau-bauan yang ke otak
  • Cara kerja hidung

Kita dapat membau suatu zat karena zat yang berupa uap tersebut masuk kerongga hidung sewaktu kita menarik nafas. Zat tersebut akan dilarutkan pada selaput lender dan merangsangkan sel-sel reseptor, kemudian dibawa oleh saraf pembau ke otak sehingga kita dapat mengetahui bau tersebut.

  • Gangguan pada hidung

Gangguan pada hidung biasa disebabkan oleh radang atau sakit pilek yang menghasilkan lendir atau ingus sehingga menghalangi bau mencapai ujung saraf pembau akibatnya hidung tidak mampu untuk mencium bau tersebut. Ketidakmampuan hidung untuk mencium bau disebut anosmia. Gangguan lain juga bisa disebabkan oleh adanya kotoran pada hidung, dan bulu hidung yang terlalu banyak.

  • Merawat kesehatan hidung

Agar hidung dapat berfungsi dengan baik, hidung harus dirawat dengan baik. Setiap hari, hidung harus dibersihkan. Hidung menjadi kotor karena udara yang kita cium mengandung butiran debu. Segeralah ke dokter jika menderita pilek lebih dari seminggu agar pilek tidak semakin parah. Pilek yang lama dapat merusak indera pembau.

  • Indera Peraba (Kulit)
  • Bagian-bagian kulit

Kulit terdiri atas dua lapisan, yaitu

  1. Lapisan luar (Epidermis)

Lapisan luar tersusun atas dua lapisan, yaitu kulit ari dan lapisan malpighi. Kulit ari tersusun atas sel-sel mati dibawahnya. Kulit ari berfungsi mencegah masuknya bibit penyakit (bakteri) dan mencegah penguapan air dari dalam tubuh. Lapisan malpighi tersusun atas sel-sel yang aktif membelah diri.

  • Lapisan dalam (Dermis)

Lapisan dalam tersusun dari:

  1. Kelenjar keringat berfungsi menghasilkan keringat;
  2. Saluran keringat
  3. Lapisan lemak berfungsi menghangatkan tubuh;
  4. Kalenjer lemak
  5. Otot penggerak rambut berfungsi mengatur gerakan rambut;
  6. Pembuluh darah berfungsi mengalirkan darah yang berisi oksigen atau karbondioksida serta sari makanan;
  7. Saraf penerima rangsang (reseptor)
  8. Cara kerja kulit

Sentuhan yang dilakukan pada semua benda menghasilkan rangsang. Rangsang itu diterima oleh reseptor kulit. Kemudian, rangsang itu diteruskan oleh reseptor ke otak. Dengan demikian, kita dapat meraba suatu benda. Otak juga memerintahkan tubuh untuk menanggapi rangsang itu. Karena informasi yang cepat, tubuh kita dapat terhidar dari bahaya luar, misalnya saat kita menyentuh benda yang panas. Jika tubuh tidak tahan panas itu, maka secara refleks tubuh akan menghindari panas tersebut. Dengen demikian, tubuh terhindar dari kerusakan yang lebih fatal.

  • Memelihara kesehatan kulit

Kulit adalah bagian tubuh terluar. Jadi, kulit paling mudah berhubungan langsung dengan lingkungan. Akibatnya, kulit paling cepat kotor dan mudah diserang penyakit. Beberapa penyakit kulit tersebut, yaitu :

  1. Jerawat mudah menyerang kulit wajah, leher, punggung, dan dada. Jerawat dapat timbul akibat ketidakseimbangan hormon dan kulit yang kotor.
  2. Panu disebabkan oleh jamur yang hinggap di kulit. Panu timbul karena penderita tidak menjaga kebersihan.
  3. Kadas tampak sebagai bulatan putih bersisik. Kadas menimbulkan rasa gatal yang ditimbulkan oleh jamur.

Kulit merupakan bagian tubuh yang mudah dihinggapi jamur dan kotoran lain. Oleh karena itu, jagalah selalu kebersihan kulitmu. Mandilah dua kali sehari, serta cucilah kaki dan tangan sebelum tidur, makanlah makanan yang mengandung vitamin E serta sayuran dan buah-buahan.

BAB III

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Mata mempunyai reseptor khusus untuk mengenali perubahan sinar dan warna. Sesungguhnya yang disebut mata bukanlah hanya bola mata, tetapi termasuk otot-otot penggerak bola mata, kotak mata, kelopak, dan bulu mata.

Telinga mempunyai reseptor khusus untuk mengenali getaran bunyi dan untuk keseimbangan tubuh.

Kulit merupakan indra peraba yang mempunyai reseptor khusus untuk sentuhan, panas, dingin, sakit, dan tekanan.

Lidah mempunyai reseptor khusus yang berkaitan dengan rangsangan kimia. Permukaan lidah dilapisi dengan lapisan epitelium yang banyak mengandung kelenjar lendir, dan reseptor pengecap berupa tunas pengecap.

Indra pembau berupa kemoreseptor yang terdapat di permukaan dalam hidung, yaitu pada lapisan lendir bagian atas.

Alat indera adalah alat tubuh yang berguna untuk mengetahui keadaan di luar tubuh. Indra merupakan ”jendela” bagi tubuh untuk mengenal dunia luar sekitar kita. Alat indera adalah organ yang peka terhadap rangsangan tertentu.

Manusia mempunyai lima macam indra, yaitu mata sebagai penerima rangsang cahaya, telinga sebagai penerima rangsang getaran bunyi, hidung sebagai penerima rangsang bau berupa gas, lidah sebagai penerima rangsang zat, dan kulit sebagai penerima rangsang sentuhan.  Pada setiap alat indera terdapat saraf. Saraf ini akan menerima rangsang dari luar tubuh. Kemudian, saraf mengirim rangsang itu ke otak. Saat rangsang diterima otak dengan baik, maka kita dapat melihat, mendengar, membau, mengecap, atau meraba.

  • Saran

Pada sistem indra ditemukan berbagai macam gangguan dan kelainan, baik karena bawaan maupun karena faktor luar, seperti virus atau kesalahan mengkonsumsi makanan. Untuk itu jagalah kesehatan anda agar selalu dapat beraktivitas dengan baik

DAFTAR PUSTAKA

Abhique, 2010. Sistem Kardiovaskuler. http://abhique.blogspot.com.Diakses pada tanggal 16 Februari 2010 pukul 20.43 WITA.

Angga, 2010. Fisiologi Kardiovaskular. http://www.blogsot.com. Diakses pada tanggal 16 Februari 2010 pukul 20.43 WITA.

Frandson, 1992. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Universitas Gajah Mada Press.   Yogyakarta.

Sloane , E., 1994, Anatomi dan Fisiologi. Buku Kedokteran EGC.Jakarta.

Cambell, dkk. 2003. Biologi. Jakarta : Erlangga.

Darmodjo, Hendro. 1992. Pendidikan IPA 1. Jakarta: Departemen Pendidikan dan

  Kebudayaan.

Soedjono, dkk. 1996. Biologi SMU 2. Bandung. PT Multi Adiwitata.

http://biologimediacentre.com/indera-manusia&nbsp; /# sthash. i1RVDAQr. dpuf.

Laporan Kebidanan dengan MIOMA UTERI

LAPORAN KEBIDANAN

MIOMA UTERI

  1. PENGERTIAN

Mioma uteri adalah suatu tumor jinak berbatas tegas tidak berkapsul yang berasal dari otot polos dan jaringan ikat fibrous. Biasa juga disebut fibromioma uteri, leiomioma uteri atau uterine fibroid. Tumor jinak ini merupakan neoplasma jinak yang sering ditemukan pada traktus genitalia wanita, terutama wanita sesudah produktif (menopouse). Mioma uteri jarang ditemukan pada wanita usia produktif tetapi kerusakan reproduksi dapat berdampak karena mioma uteri pada usia produktif berupa infertilitas, abortus spontan, persalinan prematur dan malpresentasi (Aspiani, 2017).

  • ETIOLOGI  

Menurut Aspiani ada beberapa faktor yang diduga kuat merupakan faktor predisposisi terjadinya mioma uteri.

  1. Umur Mioma uteri ditemukan sekitar 20% pada wanita usia produktif dan sekitar 40%-50% pada wanita usia di atas 40 tahun. Mioma uteri jarang ditemukan sebelum menarche (sebelum mendapatkan haid).
  2. Hormon Endogen (endogenous hormonal) Konsentrasi estrogen pada jaringan mioma uteri lebih tinggi dari pada jaringan miometrium normal.
  3. Riwayat keluarga

Wanita dengan garis keturunan dengan tingkat pertama dengan penderita mioma uteri mempunyai 2,5 kali kemungkinan untuk menderita mioma dibandingkan dengan wanita tanpa garis keturunan penderita mioma uteri.

  • Makanan 

Makanan di laporkan bahwah daging sapi, daging setengah matang (red meat), dan daging babi meningkatkan insiden mioma uteri, namun sayuran hijau menurunkan insiden menurunkan mioma uteri.

  • Kehamilan 

Kehamilan dapat mempengaruhi mioma uteri karena tingginya kadar estrogen dalam kehamilan dan bertambahnya vaskularisasi ke uterus. Hal ini mempercepat pembesaran mioma uteri. Efek estrogen pada pertumbuhan mioma mungkin berhubungan dengan respon dan faktor pertumbuhan lain. Terdapat bukti peningkatan produksi reseptor progesteron, dan faktor pertumbuhan epidermal.

  • Paritas 

Mioma uteri lebih sering terjadi pada wanita multipara dibandingkan dengan wanita yang mempunyai riwayat melahirkan 1 (satu) kali atau 2 (2) kali 

Faktor terbentuknya tomor:

  1. Faktor internal

Faktor internal adalah faktor yang terjadinya reflikasi pada saat sel – sel yang mati diganti oleh sel yang baru merupakan kesalahan genetika yang diturunkan dari orang tua. Kesalahan ini biasanya mengakibatkan kanker pada usia dini. Jika seorang ibu mengidap kanker payudara, tidak serta merta semua anak gandisnya akan mengalami hal yang sama, karena sel yang mengalami kesalahan genetik harus mengalami kerusakan terlebih dahulu sebelum berubah menjadi sel kanker. Secara internal, tidak dapat dicegah namun faktor eksternal dapat dicegah. Menurut WHO, 10% – 15% kanker, disebabkan oleh faktor internal dan 85%, disebabkan oleh faktor eksternal (Apiani, 2017).

  • Faktor eksternal 

Faktor eksternal yang dapat merusak sel adalah virus, polusi udara, makanan, radiasi dan berasala dari bahan kimia, baik bahan kimia yang ditambahkan pada makanan, ataupun bahan makanan yang bersal dari polusi. Bahan kimia yang ditambahkan dalam makanan seperti pengawet dan pewarna makanan cara memasak juga dapat mengubah makanan menjadi senyawa kimia yang berbahaya.

Kuman yang hidup dalam makanan juga dapat menyebarkan racun, misalnya aflatoksin pada kacang-kacangan, sangat erat hubungannya dengan kanker hati. Makin sering tubuh terserang virus makin besar kemungkinan sel normal menjadi sel kanker. Proses detoksifikasi yang dilakukan oleh tubuh, dalam prosesnya sering menghasilkan senyawa yang lebih berbahaya bagi tubuh,yaitu senyawa yang bersifat radikal atau korsinogenik. Zat korsinogenik dapat menyebabkan kerusakan pada sel. 

Berikut faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tumor pada mioma, disamping faktor predisposisi genetik. 

  1. Estrogen 

Mioma uteri dijumpai setelah menarke. Sering kali, pertumbuhan tumor yang cepat selama kehamilan terjadi dan dilakukan terapi estrogen eksogen. Mioma uteri akan mengecil pada saat menopouse dan oleh pengangkatan ovarium. Mioma uteri banyak ditemukan bersamaan dengan anovulasi ovarium dan wanita dengan sterilitas. Enzim hidrxydesidrogenase mengungbah estradiol (sebuah estrogen kuat) menjadi estrogen (estrogen lemah). Aktivitas enzim ini berkurang pada jaringan miomatous, yang juga mempunyai jumlah reseptor estrogen yang lebih banyak dari pada miometrium normal.

  • Progesteron

Progesteron merupakan antogonis natural dari estrogen. Progesteron menghambat pertumbuhan tumor dengan dua cara, yaitu mengaktifkan hidroxydesidrogenase dan menurunkan jumlah reseptor estrogen pada tumor.

  • Hormon pertumbuhan  (growth hormone)

Level hormon pertumbuhan menurun selama kehamilan, tetapi hormon yang mempunyai struktur dan aktivitas biologik serupa, yaitu HPL, terlihat pada periode ini dan memberi kesan bahwa pertumbuhan yang cepat dari leimioma selama kehamilan mungkin merupakan hasil dari aksi sinergistik antara HPL dan estrogen.

  • GEJALA MIOMA UTERI

Keluhan yang diakibatkan oleh mioma uteri sangat tergantung dari lokasi, arah pertumbuhan, jenis, besar dan jumlah mioma. Hanya dijumpai pada 20-50% saja mioma uteri menimbulkan keluhan, sedangkan sisanya tidak mengeluh apapun. Hipermenore, menometroragia adalah merupakan gejala klasik dari mioma uteri. Dar ipenelitian multisenter yang dilakukan pada 114 penderita ditemukan 44% gejala perdarahan, yang paling sering adalah jenis mioma submukosa, sekitar 65% wanita dengan mioma mengeluh dismenore, nyeri perut bagian bawah, serta nyeri pinggang.

Tergantung dari lokasi dan arah pertumbuhan mioma, maka kandung  kemih, ureter, dan usus dapat terganggu, dimana peneliti melaporkan keluhan disuri (14%), keluhan obstipasi (13%). Mioma uteri sebagai penyebab infertilitas hanya dijumpai pada 2-10% kasus. Infertilitas terjadi sebagai akibat obstruksi mekanis tuba falopii. Abortus spontan dapat terjadi bila mioma uteri menghalangi pembesaran uterus, dimana menyebabkan kontraksi uterus yang abnormal, dan mencegah terlepas atau tertahannya uterus di dalam panggul (Goodwin, 2009).

  1. Massa di Perut Bawah

Penderita mengeluhkan merasakan adanya massa atau benjolan di perut bagian bawah.

  • Perdarahan Abnormal

Diperkirakan 30% wanita dengan mioma uteri mengalami kelainan menstruasi, menoragia atau menstruasi yang lebih sering. Tidak ditemukan bukti yang menyatakan perdarahan ini berhubungan dengan peningkatan luas permukaan endometrium atau kerana meningkatnya insidens disfungsi ovulasi. Teori yang menjelaskan perdarahan yang disebabkan mioma uteri menyatakan terjadi perubahan struktur vena pada endometrium dan miometrium yang menyebabkan terjadinya venule ectasia.  Miometrium merupakan wadah bagi faktor endokrin dan parakrin dalam mengatur fungsi endometrium.

Aposisi kedua jaringan ini dan aliran darah langsung dari miometrium ke endometrium memfasilitasi interaksi ini. Growth factor yang merangsang stimulasi angiogenesis atau relaksasi tonus vaskuler dan yang memiliki reseptor pada mioma uteri dapat menyebabkan perdarahan uterus abnormal dan menjadi target terapi potensial. Sebagai pilihan, berkurangnya angiogenik inhibitory factor atau vasoconstricting factor dan reseptornya pada mioma uteri dapat juga menyebabkan perdarahan uterus yang abnormal.

  • Nyeri Perut

Gejala nyeri tidak khas untuk mioma, walaupun sering terjadi. Hal ini timbul karena gangguan sirkulasi darah pada sarang mioma yang disertai dengan nekrosis setempat dan peradangan. Pada pengeluaran mioma submukosa yang akan dilahirkan, pada pertumbuhannya yang menyempitkan kanalis servikalis dapat menyebabkan dismenorrhoe. Dapat juga rasa nyeri disebabkan karena torsi mioma uteri yang bertangkai. Dalam hal ini sifatnya akut, disertai dengan rasa nek dan muntah-muntah. Pada mioma yang sangat besar, rasa nyeri dapat disebabkan karena tekanan pada urat syaraf yaitu pleksus uterovaginalis, menjalar ke pinggang dan tungkai bawah  (Pradhan, 2006).

  • Pressure Effects ( Efek Tekenan )

Pembesaran mioma dapat menyebabkan adanya efek tekanan pada organ-organ di sekitar uterus. Gejala ini merupakan gejala yang tak biasa dan sulit untuk dihubungkan langsung dengan mioma. Penekanan pada kandung kencing, pollakisuria dan dysuria. Bila uretra tertekan bisa menimbulkan retensio urinae. Bila berlarut-larut dapat menyebabkan hydroureteronephrosis. Tekanan pada rectum tidak begitu besar, kadang-kadang menyebabkan konstipasi atau nyeri saat defekasi. 

  • Penurunan Kesuburan dan Abortus

Hubungan antara mioma uteri sebagai penyebab penurunan kesuburan masih belum jelas. Dilaporkan sebesar 27-40%wanita dengan mioma uteri mengalami infertilitas. Penurunan kesuburan dapat terjadi apabila sarang mioma menutup atau menekan pars interstisialis tuba, sedangkan mioma submukosa dapat memudahkan terjadinya abortus karena distorsi rongga uterus. Perubahan bentuk kavum uteri karena adanya mioma dapat menyebabkan disfungsi reproduksi. Gangguan implasntasi embrio dapat terjadi pada keberadaan mioma akibat perubahan histologi endometrium dimana terjadi atrofi karena kompresi massa tumor (Stoval, 2001). Apabila penyebab lain infertilitas sudah disingkirkan dan mioma merupakan penyebab infertilitas tersebut, maka merupakan suatu indikasi untuk dilakukan miomektomi (Strewart, 2001).

  • PATOFISIOLOGI

Mioma uteri mulai tumbuh sebagai bibit yang kecil didalam miometrium dan lambat laun membesar karena pertumbuhan itu miometrium mendesak menyusun semacam pseudokapsula atau sampai semua mengelilingi tumor didalam uterus mungkin terdapat satu mioma akan tetapi mioma biasanya banyak. Bila ada satu mioma yang tumbuh intramural dalam korpus uteri maka korpus ini tampak bundar dan konstipasi padat. Bila terletak pada dinding depan uterus mioma dapat menonjol kedepan sehingga menekan dan mendorong kandung kemih keatas sehingga sering menimbulkan keluhan miksi (Aspiani, 2017).

Secara makroskopis, tumor ini biasanya berupa massa abu-abu putih, padat, berbatas tegas dengan permukaan potongan memperlihatkan gambarankumparan yang khas. Tumor mungkin hanya satu, tetapi umumnya jamak dan tersebar di dalam uterus, dengan ukuran berkisar dari benih kecil hingga neoplasma masif yang jauh lebih besar dari pada ukuran uterusnya. Sebagian terbenam didalam miometrium, sementara yang lain terletak tepat di bawah endometrium (submukosa) atau tepat dibawah serosa (subserosa). Terakhir membentuk tangkai, bahkan kemudian melekat ke organ disekitarnya, dari mana tumor tersebut mendapat pasokan darah dan kemudian membebaskan diri dari uterus untuk menjadi leimioma “parasitik”. Neoplasma yang berukuran besar memperlihatkan fokus nekrosis iskemik disertai daerah perdarahan dan perlunakan kistik, dan setelah menopause tumor menjadi padat kolagenosa, bahkan mengalami kalsifikasi (Robbins, 2007). 

  • KOMPLIKASI
  • Perdarahan sampai terjadi anemia.
  • Torsi tangkai mioma dari :
  • Mioma uteri subserosa.
  • Mioma uteri submukosa.
  • Nekrosis dan infeksi, setelah torsi dapat terjadi nekrosis dan infeksi.
  • Pengaruh timbal balik mioma dan kehamilan.

Pengaruh mioma terhadap kehamilan

  1. Infertilitas.
  2. Abortus.
  3. Persalinan prematuritas dan kelainan letak.
  4. Inersia uteri.
  5. Gangguan jalan persalinan.
  6. Perdarahan post partum.
  7. Retensi plasenta.

Pengaruh kehamilan terhadap mioma uteri

  1. Mioma cepat membesar karena rangsangan estrogen.
  2. Kemungkinan torsi mioma uteri bertangkai.
  • PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
  • USG untuk menentukan jenis tumor, lokasi mioma, ketebalan endometriium dan keadaan adnexa dalam rongga pelvis. Mioma juga dapat dideteksi dengan CT scan ataupun MRI, tetapi kedua pemeriksaan itu lebih mahal dan tidak memvisualisasi uterus sebaik USG. Untungnya, leiomiosarkoma sangat jarang karena USG tidak dapat membedakannya dengan mioma dan konfirmasinya membutuhkan diagnosa jaringan.
  • Dalam sebagian besar kasus, mioma mudah dikenali karena pola gemanya pada beberapa bidang tidak hanya menyerupai tetapi juga bergabung dengan uterus; lebih lanjut uterus membesar dan berbentuk tak teratur.
  • Foto BNO/IVP pemeriksaan ini penting untuk menilai massa di rongga pelvis serta menilai fungsi ginjal dan perjalanan ureter.
  • Histerografi dan histeroskopi untuk menilai pasien mioma submukosa disertai dengan infertilitas.
  • Laparaskopi untuk mengevaluasi massa pada pelvis.
  • Laboratorium : darah lengkap, urine lengkap, gula darah, tes fungsi hati, ureum, kreatinin darah.
  • Tes kehamilan.
  • PENGKAJIAN KEPERAWATAN
  • Pengkajian
  • Anamnesa
  • Identitas Klien: meliputi nama, umur, jenis kelamin, agama, suku   bangsa,  status pernikahan, pendidikan, pekerjaan, alamat.
  • Identitas Penanggung jawab: Nama, umur, jenis kelamin, hubungan dengan keluarga, pekerjaan, alamat.
  • Riwayat Kesehatan
  • Keluhan Utama 

Keluhan yang paling utama dirasakan oleh pasien mioma uteri, misalnya timbul benjolan diperut bagian bawah yang relatif lama. Kadang-kadang disertai gangguan haid

  • Riwayat penyakit sekarang

Keluhan yang di rasakan oleh ibu penderita mioma saat dilakukan  pengkajian, seperti rasa nyeri karena terjadi tarikan, manipulasi jaringan organ. Rasa nyeri setelah bedah dan adapun yang yang perlu dikaji pada rasa nyeri adalah lokasih nyeri, intensitas nyeri, waktu dan durasi serta kualitas nyeri. 

  • Riwayat Penyakit Dahulu 

Tanyakan tentang riwayat penyakit yang pernah diderita dan jenis pengobatan yang dilakukan oleh pasien mioma uteri, tanyakan  penggunaan obat-obatan, tanyakan tentang riwayat alergi, tanyakan riwayat kehamilan dan riwayat persalinan dahulu, penggunaan alat kontrasepsi, pernah dirawat/dioperasi sebelumnya.

  • Riwaya Penyakit Keluarga 

Tanyakan kepada keluarga apakah ada anggota keluarga mempunyai penyakit keturunan seperti diabetes melitus, hipertensi, jantung, penyakit kelainan darah dan riwayat kelahiran kembar dan riwayat penyakit mental.

  • Riwayat Obstetri 

Untuk mengetahui riwayat obstetri pada pasien mioma uteri yang perlu diketahui adalah

  1. Keadaan haid

Tanyakan tentang riwayat menarhe dan haid terakhir, sebab mioma uteri tidak pernah ditemukan sebelum menarhe dan mengalami atrofi pada masa menopause.

  • Riwayat kehamilan dan persalinan 

Kehamilan mempengaruhi pertumbuhan mioma uteri, dimana mioma uteri tumbuh cepat pada masa hamil ini dihubungkan dengan hormon estrogen, pada masa ini dihasilkan dalam jumlah yang besar.  

  • Faktor Psikososial
  • Tanyakan tentang persepsi pasien mengenai penyakitnya, faktor- faktor budaya yang mempengaruhi, tingkat pengetahuan yang dimiliki pasien mioma uteri, dan tanyakan mengenai seksualitas dan perawatan yang pernah dilakukan oleh pasien mioma uteri.
  • Tanyakan tentang konsep diri : Body image, ideal diri, harga diri, peran diri, personal identity, keadaan emosi, perhatian dan hubungan terhadap orang lain atau tetangga, kegemaran atau jenis kegiatan yang di sukai pasien mioma uteri, mekanisme pertahanan diri, dan interaksi sosial pasien mioma uteri dengan orang lain.
  • Pola Kebiasaan sehari-hari

Pola nutrisi sebelum dan sesudah mengalami mioma uteri yang harus dikaji adalah frekuensi, jumlah,  tanyakan perubahan nafsu makan yang terjadi.

  • Pola eliminasi

Tanyakan tentang frekuensi, waktu, konsitensi, warna, BAB terakhir. Sedangkan pada BAK yang harus di kaji adalah frekuensi, warna, dan bau.

  1. Pola Aktivitas, Latihan, dan bermain

Tanyakan jenis kegiatan dalam pekerjaannya, jenis olahraga dan frekwensinya, tanyakan kegiatan perawatan seperti mandi, berpakaian, eliminasi, makan minum, mobilisasi

  • Pola Istirahat dan Tidur

Tanyakan waktu dan lamanya tidur pasien mioma uteri saat siang dan malam hari, masalah yang ada waktu tidur.

  • Pemeriksaan Fisik
  • Keadaan Umum

Kaji tingkat kesadaran pasien mioma uteri

  • Tanda-tanda vital : Tekanan darah, nadi,suhu, pernapasan.
  • Pemeriksaan Fisik Head to toe
  • Kepala dan rambut : lihat kebersihan kepala dan keadaan rambut.
  • Mata : lihat konjungtiva anemis, pergerakan bola mata simetris
  • Hidung : lihat kesimetrisan dan kebersihan, lihat adanya pembengkakan konka nasal/tidak
  • Telinga : lihat kebersihan telinga.
  • Mulut : lihat mukosa mulut kering atau lembab, lihat kebersihan rongga mulut, lidah dan gigi, lihat adanya penbesaran tonsil.
  • Leher dan tenggorokan : raba leher dan rasakan adanya pembengkakan kelenjar getah bening/tidak.
  • Dada atau thorax : paru-paru/respirasi, jantung/kardiovaskuler dan sirkulasi, ketiak dan abdomen.
  • Abdomen

Infeksi:  bentuk dan ukuran, adanya lesi, terlihat menonjol,

Palpasi: terdapat nyeri tekan pada abdomen

Perkusi: timpani, pekak

Auskultasi: bagaimana bising usus

  • Ekstremitas/ muskoluskletal terjadi pembengkakan pada ekstremitas atas dan bawah pasien mioma uteri
  • Genetalia dan anus perhatikan kebersihan,adanya lesi, perdarahan diluar siklus menstruasi. 
  • DIAGNOSIS KEPERAWATAN
  • Nyeri akut berhubungan dengan nekrosis atau trauma jaringan dan refleks spasme otot sekunder akibat tumor.
  • Resiko syok berhubungan dengan perdarahan.
  • Resiko infeksi berhubungan dengan penurunan imun tubuh sekunder akibat gangguan hematologis (perdarahan)
  • Retensi urine berhubungan dengan penekanan oleh massa jaringan neoplasma pada organ sekitarnya, gangguan sensorik motorik.
  • Resiko Konstipasi berhubungan dengan penekanan pada rectum (prolaps rectum)
  1. I.       INTERVENSI
NO. Diagnosa Keperawatan Intervensi
NOC NIC
1. Nyeri    akut     berhubungan dengan nekrosis atau trauma jaringan dan refleks spasme otot sekunder akibat tumor   Definisi: Pengalaman sensori dan emosional tidak menyenangkan yang muncul akibat kerusakan jaringan   aktual   atau potensial atau yang digambarkan sebagai kerusakan (International Association   for  the  Study  of pain) awitan yang tiba-tiba atau lambat dari intensitas ringan hingga berat dengan akhir yang dapat diantisipasi  atau diprediksi.   Batasan karakteristik: Bukti       nyeri       dengan menggunakan standar daftar periksa nyeri untuk pasien yang tidak dapat mengungkapannyaEkspresi wajah nyeri (misal: mata kurang bercahaya, tampak kacau, gerakan mata berpencar   atau tetap   pada satu fokus, meringis)Fokus menyempit misal: Persepsi waktu, proses berpikir, interaksi    dengan orang dan lingkungan) Fokus pada diri sendiriKeluhan tentang intensitas menggunakan standars kala nyeriKeluhan            tentang karakteristik nyeri dengan menggunakan standar instrumen nyeriLaporan  tentang perilaku nyeri/ perubahan aktivitasPerubahan   posisi    untuk menghindari nyeriPutus asaSikap melindungi area nyeri   Faktor yang berhubungan:   Agens cidera biologisAgens cidera fisik Agens cidera kimiawi NOC: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam, pasien mioma uteri mampu mengontrol nyeri dibuktikan dengan kriteria hasil:   Mengontrol Nyeri Mengenali kapan nyeri terjadiMenggambarkan faktor penyebab nyeriMenggunakan tindakan pencegahan nyeri   Menggunakan  tindakan  pengurangan  nyeri (nyeri) tanpa analgesik   Menggunakan             analgesik             yang direkomendasikan   Melaporkan   perubahan   terhadap   gejala nyeri pada profesional kesehatan   Melaporkan  gejalah  yang  tidak  terkontrol pada profesional kesehatan   Menggunakan  sumber  daya  yang  tersedia untuk menangani nyeri   Mengenali  apa  yang  terkait  dengan  gejala nyeri   Melaporkan nyeri yang terkontrol Manajemen Nyeri Lakukan        pengkajian nyeri komprehensip yang meliputi lokasi, karakteristik, onset/durasi, frekuensi, kualitas, intensitas atau beratnya nyeri dan faktor pencetusObservasi adanya pentunjuk nonverbal mengenai ketidak nyamanan terutama pada mereka yang tidak dapat berkomunikasi secara efektifPastikan   perawatan analgesik   bagi pasien dilakukan dengan pemantauan yang ketatGunakan strategi       komunikasi terapeutik         untuk        mengetahui pengalaman    nyeri   dan    sampaikan penerimaan pasien terhadap nyeriGali   pengetahuan  dan   kepercayaan pasien mengenai nyeriPertimbangkan    pengaruh    budaya terhadap respon nyeriTentukan akibat dari pengalaman nyeri terhadap kualitas hidup pasien (misalnya, tidur, nafsu makan, pengertian,  perasaan,  performa  kerja dan tanggung jawab peran)Gali bersama pasien faktor-faktor yang dapat menurunkan atau memperberat nyeriEvaluasi pengalaman nyeri dimasa lalu yang meliputi riwayat nyeri kronik individu atau keluarga atau nyeri yang menyebabkan      disability/      ketidak mampuan/kecatatan, dengan tepatEvaluasi   bersama   pasien   dan   tim kesehatan  lainnya,  mengenai efektifitas, pengontrolan nyeri yang pernah digunakan sebelumnyaBantu  keluarga  dalam   mencari  dan menyediakan dukunganGunakan metode penelitian yang sesuai dengan tahapan perkembangan yang memungkinkan untuk memonitor perubahan nyeri dan akan dapat membantu mengidentifikasi faktor pencetus aktual  dan  potensial (misalnya, catatan perkembangan, catatan harian)Tentukan  kebutuhan  frekuensi  untuk melakukan pengkajian ketidak nyamanan pasien dan mengimplementasikan rencana monitorBerikan   informasi  mengenai   nyeri, seperti penyebab nyeri, berapa nyeri yang dirasakan, dan antisipasi dari ketidak nyamanan akibat prosedurKendalikan   faktor  lingkungan   yang  dapat mempengaruhi   respon   pasien dari ketidaknyamanan (misalnya, suhu ruangan, pencahayaan, suara bising)Ajarkan prinsip manajemen nyeriPertimbangkan tipe dan sumber nyeri ketika   memilih  strategi   penurunan nyeriKolaborasi    dengan    pasien,    orang terdekat dan tim kesehatan lainnya untuk       memilih                 dan mengimplementasikan tindakan penurunan  nyeri nonfarmakologi, sesuai kebutuhanGunakan  tindakan pengontrolan  nyeri sebelum nyeri bertambah beratPastikan pemberian analgesik dan atau strategi nonfarmakologi sebelum prosedur yang menimbulkan nyeriPeriksa      tingkat     ketidaknyamananbersama pasien, catat perubahan dalam cacatan medis pasien, informasikan petugas kesehatan lain yang merawat pasienMulai     dan    modifikasi     tindakan pengontrolan nyeri berdasarkan respon pasienDukung  istirahat/tidur   yang   adekuat untuk membantu penurunan nyeriDorong  pasien  untuk  mendiskusikan pengalaman  nyerinya,  sesuai kebutuhanBeritahu   dokter  jika  tindakan  tidak berhasil  atau  keluhan  pasien  saat  ini berubah   signifikan   dari   pengalaman nyeri sebelumnyaGunakan   pendekatan   multi   disiplin untuk menajemen nyeri, jika sesuai     Pemberian analgesik   Tentukan  lokasi,  karakteris,  kualitas dan  keparahan  nyeri  sebelum mengobati pasienCek perintah pengobatan meliputi obat, dosis, dan frekuesi obat analgesik yang diresepkanCek adanya riwayat alergi obatPilih    analgesik    atau    kombinasi analgesik sesuai lebih dari satu kali pemberianMonitor   tanda   vital   sebelum   dan setelah memberikan analgesik pada pemberian dosis pertama kali atau jika ditemukan    tanda-tanda    yang    tidak biasanyaBerikan kebutuhan kenyamanan dan aktivitas lain yang dapat membantu relaksasi untuk memfasilitasi penuruna nyeriBerikan   analgesik   sesuai   waktu paruhnya, terutama pada nyeri yang beratDokumentasikan    respon    terhadap analgesik dan adanya efek sampingLakukan    tindakan-tindakan    yang menurunkan efek samping analgesik (misalnya, konstipasi dan iritasi lambung)Kolaborasikan  dengan dokter  apakah obat, dosis, rute, pemberian, atau perubahan interval dibutuhkan, buat rekomendasi       khusus       bedasarkan prinsip analgesik
2. Resiko     syok  berhubungan dengan perdarahan Definisi: beresiko terhadap ketidakcukupan aliran darah kejaringan tubuh, yang dapat mengakibatkan disfungsi seluler yang mengancam jiwa. Faktor resiko Hipotensi.HipovolemiHipoksemiaHipoksiaInfeksiSepsisSindrom   respon   inflamasi sestemik NOC: Setelah dilakukan perawatan selama 1×24  jam  diharapkan  tidak  terjadi  syok hipovolemik dengan kriteria: Tanda vital dalam batas normal.Tugor kulit baik.Tidak ada sianosis.Suhu kulit hangat.Tidak ada diaporesis.Membran mukosa kemerahan. Pencegahan Syok Monitor adanya respon konpensasi terhadap syok (misalnya, tekanan darah normal, tekanan nadi melemah, perlambatan pengisian kapiler, pucat/ dingin pada kulit atau kulit kemerahan, takipnea ringan, mual dan munta, peningkatan rasa haus, dan kelemahan)Monitor adanya tanda-tanda respon sindroma inflamasi sistemik (misalnya, peningkatan suhu, takikardi, takipnea, hipokarbia, leukositosis, leukopenia)Monitor terhadap adanya tanda awal reaksi alergi (misalnya, rinitis, mengi, stridor, dipnea,    gatal-gatal  disertai kemerahan, gangguan saluran pencernaan, nyeri abdomen, cemas dan gelisa)Monitor terhadap adanya tanda ketidak adekuatan perfusi oksigen kejaringan (misalnya, peningkatan stimulus, peningkatan kecemasan, perubahan status   mental,   egitasi,   oliguria   dan akral  teraba  dingin  dan  warna  kulit tidak merata)Monitor suhu dan status respirasiPeriksa urin terhadap adanya darah dan protein sesuai kebutuhanMonitor  terhadap  tanda/gejalah  asites dan nyeri abdomen atau punggung.Lakukan  skin-test  untuk  mengetahui agen  yang menyebabkan anaphiylaxis atau reaksi alergi sesuai kebutuhanBerikan saran kepada pasien yang beresiko  untuk  memakai  atau membawa   tanda   informasi   kondisi medis.Anjurkan    pasien      dan      keluarga mengenai tanda dan gejala syok yang mengancam jiwaAnjurkan      pasien      dan      keluarga mengenai langkah-langkah timbulnya gejala syok
3. Resiko  Infeksi  berhubungan dengan penurunan  imun tubuh sekunder akibat gangguan hematologis (perdarahan)   Definisi: Mengalami peningkatan resiko terserang organisme patogenik   Faktor yang berhubungan: Penyakit kronisDiabetes melitus b. ObesitasPengetahuan   yang   tidak cukup untuk menghindari pemanjanan patogenPertahanan    tubuh    primer yang tidak adekuatGangguan peritalsisKerusakan         integritas kulit (pemasangankateter intravena, prosedur invasif)Perubahan sekresi PHPenurunan kerja siliarisPecah ketuban diniPecah ketuban lamaMerokokStasis cairan tubuhTrauma               jaringan (misalnya,           trauma destruksi jaringan)Ketidak  adekuatan  jaringan sekunderPenurunan hemoglobinSupresi respon inflamasiVaksinasi tidak adekuatpemajanan terhadap patogen lingkungan meningkatprosedur invasifmalnutrisi NOC: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam, pasien mioma uteri menunjukkan pasien mampu melakukan pencegahan infeksi secara mandiri, ditandai dengan kriteria hasil: 1)  Kemerahan   tidak   ditemukan   pada tubuh 2)  Vesikel      yang     tidak     mengeras permukaannya 3)  Cairan tidak berbauk busuk   4)  Piuria/nanah tidak ada dalam urin 5)  Demam berkurang   6)  Nyeri berkurang   7)  Nafsu makan meningkat Manajemen Alat terapi per vaginam Kaji  ulang riwayat  kontraindikasih pemasangan alat pervaginam pada pasien  (misalnya,  infeksi  pelvis, laserasi, atau adanya massa sekitar vagina)Diskusikan     mengenai     aktivitas- aktivitas seksual yang sesuai sebelum memilih alat yang dimasukanLakukan pemeriksaan pelvisIntruksikan  pasien  untuk  melaporkan ketidaknyamanan,  disuria, perubahan warna, konsistensi,    dan    frekuensi cairan vaginaBerikan  obat-obat  berdasarkan  resep dokter untuk mengurangi iritasiKaji kemampuan    pasien     untuk melakukan perawatan secara mandiriObservasi  ada tidaknya  cairan vagina yang tidak normal dan berbauInfeksi adanya lubang, laserasi, ulserasi pada vagina Kontrol Infeksi Bersihkan   lingkungan   dengan   baik setelah digunakan untuk setiap pasienIsolasi  orang  yang  terkena  penyakit menularBatasi jumlah pengunjungAnjurkan pasien untuk mencuci tangan yang benarAnjurkan pengunjung untuk mencuci tangan pada saat memasuki dan meninggalkan ruangan pasienGunakan sabun antimikroba untuk cuci tangan yang sesuaiCuci tangan sebelum dan sesudah kegiatan perawatan pasienPakai  sarung  tangan  sebagaimana dianjurkan oleh kebijakan pencegahan universalPakai sarung tangan steril dengan tepatCukur   dan   siapkan    untuk   daerah persiapan prosedur invasif atau opersai sesuai indikasiPastikan  teknik  perawatan  luka  yang tepatTingkatkan inteke nutrisi yang tepatDorong intake cairan yang sesuaiDorong untuk beristirahatBerikan terapi anti biotik yang sesuaiAjarkan pasien dan keluarga mengenai tanda dan gejalah infeksi dan kapan harus melaporkannya kepada penyedia perawatan kesehatanAjarkan pasien dan keluarga mengenai bagaimana menghindari infeksi
4. Retensi urine  berhubungan dengan penekanan oleh massa jaringan  neoplasma  pada organ sekitarnya, gangguan sensorik motorik.   Definisi: pengosongan kantung kemih tidak komplit Batasan karakteristik: Tidak ada keluaran urinDistensi kandung kemihMenetesDisuriaSering berkemihInkontinensia aliran berlebihResidu urinSensasi     kandung     kemih penuhBerkemih sedikit   Faktor yang berhubungan   SumbatanTekanan ureter tinggiInhibishi arkus reflex NOC:  setelah  dilakukan  tindakan  keperawatan 1x  24  jam diharapkan eliminasi  urin kembali normal dengan kriteria hasil: Pola eliminasi kembali normalBau urin tidak adaJumlah urin dalam batas normalWarna urin normalIntake cairan dalam batas normalNyeri saat kencing tidak ditemukan Manajemen eliminasi urin: Monitor   eliminasi   urin   termasuk frekuensi, konsistensi, bau, volume dan warna urin sesuai kebutuhan.Monitor tanda dan gejala retensio urin.Ajarkan pasien tanda dan gejala infeksi saluran kemih.Anjurkan pasien atau keluarga untuk melaporkan urin uotput sesuai kebutuhan.Anjurkan pasien untuk banyak minum saat makan dan waktu pagi hari.Bantu pasien dalam mengembangkan rutinitas toileting sesuai kebutuhan.Anjurkan   pasien   untuk   memonitor tanda            dan   gejalah   infeksi   saluran kemih.   Kateterisasi Urin Jelaskan prosedur dan alasan dilakukan kateterisasi urin.Pasang kateter sesuai kebutuhan.Pertahankan teknik aseptik yang ketat.Posisikan    pasien    dengan    tepat (misalnya,  perempuan  terlentang dengan kedua kaki diregangkan atau fleksi pada bagian panggul dan lutut).Pastikan     bahwa     kateter     yang dimasukan     cukup     jauh     kedalamAnjurkan pasien untuk banyak minum saat makan dan waktu pagi hari.Bantu pasien dalam mengembangkan rutinitas toileting sesuai kebutuhan.Anjurkan   pasien   untuk   memonitor tanda            dan   gejalah   infeksi   saluran kemih. Kateterisasi Urin Jelaskan prosedur dan alasan dilakukan kateterisasi urin.Pasang kateter sesuai kebutuhan.Pertahankan teknik aseptik yang ketat.Posisikan    pasien    dengan    tepat (misalnya, perempuan terlentang dengan kedua kaki diregangkan atau fleksi pada bagian panggul dan lutut).Pastikan     bahwa     kateter     yang dimasukan     cukup     jauh     kedalam kandung    kemih    untuk    mencegah trauma  pada  jaringan  uretra  dengan inflasi balonIsi balon kateter untuk menetapkan kateter, berdasarkan usia dan ukuran tubuh         sesuai    rekomendasi    pabrik (misalnya, dewasa 10 cc, anak 5 cc)Amankan kateter pada kulit dengan plester yang sesuai.Monitor intake dan output.Dokumentasikan perawatan termasuk ukuran  kateter,  jenis,  dan  pengisian bola kateter
5. Konstipasi berhubungan dengan penekanan pada rectum (prolaps rectum) Definisi: penurunan pada frekuensi normal defekasi yang disertai    oleh   kesulitan    atau pengeluaran tidak lengkap feses atau   pengeluaran   feses   yang kering, keras, dan banyak. Batasan karakteristik Nyeri abdomenNyeri tekan abdomen dengan teraba resistensi ototNyeri  tekan  abdomen tanpa teraba resistensi ototAnoraksiaPenampilan tidak khas pada lansiaDarah merah pada fesesPerubahan pola defekasiPenurunan frekuensiPenurunan volume fesesDistensia abdomenRasa rektal penuhRasa tekanan rektalKeletihan umumFeses keras dan berbentukSakit kepalaBising usus hiperaktifBising usus hipoaktifPeningkatan             tekanan abdomenTidak dapat makan, mualRembesan feses cairNyeri pada saat defekasiMassa abdomen yang dapat diraba   Faktor yang berhubungan FunfsionalKelemahan otot abdomenKetidak           adekuatan toiletingKurang aktifitas fisikKebiasaan defekasi tidak teraturPsikologisDefresi, stres, emosiKonfusi mentalFarmakologiMekanisfiologis NOC: setelah dilakukan perawatan selama 1 x 24   jam   pasien   diharapkan   konstipasi   tidak   ada dengan kriteria hasil: 1)  Tidak ada irita bilitas   2)  Mual tidak ada   3)  Tekanan darah dalam batas normal 4)  Berkeringat       Keparahan Gejalah   1)  Intensitas gejalah   2)  Frekuensi gejalah   3)  Terkait ketidak nyamanan   4)  Gangguan mobilitas fisik   5)  Tidur yang kurang cukup   6)  Kehilangan nafsu makan Manajemen saluran cerna Monitor bising ususLapor peningkatan frekuensi dan bising usus bernada tinggiLapor berkurangnya bising ususMonitor   adanya   tanda   dan   gejalah diare, konstipasi dan impaksiCatat masalah BAB yang sudah ada sebelumnya, BAB rutin, dan penggunaan laksatifMasukan supositorial rektal, sesuai dengan kebutuhanIntruksikan pasien mengenai makanan tinggi serat, dengan cara yang tepatEvaluasi profil medikasi terkait dengan efek samping gastrointestinal   Manajemen konstipasi/inpaksi   Monitor tanda dan gejala konstipasiMonitor tanda dan gejala impaksiMonitor bising ususJelaskan penyebab dari masalah dan rasionalisasi tindakan pada pasienDukung   peningkatan   asupan   cairan, jika tidak ada kontraindikasiEvaluasi   pengobatan   yang   memiliki efek samping pada gastrointestinalIntruksikan  pada  pasien  dan  atau keluarga  untuk  mencatat  warna, volume, frekuensi dan konsistensi dari fesesIntruksikan   pasien   atau   keluarga mengenai hubungan antara diet latihan dan asupan cairan terhadap kejadian konstipasi atau impaksiEvaluasi catatan asupan untuk apa saja nutrisi yang telah dikonsumsiBerikan petunjuk kepada pasien untuk dapat berkonsultasi dengan dokter jika konstipasi atau impaksi masih tetap terjadiInformasukan kepada pasien mengenai prosedur untuk mengeluarkan feses secara manual jika di perlukanajarkan pasien atau keluarga mengenai proses pencernaan normal

DAFTAR PUSTAKA

Apriyani, Yosi. 2003. Analisa Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Mioma Uteri di RSUD dr. Adhyatma Semarang. Jurnal Kebidanan. Vol. 2 No. 5 

Aspiani, Y, R. (2007). Buku Ajar Asuhan Keperawatan Maternitas. Jakarta: TIM

Aimee, et al. (2007). Association of Intrauterine and Early-Life Exposures with Diagnosis of Uterine Leimyomata by 35 Years of Age in the Sister Study. Environmental Health Perpectives. Volume 118. No 3 pages 375-   

Bararah, T., Mohammad Jauhar. 2013. Asuhan Keperawatan; panduan Lengkap menjadi Perawat Profesional. Jilid 2. Jakarta : Prestasi Pustaka.

Copaescu, C. (2007). Laparoscopic Hysterectomy. Chirurgia (Bucur). Volume 102. No. 2. Romanian  

Manuaba. (2007). Pengantar Kuliah Obstetri. Jakarta: EGC

Manuaba. (2009). Memahami Kesehatan Reproduksi Wanita. Edisi 2. Jakarta: EGC

NANDA. (2015). Diagnosa Keperawatan Definisi & Klasifikasi 2015-2017 edisi    (Budi Anna Keliat dkk, penerjemah). Jakarta: EGC

Nugroho, T. (2012). Obstetri dan Ginekologi. Yokyakarta: Nuha Medika

Robbins. (2007). Buku Ajar Patologi. Edisi 7. Jakarta: EGC

RSUP. Dr. M. Djamil.(2016). Laporan Catatan Rekam Medik (RM): Mioma Uteri

Setiati, Eni. (2009). Waspadai 4 Kanker Ganas Pembunuh Wanita. Yokyakarta: Andi

Laporan Pendahuluan dengan HERNIA

LAPORAN PENDAHULUAN

HERNIA

      A.    Pengertian

Hernia adalah penonjolan isi suatu rongga melalui defek atau bagian lemah dari dinding rongga bersangkutan. Pada hernia abdomen isi perut menonjol melalui defek atau bagian lemah dari lapisan dinding perut (Sjamsuhidayat, 2004).

Hernia adalah proporsi abnormal organ jaringan atau bagian organ melalui stuktur yang secara normal berisi bagian ini. Hernia paling sering terjadi pada rongga abdomen sebagai akibat dari kelemahan muskular abdomen konginental atau didapat (Ester, 2004).

Hernia adalah menonjolnya suatu organ atau struktur organ dari tempatnya yang normal melalui sebuah defek kongenitalatau yang didapat (Long, 2002).

  • Etiologi
  1. Umur

Penyakit ini dapat diderita oleh semua kalangan tua, muda, pria maupun wanita. Pada Anak – anak penyakit ini disebabkan karena kurang sempurnanya procesus vaginalis untuk menutup seiring dengan turunnya testis. Pada orang dewasa khususnya yang telah berusia lanjut disebabkan oleh melemahnya jaringan penyangga usus atau karena adanya penyakit yang menyebabkan peningkatan  tekanan dalam rongga perut.

  1. Jenis Kelamin

            Hernia yang sering diderita oleh laki – laki biasanya adalah jenis hernia Inguinal. Hernia Inguinal adalah penonjolan yang terjadi pada daerah selangkangan, hal ini disebabkan oleh proses perkembangan alat reproduksi. Penyebab lain kaum adam lebih banyak terkena penyakit ini disebabkan karena faktor profesi, yaitu pada buruh angkat atau buruh pabrik. Profesi  buruh yang sebagian besar pekerjaannya  mengandalkan kekuatan otot mengakibatkan adanya peningkatan tekanan dalam rongga perut sehingga menekan isi hernia keluar dari otot yang lemah tersebut

  1. Penyakit penyerta

Penyakit penyerta yang sering terjadi pada hernia adalah seperti pada kondisi tersumbatnya saluran kencing, baik akibat batu kandung kencing atau pembesaran prostat, penyakit kolon, batuk kronis, sembelit atau konstipasi kronis dan lain-lain. Kondisi ini dapat memicu terjadinya tekanan berlebih pada abdomen yang dapat menyebabkan keluarnya usus melalui rongga yang lemah.

  1. Keturunan

Resiko lebih besar jika ada keluarga terdekat yang pernah terkena hernia.

  1. Obesitas

Berat badan yang berlebihan menyebabkan tekanan berlebih pada tubuh, termasuk di bagian perut. Ini bisa menjadi salah satu pencetus hernia. Peningkatan tekanan tersebut dapat menjadi pencetus terjadinya penonjolan organ melalui dinding organ yang lemah.

  1. Kehamilan

Kehamilan dapat melemahkan otot di sekitar perut sekaligus memberi tekanan lebih di bagian perut. Kondisi ini juga dapat menjadi pencetus terjadinya hernia.

  1. Pekerjaan

Beberapa jenis pekerjaan yang membutuhkan daya fisik dapat menyebabkan terjadinya hernia. Contohnya, pekerjaan buruh angkat barang. Aktivitas yang berat dapat mengakibatkan peningkatan tekanan yang terus-menerus pada otot-otot abdomen. Peningkatan tekanan tersebut dapat menjadi pencetus terjadinya prostrusi atau penonjolan organ melalui dinding organ yang lemah.

  1. Kelahiran prematur

Bayi yang lahir prematur lebih berisiko menderita hernia inguinal daripada bayi yang lahir normal karena penutupan kanalis inguinalis belum sempurna, sehingga memungkinkan menjadi jalan bagi keluarnya organ atau usus melalui kanalis inguinalis tersebut. Apabila seseorang pernah terkena hernia, besar kemungkinan ia akan mengalaminya lagi.(Giri Made Kusala, 2009).

  • Manifestasi klinik

Pada umumnya keluhan pada orang dewasa berupa benjolan di lipat paha, benjolan tersebut bisa mengecil dan menghilang pada saat istirahat dan bila menangis, mengejan mengangkat beban berat atau dalam posisi berdiri dapat timbul kembali, bila terjadi komplikasi dapat ditemukan nyeri, keadaan umum biasanya baik pada inspeksi ditemukan asimetri pada kedua sisi lipat paha, scrotum atau pada labia dalam posisi berdiri dan berbaring pasien diminta mengejan dan menutup mulut dalam keadaan berdiri  palpasi dilakukan dalam keadaan ada benjolan hernia, diraba konsistensinya dan dicoba mendorong apakah benjolan dapat di reposisi  dengan jari telunjuk atau jari kelingking pada anak-anak kadang cincin hernia dapat diraba berupa annulus inguinalis yang melebar.

Pemeriksaan melalui scrotum jari telunjuk dimasukkan ke atas lateral dari tuberkulum pubikum, ikuti fasikulus spermatikus sampai ke anulus inguinalis internus pada keadaan normal jari tangan tidak dapat masuk, bila masa tersebut menyentuh ujung jari maka itu adalah hernia inguinalis lateralis, sedangkan bila menyentuh sisi jari maka itu adalah hernia inguinalis medialis.

Menurut sumber lain, gambaran klinis hernia meliputi :   

  1. Berupa benjolan
  2. Adanya rasa nyeri pada daerah benjolan
  3. Terdapat gejala mual dan muntah atau distensi bila telah ada komplikasi
  4. Terdapat keluhan kencing berupa disuria pada hernia femoralis yang berisi   kandung kencing
  • Patofisiologi

Hernia berkembang ketika intra abdominal mengalami pertumbuhan tekanan seperti tekanan pada saat mengangkat sesuatu yang berat, pada saat buang air besar atau batuk yang kuat atau bersin dan perpindahan bagian usus ke daerah otot abdominal, tekanan yang berlebihan pada daerah abdominal itu tentu saja akan menyebabkan suatu kelemahan mungkin disebabkan dinding abdominal yang tipis atau tidak cukup kuatnya pada daerah tersebut dimana kondisi itu ada sejak atau terjadi dari proses perkembangan yang cukup lama, pembedahan abdominal, kemudian terjadi hernia. Karena organ– organ selalu saja melakukan pekerjaan yang berat dan berlangsung dalam waktu yang cukup lama, sehingga terjadilah penonjolan yang mengakibatkan kerusakan yang sangat parah. Sehingga akhirnya menyebabkan kantung yang terdapat dalam perut menjadi atau mengalami kelemahan.

  • PATHWAY
  • PEMERIKSAAN PENUNJANG
  1. Foto Abdomen

Dapat menyatakan adanya kengerasan material pada apendiks (fekalit), ileus terlokalisis.

  1. Urinalisis

Munculnya bakteri yang mengidentifikasi infeksi.

  1. Elektrolit

Ketidakseimbangan akan menunggu fungsi organ, misalnya penurunan kalium akan mempengaruhi kontraktilitan otot jantung, mengarah kepada penurunan curah jantung.

  1. AGD (Analisa Gas Darah)

Mengevaluasi status pernafasan terakhir.

  1. ECG (Elektrocardiograf)

Penemuan akan sesuatu yang tidak normal membutuhkan prioritas perhatian untuk memberikan anestesi.

  1. Pemeriksaan Laboratorium.
  2. Pemeriksaan darah lengkap.
  • Penatalaksanaan medis
  1. Secara konservatif (non operatif)
  2. Reposisi hernia

Hernia dikembalikan pada tempat semula bisa langsung dengan tangan

  • Penggunaan alat penyangga dapat dipakai sebagai pengelolaan sementara, misalnya pemakaian korset
  1. Secara operatif
  2. Hernioplasti

Memindahkan fasia pada dinding perut yang lemah, hernioplasti sering dilakukan pada anak – anak

  • Herniographi

Pada bedah elektif, kanalis dibuka, isi hernia di masukkan, kantong diikat, dan dilakukan bainy plasty atau teknik yang lain untuk memperkuat dinding belakang kanalis inguinalis. Ini sering dilakukan pada orang dewasa

  • Herniotomi

Seluruh hernia dipotong dan diangkat lalu dibuang. Ini dilakukan pada klien dengan hernia yang sudah nekrosis

  • Komplikasi
  1. Hernia berulang
  2. Kerusakan pada pasokan darah, testis atau saraf jika pasienlaki-laki,
  3. Pendarahan yang berlebihan / infeksi lluka bedah,
  4. Luka pada usus (jika tidak hati-hati),
  5. Setelah herniografi dapat terjadi hematoma,
  6. Fostes urin dan feses,
  7. Residip,
  8. Komplikasi lama merupakan atropi testis karena lesi

Komplikasi pembedahan :

  1. Hematoma ( luka atau pada scrotum )
  2. Retensi urine akut
  3. Infeksi pada luka
  4. Nyeri kronis
  5. Nyeri pada pembengkakan testis yang menyebabkan atrofi testis
  6.     Rekurensi hernia ( sekitar 2% )
  1. Diagnosa Keperawatan dan Intervensi

Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul dan intervensi yang dapat dilakukan adalah:

  1. Gangguan rasa nyaman (nyeri) sehubungan  dengan kompresi syaraf, spasme otot

                        Kriteria hasil:

  • Melaporkan nyeri hilang dan terkontrol.
  • mengungkapkan metode yang memberi penghilangan.
  • mendemonstrasikan penggunaan intervensi terapeutik.

                        Intervensi:

  1. Kaji adanya keluhan nyeri, catat lokasi lamanya serangan, faktor pencetus atau yang memperberat

        Rasional: Membantu menentukan pilihan intervensi dan memberikan dasar untuk perbandingan dan evaluasi terhadap terapi

  • Pertahankan tirah baring selama fase akut letakkan pasien pada posisi semi fowler dengan tulang spinal, pinggang dan lutut dalam keadaan fleksi, posisi terlentang dengan atau tanpa meninggikan kepala 10-30 derajat pada posisi lateral

Rasional: Tirah baring dalam posisi yang nyaman memungkinkan pasien untuk menurunkan spasme otot menurunkan penekanan pada bagian tubuh tertentu dan memfasilitasi terjadinya reduksi dari tonjolan discus.

  • Batasi aktivitas selama fase akut sesuai dengan kebutuhan

        Rasional: Menurunkan gaya gravitasi dan gerak yang dapat menghilangkan spasme otot dan menurunkan edema dan tekanan pada struktur sekitar discus intervertebralis.

  • Instruksikan pada pasien untuk melakukan teknik relaksasi atau visualisasi

Rasional: Memfokuskan perhatian klien membantu menurunkan tegangan otot dan meningkatkan proses penyembuhan.

  • Kolaborasi dalam pemberian terapi

Rasional: Intervensi cepat dan mempercepat proses penyembuhan.

  • Koping individu tidak efektif (ansietas) sehubungan dengan krisis    situasional, perubahan status kesehatan

Kriteria hasil:

  • Tampak rileks dan melaporkan ansietas berkurang.
  • Mengkaji situasi terbaru dengan akurat mendemonstrasikan ketrampilan pemecahan masalah.

Intervensi:

  1. Kaji tingkat ansietas klien, tentukan bagaimana pasien menangani  masalahnya sebelumnya dan sekarang

Rasional: Mengidentifikasi keterampilan untuk mengatasi keadaannya sekarang.

  • Berikan informasi yang akurat

Rasional: Memungkinkan pasien untuk membuat keputusan yang didasarkan pada pengetahuannya.

  • Berikan kesempatan pada klien untuk mengungkapkan masalah yang dihadapinya

Rasional: Kebanyakan pasien mengalami permasalahan yang perlu diungkapkan dan diberi respon.

  • Catat perilaku dari orang terdekat atau keluarga yang meningkatkan peran sakit pasien

            Rasional: Orang terdekat mungkin secara tidak sadar memungkinkan pasien untuk mempertahankan ketergantungannya.

  • Kerusakan mobilitas fisik sehubungan dengan nyeri, spasme otot

Kriteria hasil:

  • Mengungkapkan pemahaman tentang situasi atau faktor resiko dan aturan pengobatan individual.

Intervensi:

  1. Berikan tindakan pengamanan sesuai indikasi dengan situasi yang spesifik

Rasional: Tergantung pada bagian tubuh yang terkena atau jenis prosedur yang kurang hati-hati akan meningkatkan kerusakan spinal.

  • Catat respon emosi atau perilaku pada saat immobilisasi, berikan aktivitas yang disesuaikan dengan pasien

Rasional: Immobilitas tang dipaksakan dapat memperbesar kegelisahan, peka terhadap rangsang.

  • Bantu pasien dalam melakukan aktivitas ambulasi progresif

           Rasional: Keterbatasan aktivitas tergantung pada kondisi tang khusus tetapi biasanya berkembang dengan lambat sesuai toleransi.

  • Ikuti aktivitas atau prosedur dengan periode istirahat

Rasional: Meningkatkan penyembuhan dan membentuk kekuatan otot.

  • Berikan atau bantu pasien untuk melakukan latihan rentang gerak aktif, dan pasif

           Rasional: Memperkuat otot abdomen dan fleksor tulang belakang, memperbaiki mekanika tubuh.

  • Resiko perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan muntah, mual, gangguan peristaltic usus

Kriteria hasil:

  • Meningkatkan masukan oral.
  • Menjelaskan faktor penyebab apabila diketahui.

Intervensi:

  1. Tentukan kebutuhan kalori harian yang adekuat, kolaborasi dengan ahli gizi.

Rasional: Mencukupi kalori sesuai kebutuhan, memudahkan menentukan intervensi yang sesuai dan mempercepat proses penyembuhan.

  • Jelaskan pentingnya nutrisi yang adekuat, negosiasikan dengan klien tujuan masukan untuk setiap kali makan dan makan makanan kecil

Rasional: Klien dapat mengontrol masukan nutrisi yang adekuat sesuai kebutuhan, yang digunakan sebagai cadangan energi yang untuk beraktivitas.

  • Timbang berat badan dan pantau hasil laboratorium

Rasional: Dapat digunakan untuk memudahkan melakukan intervensi yang akurat dan sesuai dengan kondisi klien.

  • Anjukan klien untuk menjaga kebersihan mulut secara teratur pantau klien dalam melakukan personal hygiene.

Rasional: Meningkatkan nafsu makan dan memberi kenyamanan dalam mengkonsumsi makanan sehingga kebutuhan kalori terpenuhi.

      5)     Atur rencana perawatan untuk mengurangi atau menghilangkan ketidaknyamanan yang dapat menyebabkan mual, muntah, dan mengurangi nafsu makan

            Rasional: Menentukan intervensi yang sesuai meningkatkan masukan oral.

  • Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan aliran darah  pembentukan hematoma

Kriteria hasil:

  • Melaporkan atau mendemonstrasikan situasi normal.

Intervensi:

  1. Lakukan penilaian terhadap fungsi neurologist secara periodik

Rasional: Penurunan atau perubahan mungkin mencerminkan resolusi edema, inflamasi sekunder.

  • Pertahankan pasien dalam posisi terlentang sempurna selama beberapa jam

Rasional: Penekanan pada daerah operasi dapat menurunkan resiko hematoma.

  • Pantau tanda-tanda vital catat kehangatan, pengisian kapiler

Rasional: Perubahan kecepatan nadi mencerminkan hipovolemi akibat kehilangan darah, pembatasan pemasukan oral mual, muntah.

  • Kolaborasi dalam pemberian cairan atau darah sesuai indikasi

Rasional: Terapi cairan pengganti tergantung pada derajat hipovolemi.

DAFTAR PUSTAKA

Long, Barbara C. (2002). Perawat Medical Bedah. Volume I. (terjemahan). Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Pajajaran: Bandung

Mansjoer, A. (2000). Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3. Jilid II. Media Aesculapius FKUI: Jakarta

Poppy Kumala, dkk. (2005).  Kamus Saku Kedokteran Dorland. EGC: Jakarta

R. Sjamsuhidayat & Wim, D.J. (2004). Buku Ajar Ilmu Bedah. Penerbit Buku Kedokteran EGC: Jakarta

Nanda International, 2012, Diagnosa Keperawatan : Definisi dan Klasifikasi 2012;2014. Jakarta : EGC

Syamsuhidayat, 1997, Ilmu Bedah. Jakarta :EGC

Wong, Donna L, 2004, Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik. Jakarta : EGC.

Makalah Stunting

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Perkembangan masalah gizi di Indonesia dapat dikelompokkan menjadi 3, yaitu: Masalah gizi yang secara public health sudah terkendali; Masalah yang belum dapat diselesaikan (un-finished); dan Masalah gizi yang sudah meningkat dan mengancam kesehatan masyarakat (emerging). Masalah gizi lain yang juga mulai teridentifikasi dan perlu diperhatikan adalah defisiensi vitamin D.

Masalah gizi yang sudah dapat dikendalikan meliputi kekurangan Vitamin A pada anak Balita, Gangguan Akibat Kurang Iodium dan Anemia Gizi pada anak 2-5 tahun. Penanggulangan masalah Kurang Vitamin A (KVA) pada anak Balita sudah dilaksanakan secara intensif sejak tahun 1970-an, melalui distribusi kapsul vitamin A setiap 6 bulan, dan peningkatan promosi konsumsi makanan sumber vitamin A. Dua survei terakhir tahun 2007 dan 2011 menunjukkan, secara nasional proporsi anak dengan serum retinol kurang dari 20 ug sudah di bawah batas masalah kesehatan masyarakat, artinya masalah kurang vitamin A secara nasional tidak menjadi masalah kesehatan masyarakat.

Penanggulangan GAKI dilakukan sejak tahun 1994 dengan mewajibkan semua garam yang beredar harus mengandung iodium sekurangnya 30 ppm. Data status Iodium pada anak sekolah sebagai indikator gangguan akibat kurang Iodium selama 10 tahun terakhir menunjukkan hasil yang konsisten. Median Ekskresi Iodium dalam Urin (EIU) dari tiga survai terakhir berkisar antara 200-230 g/L, dan proporsi anak dengan EIU <100 g/L di bawah 20%. Secara nasional masalah gangguan akibat kekurangan Iodium tidak lagi menjadi masalah kesehatan masyarakat.

Masalah gizi ketiga yang sudah bisa dikendalikan adalah anemia gizi pada anak 2-5 tahun. Prevalensi anemia pada anak mengalami penurunan, yakni 51,5% (1995) menjadi 25,0% (2006) dan 17,6% (2011).

Masalah gizi yang belum selesai adalah masalah gizi kurang dan pendek (stunting). Pada tahun 2010 prevalensi anak stunting 35.6 %, artinya 1 diantara tiga anak kita kemungkinan besar pendek. Sementara prevalensi gizi kurang telah turun dari 31% (1989), menjadi 17.9% (2010). Dengan capaian ini target MDGs sasaran 1 yaitu menurunnya prevalensi gizi kurang menjadi 15.5% pada tahun 2015 diperkirakan dapat dicapai.

Riskesdas 2010 menunjukkan bahwa 35,6% anak Indonesia “stunted”. Sebagai akibatnya, produktivitas individu menurun dan masyarakat harus hidup dengan penghasilan yang rendah.Stunting atau penurunan tingkat pertumbuhan pada manusia utamanya disebabkan oleh kekurangan gizi. Lebih jauh lagi, kekurangan gizi ini disebabkan oleh rusaknya mukosa usus oleh bakteri fecal yang mengakibatkan terjadinya gangguan absorbsi zat gizi. Dengan demikian, peningkatan cakupan sanitasi dan perilaku hygiene sebesar 99% dapat membantu menurunkan insiden diare sebesar 30% dan menurunkan prevalensi stuntingsebesar 2,4%.

Sudah bukan rahasia lagi bahwa sanitasi buruk mengakibatkan beragam dampak negatif, baik bagi kesehatan, ekonomi maupun lingkungan. Saat ini, tantangan pembangunan sanitasi semakin berat dengan adanya temuan bahwa sanitasi buruk mengakibatkan sebagian besar generasi penerus bangsa terdiagnosa stunted. Sanitasi buruk dan air minum yang terkontaminasi mengakibatkan diare yang mengganggu penyerapan zat-zat gizi dalam tubuh. Akibatnya, anak-anak tidak mendapatkan zat gizi yang memadai sehingga pertumbuhannya terhambat.

  • Rumusan Masalah

Bedasarkan latar belakang diatas maka yang menjadi rumusan masalah bagaimana cara mencegah masalah stunting di pada anak balita.

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Defenisi Stunting

Stunting merupakan istilah para nutrinis untuk penyebutan anak yang tumbuh tidak sesuai dengan ukuran yang semestinya (bayi pendek). Stunting (tubuh pendek) adalah keadaan tubuh yang sangat pendek hingga melampaui defisit 2 SD dibawah median panjang atau tinggi badan populasi yang menjadi referensi internasional. Stunting adalah keadaan dimana tinggi badan berdasarkan umur rendah, atau keadaan dimana tubuh anak lebih pendek dibandingkan dengan anak – anak lain seusianya (MCN, 2009). Stunted adalah tinggi badan yang kurang menurut umur (<-2SD), ditandai dengan    terlambatnya pertumbuhan anak yang mengakibatkan kegagalan dalam mencapai tinggi badan yang normal dan sehat sesuai usia anak. Stunted merupakan kekurangan gizi kronis atau kegagalan pertumbuhan dimasa lalu dan digunakan sebagai indikator jangka panjang untuk gizi kurang pada anak.

Stunting dapat didiagnosis melalui indeks antropometrik tinggi badan menurut umur yang mencerminkan pertumbuhan linier yang dicapai pada pra dan pasca persalinan dengan indikasi kekurangan gizi jangka panjang, akibat dari gizi yang tidak memadai dan atau kesehatan. Stunting merupakan pertumbuhan linier yang gagal untuk mencapai potensi genetic sebagai akibat dari pola makan yang buruk dan penyakit (ACC/SCN, 2000).

Stunting didefinisikan sebagai indikator status gizi TB/U sama dengan atau kurang dari minus dua standar deviasi (-2 SD) dibawah rata-rata standar atau keadaan dimana tubuh anak lebih pendek dibandingkan dengan anak – anak lain seusianya (MCN, 2009) (WHO, 2006). Ini adalah indikator kesehatan anak yang kekurangan gizi kronis yang memberikan gambaran gizi pada masa lalu dan yang dipengaruhi lingkungan dan keadaan sosial ekonomi.

  • Penyebab Stunting

Menurut beberapa penelitian, kejadian stunted pada anak merupakan suatu proses kumulatif yang terjadi sejak kehamilan, masa kanak-kanak dan sepanjang siklus kehidupan. Pada masa ini merupakan proses terjadinya stunted pada anak dan peluang peningkatan stunted terjadi dalam 2 tahun pertama kehidupan.

Faktor gizi ibu sebelum dan selama kehamilan merupakan penyebab tidak langsung yang memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan dan perkembangan janin. Ibu hamil dengan gizi kurang akan menyebabkan janin mengalami intrauterine growth retardation (IUGR), sehingga bayi akan lahir dengan kurang gizi, dan mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembangan.

Anak-anak yang mengalami hambatan dalam pertumbuhan disebabkan kurangnya asupan makanan yang memadai dan penyakit infeksi yang berulang, dan meningkatnya kebutuhan metabolic serta mengurangi nafsu makan, sehingga meningkatnya kekurangan gizi pada anak. Keadaan ini semakin mempersulit untuk mengatasi gangguan pertumbuhan yang akhirnya berpeluang terjadinya stunted (Allen and Gillespie, 2001).\

Gizi buruk kronis (stunting) tidak hanya disebabkan oleh satu faktor saja seperti yang telah dijelaskan diatas, tetapi disebabkan oleh banyak faktor, dimana faktor-faktor tersebut saling berhubungan satu sama lainnnya. Terdapat tiga faktor utama penyebab stunting yaitu sebagai berikut :

  1. Asupan makanan tidak seimbang (berkaitan dengan kandungan zat gizi dalam makanan yaitu karbohidrat, protein,lemak, mineral, vitamin, dan air).
  2. Riwayat berat badan lahir rendah (BBLR),
  3. Riwayat penyakit.
  • Faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Stunting

Beberapa faktor yang terkait dengan kejadian stunted antara lain kekurangan energi dan protein, sering mengalami penyakit kronis, praktek pemberian makan yang tidak sesuai dan faktor kemiskinan. Prevalensi stunted meningkat dengan bertambahnya usia, peningkatan terjadi dalam dua tahun pertama kehidupan, proses pertumbuhan anak masa lalu mencerminkan standar gizi dan kesehatan.

Menurut laporan UNICEF (1998) beberapa fakta terkait stunted dan pengaruhnya antara lain sebagai berikut :

  1. Anak-anak yang mengalami stunted lebih awal yaitu sebelum usia enam bulan, akan mengalami stunted lebih berat menjelang usia dua tahun. Stunted yang parah pada anak-anak akan terjadi deficit  jangka panjang dalam perkembangan fisik dan mental sehingga tidak   mampu untuk belajar secara optimal di sekolah, dibandingkan anak- anak dengan tinggi badan normal. Anak-anak dengan stunted cenderung lebih lama masuk sekolah dan lebih sering absen dari sekolah dibandingkan anak-anak dengan status gizi baik. Hal ini memberikan  konsekuensi terhadap kesuksesan anak dalam  kehidupannya dimasa yang akan datang.
  2. Stunted akan sangat mempengaruhi kesehatan dan perkembanangan anak. Faktor dasar yang menyebabkan stunted dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan intelektual. Penyebab dari stunted adalah bayi berat lahir rendah, ASI yang tidak memadai, makanan  tambahan yang tidak sesuai, diare berulang, dan infeksi pernapasan. Berdasarkan penelitian sebagian besar anak-anak dengan stunted mengkonsumsi makanan yang berada di bawah ketentuan  rekomendasi kadar gizi, berasal dari keluarga miskin dengan jumlah keluarga banyak, bertempat tinggal di wilayah pinggiran kota dan komunitas pedesaan.
  3. Pengaruh gizi pada anak usia dini yang mengalami stunted dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan kognitif yang  kurang. Anak stunted pada usia lima tahun cenderung menetapsepanjang hidup, kegagalan pertumbuhan anak usia dini berlanjut pada masa remaja dan kemudian tumbuh menjadi wanita dewasa yang stunted dan mempengaruhi secara langsung pada kesehatan dan produktivitas, sehingga meningkatkan peluang melahirkan anak  dengan BBLR. Stunted terutama berbahaya pada perempuan, karena lebih cenderung menghambat dalam proses pertumbuhan dan berisiko lebih besar meninggal saat melahirkan.
  • Penilaian Stunting secara Antropometri

Untuk menentukan stunted pada anak dilakukan dengan cara pengukuran. Pengukuran tinggi badan menurut umur dilakukan pada anak usia di atas 2 tahun. Antropometri merupakan    ukuran dari tubuh, sedangkan antropometri gizi adalah jenis pengukuran dari beberapa bentuk tubuh dan komposisi tubuh menurut umur dan tingkatan gizi, yang digunakan untuk mengetahui ketidakseimbangan protein dan energi. Antropometri dilakukan untuk pengukuran pertumbuhan tinggi badan dan berat badan (Gibson, 2005).

Standar digunakan untuk standarisasi pengukuran berdasarkan rekomendasi NCHS dan WHO. Standarisasi pengukuran ini membandingkan pengukuran anak dengan median, dan standar deviasi atau Z-score untuk usia dan jenis kelamin yang sama pada anak- anak. Z-score adalah unit standar deviasi untuk mengetahui perbedaan antara nilai individu dan nilai tengah (median) populasi referent untuk usia/tinggi yang sama, dibagi dengan standar deviasi dari nilai populasi rujukan. Beberapa keuntungan penggunaan Z-score antara lain untuk mengiidentifikasi nilai yang tepat dalam distribusi perbedaan indeks dan perbedaan usia, juga memberikan manfaat untuk menarik kesimpulan secara statistik dari pengukuran antropometri.

Indikator antropometrik seperti tinggi badan menurut umur (stunted) adalah penting dalam mengevaluasi kesehatan dan status gizi anak-anak pada wilayah dengan banyak masalah gizi buruk. Dalam menentukan klasifikasi gizi kurang dengan stunted sesuai dengan ”Cut off point”, dengan penilaian Z-score, dan pengukuran pada anak balita berdasarkan tinggi badan menurut Umur (TB/U) Standar baku WHO-NCHS berikut (Sumber WHO 2006)

  • Dampak Stunting

Stunting dapat mengakibatkan penurunan intelegensia (IQ), sehingga prestasi belajar menjadi rendah dan  tidak dapat melanjutkan sekolah. Bila mencari pekerjaan, peluang gagal tes wawancara pekerjaan  menjadi besar dan tidak mendapat pekerjaan yang baik, yang berakibat penghasilan rendah (economic productivity hypothesis) dan tidak dapat mencukupi kebutuhan pangan. Karena itu anak yang menderita stunting berdampak tidak hanya pada fisik yang lebih pendek saja, tetapi juga pada kecerdasan, produktivitas dan prestasinya kelak setelah dewasa, sehingga akan menjadi beban negara. Selain itu dari aspek estetika, seseorang yang tumbuh proporsional akan kelihatan lebih menarik dari yang tubuhnya pendek.

Stunting yang terjadi pada masa anak merupakan faktor risiko meningkatnya angka kematian, kemampuan kognitif, dan perkembangan motorik yang rendah serta fungsi-fungsi tubuh yang tidak seimbang (Allen & Gillespie, 2001). Gagal tumbuh yang terjadi akibat kurang gizi pada masa-masa emas ini akan berakibat buruk pada kehidupan berikutnya dan sulit diperbaiki.

Masalah stunting menunjukkan ketidakcukupan gizi dalam jangka waktu panjang, yaitu kurang energi dan protein, juga beberapa zat gizi mikro.

  • Cara Mencegah Stunting
  • Mencegah Stunting pada Balita

Berbagai upaya telah kita lakukan dalam mencegah dan menangani masalah gizi di masyarakat. Memang ada hasilnya, tetapi kita masih harus bekerja keras untuk menurunkan prevalensi balita pendek sebesar 2,9% agar target MD’s tahun 2014 tercapai yang berdampak pada turunnya prevalensi gizi kurang pada balita kita.

Dalam keadaan normal, tinggi badan tumbuh bersamaan dengan bertambahnya umur, namun pertambahan tinggi badan relatif kurang sensitif terhadap kurang gizi dalam waktu singkat. Jika terjadi gangguan pertumbuhan tinggi badan pada balita, maka untuk mengejar pertumbuhan tinggi badan optimalnya masih bisa diupayakan, sedangkan anak usia sekolah sampai remaja relatif kecil kemungkinannya.  Maka peluang besar untuk mencegah stunting dilakukan sedini mungkin. dengan mencegah faktor resiko gizi kurang baik pada remaja putri, wanita usia subur (WUS), ibu hamil maupun pada balita. Selain itu, menangani balita yang dengan tinggi dan berat badan rendah yang beresiko terjadi stunting, serta terhadap balita yang telah stunting agar tidak semakin berat.

Kejadian balita stunting dapat diputus mata rantainya sejak janin dalam kandungan dengan cara melakukan pemenuhan kebutuhan zat gizi bagi ibu hamil, artinya setiap ibu hamil harus mendapatkan makanan yang cukup gizi, mendapatkan suplementasi zat gizi (tablet Fe), dan terpantau kesehatannya. Selain itu setiap bayi baru lahir hanya mendapat ASI saja sampai umur 6 bulan (eksklusif) dan setelah umur 6 bulan diberi makanan pendamping ASI (MPASI) yang cukup jumlah dan kualitasnya. Ibu nifas selain mendapat makanan cukup gizi, juga diberi suplementasi zat gizi berupa kapsul vitamin A. Kejadian stunting pada balita yang bersifat kronis seharusnya dapat dipantau dan dicegah apabila pemantauan pertumbuhan balita dilaksanakan secara rutin dan benar. Memantau pertumbuhan balita di posyandu merupakan upaya yang sangat strategis untuk mendeteksi dini terjadinya gangguan pertumbuhan, sehingga dapat dilakukan pencegahan terjadinya balita stunting.

Bersama dengan sektor lain meningkatkan kualitas sanitasi lingkungan dan penyediaan sarana prasarana dan akses keluarga terhadap sumber air terlindung, serta pemukiman yang layak. Juga meningkatkan akses  keluarga terhadap daya beli pangan dan biaya berobat bila sakit melalui penyediaan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan.

Peningkatan pendidikan ayah dan ibu yang berdampak pada pengetahuan dan kemampuan dalam penerapan kesehatan dan gizi keluarganya, sehingga anak berada dalam keadaan status gizi yang baik. Mempermudah akses keluarga terhadap informasi dan penyediaan informasi tentang kesehatan dan gizi anak yang mudah dimengerti dan dilaksanakan oleh setiap keluarga juga merupakan cara yang efektif dalam mencegah terjadinya balita stunting.

  • Penanggulangan dan pencegahan Stunting pada Bayi
  • Penanggulangan stunting pada pertumbuhan bayi

Penanggulangan stunting yang paling efektif dilakukan pada seribu hari pertama kehidupan, yaitu:

  • Pada ibu hamil

Memperbaiki gizi dan kesehatan Ibu hamil merupakan cara terbaik dalam mengatasi stunting. Ibu  hamil perlu mendapat makanan yang baik, sehingga apabila ibu hamil dalam keadaan sangat kurus atau telah mengalami KurangEnergiKronis (KEK), maka perlu diberikan  makanan tambahan kepada ibu hamil tersebut. Setiap ibu hamil perlu mendapat tablet tambah darah, minimal 90 tablet selama kehamilan. Kesehatan ibu harus tetap dijaga agar ibu tidak mengalami sakit.

  • Pada saat bayi lahir

Persalinan ditolong oleh bidan atau dokter terlatih dan begitu bayi lahir melakukan Inisiasi Menyusu Dini (IMD). Bayi sampai dengan usia 6 bulan diberi Air Susu Ibu (ASI) saja (ASI Eksklusif).

  • Bayi berusia 6 bulan sampai dengan 2 tahun

Mulai usia 6 bulan, selain ASI bayi diberi Makanan Pendamping ASI (MP-ASI). Pemberian ASI terus dilakukan sampai bayi berumur 2 tahun atau lebih. Bayi dan anak memperoleh kapsul vitamin A, taburia, imunisasi dasar lengkap.

  • Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) harus diupayakan oleh setiap rumah tangga.
  • Pencegahan stunting pada pertumbuhan bayi
  • Kebutuhan gizi masa hamil

Pada Seorang wanita dewasa yang sedang hamil, kebutuhan gizinya dipergunakan untuk kegiatan rutin dalam proses metabolisme tubuh, aktivitas fisik, serta menjaga  keseimbangan segala proses dalam tubuh. Di samping proses yang rutin juga diperlukan energi dan gizi tambahan untuk pembentukan jaringan baru, yaitu janin, plasenta, uterus serta kelenjar mamae. Ibu hamil dianjurkan makan secukupnya saja,  bervariasi sehingga kebutuhan akan aneka macam zat gizi bisa terpenuhi. Makanan yang diperlukan untuk pertumbuhan adalah makanan yang mengandung zat pertumbuhan atau pembangun yaitu protein, selama itu juga perlu tambahan vitamin dan mineral untuk membantu proses pertumbuhan itu.

  • Kebutuhan Gizi Ibu  saat Menyusui

Jumlah makanan untuk ibu yang sedang menyusui lebih besar dibanding dengan ibu hamil, akan tetapi kualitasnya tetap sama. Pada ibu menyusui diharapkan mengkonsumsi makanan yang bergizi dan berenergi tinggi, seperti diisarankan untuk minum susu sapi, yang bermanfaat untuk mencegah kerusakan gigi serta tulang. Susu untuk memenuhi kebutuhan kalsium dan flour dalam ASI. Jika kekurangan unsur ini maka terjadi pembongkaran dari jaringan (deposit) dalam tubuh tadi, akibatnya ibu akan mengalami kerusakan gigi. Kadar air dalam ASI sekitr 88 gr %. Maka ibu yang sedang menyusui dianjurkan untuk minum sebanyak 2–2,5 liter (8-10 gelas) air sehari, di samping bisa juga ditambah dengan minum air buah.

  • Kebutuhan Gizi Bayi 0 – 12 bulan

Pada usia 0 – 6 bulan sebaiknya bayi cukup diberi Air Susu Ibu (ASI). ASI adalah makanan terbaik bagi bayi mulai dari lahir sampai kurang lebih umur 6 bulan. Menyusui sebaiknya dilakukan sesegara mungkin setelah melahirkan. Pada usia ini sebaiknya bayi disusui selama minimal 20 menit pada masing-masing payudara hingga payudara benar-benar kosong. Apabila hal ini dilakukan tanpa membatasi waktu dan frekuensi menyusui,maka payudara akan memproduksi ASI sebanyak 800 ml bahkan hingga 1,5 – 2 liter perhari.

  • Kebutuhan Gizi Anak 1 – 2 tahun

 Ketika memasuki usia 1 tahun, laju pertumbuhan mulai melambat tetapi perkembangan motorik meningkat, anak mulai mengeksplorasi lingkungan sekitar dengan cara berjalan kesana kemari, lompat, lari dan sebagainya. Namun pada usia ini anak juga mulai sering mengalami gangguan kesehatan dan rentan terhadap penyakit infeks seperti ISPA dan diare sehingga anak butuh zat gizi tinggi dan gizi seimbang agar tumbuh kembangnya optimal. Pada usia ini  ASI tetap diberikan.  Pada masa ini berikan juga makanan keluarga secara bertahap sesuai kemampuan anak. Variasi makanan harus diperhatikan. Makanan yang diberikan tidak menggunakan penyedap, bumbu yang tajam, zat pengawet dan pewarna. dari asi karena saat ini hanya asi yang terbaik untuk buah hati anda tanpa efek samping

  • Zat Gizi Mikro yang Berperan untuk Menghindari Stunting (Pendek)
  • Kalsium

Kalsium berfungsi dalam pembentukan tulang serta gigi, pembekuan darah dan kontraksi otot. Bahan makanan sumber kalsium antara lain : ikan teri kering, belut, susu, keju, kacang-kacangan.

  • Yodium

Yodium sangat berguna bagi hormon tiroid dimana hormon tiroid mengatur metabolisme, pertumbuhan dan perkembangan tubuh. Yodium juga penting untuk mencegah gondok dan kekerdilan. Bahan makanan sumber yodium : ikan laut, udang, dan kerang.

  • Zink

Zink berfungsi dalam metabolisme tulang, penyembuhan luka, fungsi kekebalan dan pengembangan fungsi reproduksi laki-laki. Bahan makanan sumber zink : hati, kerang, telur dan kacang-kacangan.

  • Zat Besi

Zat besi berfungsi dalam sistem kekebalan tubuh, pertumbuhan otak, dan metabolisme energi. Sumber zat besi antara lain: hati, telur, ikan, kacang-kacangan, sayuran hijau dan buah-buahan.

  • Asam Folat

Asam folat terutama berfungsi pada periode pembelahan dan pertumbuhan sel, memproduksi sel darah merah dan mencegah anemia. Sumber asam folat antara lain : bayam, lobak, kacang-kacangan, serealia dan sayur-sayuran.

  • Pemfokusan Tenaga Kesehatan

Hal yang menjadi pemfokusan adalah menurunkan prevalensi pendek. Jika kita berhasil menurunkan prevalensi pendek (TB/U) 1% akan diikuti penurunan prevalensi berat kurang (BB/U) 0,5%, sehingga pada untuk tahun 2011-2014 dengan penurunan 4% prevalensi balita pendek dapat menurunkan 2% prevalensi balita berat kurang. Artinya pada tahun 2015, target MDG’s prevalensi balita pendek sebesar 32% dapat tercapai, karena kita berhasil menurunkan 35,6% menjadi 31,6%.

  1. Usaha Pemerintah dalam Masalah Stunting

Selama ini pemerintah sudah berusaha mengurangi Gizi buruk, terutama pertumbuhan yang terhambat, merupakan sebuah masalah kesehatan masyarakat yang utama di Indonesia. Untuk mengatasi tantangan itu, UNICEF mendukung sejumlah inisiatif di tahun 2012 untuk menciptakan lingkungan nasional yang kondusif untuk gizi. Ini meliputi peluncuran Gerakan Sadar Gizi Nasional (Scaling Up Nutrition – SUN) dan mendukung pengembangan regulasi tentang pemberian ASI eksklusif, rencana nasional untuk mengendalikan gangguan kekurangan iodine, panduan tentang pencegahan dan pengendalian parasit intestinal dan panduan tentang suplementasi multi-nutrient perempuan dan anak di Klaten, Jawa Tengah.

Manajemen masyarakat tentang gizi buruk akut dan pemberian makan bayi dan anak menjelma menjadi sebuah paket holistic untuk menangani gizi buruk, sementara pengendalian gizi anak dan malaria ditangani bersama untuk mencegah pertumbuhan yang terhambat (stunting) (Laporan Tahuna Unicef Indonesia, 2012).

Untuk membantu pemerintah dalam melakukan perbaikan gizi pada balita Stunting,  menurut Unicef Indonesia perhatian khusus harus diberikan pada:

Penciptaan dan penguatan mekanisme koordinasi nasional dan daerah untuk mengimplementasikan Rencana Aksi Nasional Pangan dan Gizi, dan untuk melakukan koordinasi dengan sektor-sektor non-gizi.

Pengembangan, pemantauan dan penegakan peraturan nasional untuk mengawasi pemasaran produk pengganti ASI.

Revisi standar minimal pelayanan kesehatan untuk mencakup aksi-aksi dan sasaran gizi,seperti aksi-aksi yang berhubungan dengan konseling gizi, makanan pendamping ASI dan gizi ibu.

Penguatan sistem informasi kesehatan untuk meningkatkan keandalan data, promosi pengawasan suportif terhadap program kesehatan dan gizi, dan promosi penggunaan data oleh petugas kesehatan secara terus-menerus untuk meningkatkan dampak program.

Penguatan program fortifikasi pangan nasional dengan memperbarui standar fortifikasiuntuk terigu, pengharusan fortifikasi minyak, dan peningkatan penegakan legislasi yang ada; tentang iodisasi garam.

Implementasi langkah-langkah untuk merekrut, mengembangkan dan mempertahankan ahli gizi  yang memenuhi syarat, termasuk insentif bagi mereka yang bekerja di daerah-daerah yang kurang terlayani.

BAB III

KESIMPULAN

  1. Kesimpulan

Stunting adalah keadaan dimana tinggi badan berdasarkan umur rendah, atau keadaan dimana tubuh anak lebih pendek dibandingkan dengan anak – anak lain seusianya (MCN, 2009).

Stunted adalah tinggi badan yang kurang menurut umur (<-2SD), ditandai dengan    terlambatnya pertumbuhan anak yang mengakibatkan kegagalan dalam mencapai tinggi badan yang normal dan sehat sesuai usia anak. Stunted merupakan kekurangan gizi kronis atau kegagalan pertumbuhan dimasa lalu dan digunakan sebagai indikator jangka panjang untuk gizi kurang pada anak.

Stunting dapat didiagnosis melalui indeks antropometrik tinggi badan menurut umur yang mencerminkan pertumbuhan linier yang dicapai pada pra dan pasca persalinan dengan indikasi kekurangan gizi jangka panjang, akibat dari gizi yang tidak memadai dan atau kesehatan.

Faktor gizi ibu sebelum dan selama kehamilan merupakan penyebab tidak langsung yang memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan dan perkembangan janin. Ibu hamil dengan gizi kurang akan menyebabkan janin mengalami intrauterine growth retardation (IUGR), sehingga bayi akan lahir dengan kurang gizi, dan mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembangan.Beberapa faktor yang terkait dengan kejadian stunted antara lain kekurangan energi dan protein, sering mengalami penyakit kronis, praktek pemberian makan yang tidak sesuai dan faktor kemiskinan.

Untuk menentukan stunted pada anak dilakukan dengan cara pengukuran. Pengukuran tinggi badan menurut umur dilakukan pada anak usia di atas 2 tahun. Antropometri merupakan    ukuran dari tubuh, sedangkan antropometri gizi adalah jenis pengukuran dari beberapa bentuk tubuh dan komposisi tubuh menurut umur dan tingkatan gizi, yang digunakan untuk mengetahui ketidakseimbangan protein dan energi. Anak yang menderita stunting berdampak tidak hanya pada fisik yang lebih pendek saja, tetapi juga pada kecerdasan, produktivitas dan prestasinya kelak setelah dewasa, sehingga akan menjadi beban negara. Selain itu dari aspek estetika, seseorang yang tumbuh proporsional akan kelihatan lebih menarik dari yang tubuhnya pendek.

Kejadian balita stunting dapat diputus mata rantainya sejak janin dalam kandungan dengan cara melakukan pemenuhan kebutuhan zat gizi bagi ibu hamil, artinya setiap ibu hamil harus mendapatkan makanan yang cukup gizi, mendapatkan suplementasi zat gizi (tablet Fe), dan terpantau kesehatannya. Selain itu setiap bayi baru lahir hanya mendapat ASI saja sampai umur 6 bulan (eksklusif) dan setelah umur 6 bulan diberi makanan pendamping ASI (MPASI) yang cukup jumlah dan kualitasnya. Ibu nifas selain mendapat makanan cukup gizi, juga diberi suplementasi zat gizi berupa kapsul vitamin A.

DAFTAR PUSTAKA

di Oktober 23, 2016

Makalah Diare

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

            Diare atau dikenal dengan sebutan mencret memang merupakan penyakit yang masih banyak terjadi pada masa kanak dan bahkan menjadi salah satu penyakit yang banyak menjadi penyebab kematian anak yang berusia di bawah lima tahun (balita). Karenanya, kekhawatiran orang tua terhadap penyakit diare adalah hal yang wajar dan harus dimengerti. Justru yang menjadi masalah adalah apabila ada orang tua yang bersikap tidak acuh atau kurang waspada terhadap anak yang mengalami diare. Misalnya, pada sebagian kalangan masyarakat, diare dipercaya atau dianggap sebagai pertanda bahwa anak akan bertumbuh atau berkembang. Kepercayaan seperti itu secara tidak sadar dapat mengurangi kewaspadaan orang tua.  sehingga mungkin saja diare akan membahayakan anak. (anaksehat.blogdrive.com).

            Menurut data United Nations Children’s Fund (UNICEF) dan World Health Organization (WHO) pada 2009, diare merupakan penyebab kematian nomor 2 pada balita di dunia, nomor 3 pada bayi, dan nomor 5 bagi segala umur. Data UNICEF memberitakan bahwa 1,5 juta anak meninggal dunia setiap tahunnya karena diare

Angka tersebut bahkan masih lebih besar dari korban AIDS, malaria, dan cacar jika digabung. Sayang, di beberapa negara berkembang, hanya 39 persen penderita mendapatkan penanganan serius.

            Di Indonesia sendiri, sekira 162 ribu balita meninggal setiap tahun atau sekira 460 balita setiap harinya akibat diare. Daerah Jawa Barat merupakan salah satu yang tertinggi, di mana kasus kematian akibat diare banyak menimpa anak berusia di bawah 5 tahun. Umumnya, kematian disebabkan dehidrasi karena keterlambatan orangtua memberikan perawatan pertama saat anak terkena diare.

            Diare disebabkan faktor cuaca, lingkungan, dan makanan. Perubahan iklim, kondisi lingkungan kotor, dan kurang memerhatikan kebersihan makanan merupakan faktor utamanya. Penularan diare umumnya melalui 4F, yaitu Food, Fly , Feces, dan Finger.

            Oleh karena itu, upaya pencegahan diare yang praktis adalah dengan memutus rantai penularan tersebut. Sesuai data UNICEF awal Juni 2010, ditemukan salah satu pemicu diare baru, yaitu bakteri Clostridium difficile yang dapat menyebabkan infeksi mematikan di saluran pencernaan. Bakteri ini hidup di udara dan dapat dibawa oleh lalat yang hinggap di makanan. (lifestyle.okezone.com).

            Angka kejadian diare di sebagian besar wilayah Indonesia hingga saat ini masih tinggi. Di Indonesia, sekitar 162 ribu balita meninggal setiap tahun atau sekitar 460 balita setiap harinya. Dari hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) di Indonesia, diare merupakan penyebab kematian nomor 2 pada balita dan nomor 3 bagi bayi serta nomor 5 bagi semua umur. Setiap anak di Indonesia mengalami episode diare sebanyak 1,6 – 2 kali per tahun

            Sepintas diare terdengar sepele dan sangat umum terjadi. Namun, ini bukan alasan untuk mengabaikannya, dehidrasi pada penderita diare bisa membahayakan dan ternyata ada beberapa jenis yang menular.Diare kebanyakan disebabkan oleh Virus atau bakteri yang masuk ke makanan atau minuman, makanan berbumbu tajam, alergi makanan, reaksi obat, alkohol dan bahkan perubahan emosi juga dapat menyebabkan diare, begitu pula sejumlah penyakit tertentu.

  • Tujuan Penulisan
  • Tujuan Umum

            Untuk mengetahui Asuhan Keperawatan Pada anak dengan diare

  • Tujuan Khusus
  • Untuk mengetahui tinjauan teoritis diare
  • Untuk mengetahui Pengkajian pada anak dengan diare
  • Untuk mengetahui Diagnosa keperawatan pada anak dengan diare
  • Untuk mengetahui Intervensi keperawatan pada anak dengan diare
  • Untuk mengetahui Implementasi keperawatan pada anak dengan diare
  • Untuk mengetahui Evaluasi keperawatan pada anak dengan diare

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Konsep Dasar Penyakit
  2. Pengertian

            Menurut Haroen N, S. Suraatmaja dan P.O Asdil (1998), diare adalah defekasi encer lebih dari 3 kali sehari dengan atau tanpa darah atau lendir dalam tinja. Sedangkan menurut C.L Betz & L.A Sowden (1996) diare merupakan suatu keadaan terjadinya inflamasi mukosa lambung atau usus. Menurut Suradi & Rita (2001), diare diartikan sebagai suatu keadaan dimana terjadinya kehilangan cairan dan elektrolit secara berlebihan yang terjadi karena frekuensi buang air besar satu kali atau lebih dengan bentuk encer atau cair.

            Jadi diare dapat diartikan suatu kondisi, buang air besar yang tidak normal yaitu lebih dari 3 kali sehari dengan konsistensi tinja yang encer dapat disertai atau tanpa disertai darah atau lendir sebagai akibat dari terjadinya proses inflamasi pada lambung atau usus.

  • Etiologi
  • Infeksi enteral; infeksi saluran pencernaan yang merupakan penyebab   utama diare, meliputi infeksi bakteri (Vibrio, E. coli, Salmonella, Shigella, Campylobacter, Yersinia, Aeromonas, dsb), infeksi virus (Enterovirus, Adenovirus, Rotavirus, Astrovirus, dll), infeksi parasit (E. hystolytica, G.lamblia, T. hominis) dan jamur (C. albicans).
  • Infeksi parenteral; merupakan infeksi di luar sistem pencernaan yang dapat menimbulkan diare seperti: otitis media akut, tonsilitis, bronkopneumonia, ensefalitis dan sebagainya.
  • Malabsorbsi karbohidrat: disakarida (intoleransi laktosa, maltosa dan sukrosa), monosakarida (intoleransi glukosa, fruktosa dan galaktosa). Intoleransi laktosa merupakan penyebab diare yang terpenting pada bayi dan anak. Di samping itu dapat pula terjadi malabsorbsi lemak dan protein.
  • Diare dapat terjadi karena mengkonsumsi makanan basi, beracun dan alergi terhadap jenis makanan tertentu.
  • Diare dapat terjadi karena faktor psikologis (rasa takut dan cemas).
  • Patofisiologi

Mekanisme dasar yang menyebabkan timbulnya diare adalah :

  1. Gangguan Osmotik

Akibat terdapatnya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotik dalam rongga usus meninggi, sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit ke dalam rongga usus. Isi rongga usus yang berlebihan ini akan merangsang usus untuk mengeluarkannya sehingga timbul diare.

  • Gangguan sekresi Akibat gangguan tertentu (misal oleh toksin) pada dinding usus akan terjadi  peningkatan sekresi, air dan elektrolit ke dalam rongga usus dan selanjutnya diare tidak karena peningkatan isi rongga usus.
  • Gangguan motilitas usus Hiper akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan usus untuk menyerap makanan, sehingga timbul diare, sebaliknya jika peristaltik usus menurun akan mengakibatkan bakteri tumbuh berlebihan yang selanjutnya dapat menimbulkan diare pula.

Patogenesis diare akut :

  • Masuknya jada renik yang masih hidup ke dalam usus halus setelah berhasil melewati rintangan asam lambung.
    • Jasad renik tersebut berkembangbiak (multiplikasi) di dalam usus halus.
    • Oleh jasad renik dikeluarkan toksin (toksin diaregenik)
    • Akibat toksin hipersekresi yang selanjutnya akan menimbulkan diare.

Patogenesis diare kronis :

Lebih koplek dan faktor-faktor yang menimbulkan wabah infeksi, bakteri,  parasit, malabsorbsi, malnutrisi, dll. Sebagai akibat diare baik akut maupun kronis akan terjadi :

  • Kehilangan air dan elektrolit (dehidrasi) yang mengatakan terjadinya gangguan keseimbangan asam basa (osidosis, metabolik, hipokalamia). – Gangguan gizi sebagai akibat kelaparan (masukan makanan kurang,  pengeluaran bertambah).
    • Hipoklikemia
    • Gangguan sirkulasi darah
  • Manifestasi klinis

            Diare anak karena infeksi dapat disertai muntah-muntah, demam, tenesmus ( perasaan buang air besar yang belum tuntas ), hematoschezia(buang air besar berdarah atau melena merupakan gejala adanya perdarahan disuatu tempat dalam saluran pencernaan), nyeri perut dan atau kejang perut. Akibat paling fatal dari diare yang berlangsung lama tanpa rehidrasi yang adekuat adalah kematian akibat dehidrasi yang menimbulkan renjatan hipovolemik atau gangguan biokimiawi berupa asidosis metabolik yang berlanjut. Seseoran yang kekurangan cairan akan merasa haus, berat badan berkurang, mata cekung, lidah kering, tulang pipi tampak lebih menonjol, turgor kulit menurun serta suara menjadi serak. Keluhan dan gejala ini disebabkan oleh deplesi air yang isotonik.

            Karena kehilangan bikarbonat (HCO3) maka perbandingannya dengan asam karbonat berkurang mengakibatkan penurunan pH darah yang merangsang pusat pernapasan sehingga frekuensi pernapasan meningkat dan lebih dalam (pernapasan Kussmaul)

            Gangguan kardiovaskuler pada tahap hipovolemik yang berat dapat berupa renjatan dengan tanda-tanda denyut nadi cepat (> 120 x/menit), tekanan darah menurun sampai tidak terukur. Pasien mulai gelisah, muka pucat, akral dingin dan kadang-kadang sianosis. Karena kekurangan kalium pada diare akut juga dapat timbul aritmia jantung.

            Penurunan tekanan darah akan menyebabkan perfusi ginjal menurun sampai timbul oliguria/anuria. Bila keadaan ini tidak segera diatsi akan timbul penyulit nekrosis tubulus ginjal akut yang berarti suatu keadaan gagal ginjal akut.

  • Dehidrasi akibat diare
  • Dehidrasi Berat

terdapat dua atau lebih tanda dibawah ini :

  • letargis/tidak sadar
  • mata cekung
  • malas minum
  • cubitan kulit perut kembalisangat lambat (>2 detik)
  • Dehidrasi Ringan Sedang

terdapat dua atau lebih tanda dibawah ini :

  • rewel, gelisah
    • mata cekung
    • minum dengan lahap
    • cubitan kulit kembali lambat

Tanpa Dehidrasi

        tidak terdapat cukup tanda untuk diklasifikasikan sebagi dehidrasi ringa  atau berat

  • Tanda Dan Gejala Dehidrasi
  • Mulut dan bibirnya terlihat kering.
  • Tidak ada air mata saat menangis.
  • Terlihat lesu.
  • Air urine berwarna lebih gelap dan baunya lebih menyengat dari biasanya.
  • Popoknya kering, padahal sudah dipakai lebih dari 6 jam.
  • Napas lebih cepat.
  • Pemeriksaan diagnostik
    • Pemeriksaan tinja.
    • Pemeriksaan gangguan keseimbangan asam basa dalam darah astrup, bila memungkinkan dengan menentukan PH keseimbangan analisa gas darah atau astrup, bila memungkinkan.
    • Pemeriksaan kadar ureum dan creatinin untuk mengetahui fungsi ginjal.
    • Pemeriksaan elektrolit intubasi duodenum untuk mengetahui jasad renik atau parasit secara kuantitatif, terutama dilakukan pada klien diare kronik.
  • Penatalaksanaan

            Penanggulangan kekurangan cairan merupakan tindakan pertama dalam mengatasi pasien diare. Hal sederhana seperti meminumkan banyak air putih atau oral rehidration solution (ORS) seperti oralit harus cepat dilakukan. Pemberian ini segera apabila gejala diare sudah mulai timbul dan kita dapat melakukannya sendiri di rumah. Kesalahan yang sering terjadi adalah pemberian ORS baru dilakukan setelah gejala dehidrasi nampak.

            Pada penderita diare yang disertai muntah, pemberian larutan elektrolit secara intravena merupakan pilihan utama untuk mengganti cairan tubuh, atau dengan kata lain perlu diinfus. Masalah dapat timbul karena ada sebagian masyarakat yang enggan untuk merawat-inapkan penderita, dengan berbagai alasan, mulai dari biaya, kesulitam dalam menjaga, takut bertambah parah setelah masuk rumah sakit, dan lain-lain. Pertimbangan yang banyak ini menyebabkan respon time untuk mengatasi masalah diare semakin lama, dan semakin cepat penurunan kondisi pasien kearah yang fatal.

            Diare karena virus biasanya tidak memerlukan pengobatan lain selain ORS. Apabila kondisi stabil, maka pasien dapat sembuh sebab infeksi virus penyebab diare dapat diatasi sendiri oleh tubuh (self-limited disease).

            Diare karena infeksi bakteri dan parasit seperti Salmonella sp, Giardia lamblia, Entamoeba coli perlu mendapatkan terapi antibiotik yang rasional, artinya antibiotik yang diberikan dapat membasmi kuman.

            Oleh karena penyebab diare terbanyak adalah virus yang tidak memerlukan antibiotik, maka pengenalan gejala dan pemeriksaan laboratorius perlu dilakukan untuk menentukan penyebab pasti. Pada kasus diare akut dan parah, pengobatan suportif didahulukan dan terkadang tidak membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut kalau kondisi sudah membaik.

Cara Pembuatan Larutan Gula Garam

1.    Bahan dan alat

Untuk membuat larutan gula garam, alat-alat dan bahan yang diperlukan antara lain:

  1. Gula pasir sebanyak satu sendok teh munjung
    1. Garam dapur yang halus sebanyak ¼ (seperempat) sendok teh
    1. Air masak atau air teh yang hangat ( tidak dalam kondisi mendidih) sebanyak satu gelas atau sekitar 200 ml
    1. Gelas belimbing/lainnya yang sama ukurannya, dan sendok teh

2.    Cara pembuatan

  1. Cucilah tangan dengan sabun dan air mengalir sebelum membuat LGG
    1. Tuangkan air masak atau air teh ke dalam gelas sebanyak satu gelas penuh
    1. Tuangkan gula dan garam dengan ukuran yang tepat ke dalam gelas
    1. Aduklah sampai larut
    1. Minumkan secara bertahap sampai habis

  Dosis Pemberian Larutan Gula Garam

Untuk anak yang berusia dibawah dua tahun diberikan ¼ hingga ½ gelas saja. Untuk anak yang berusia dua tahun keatas berikan ½ hingga 1 gelas. Sedangkan jika anak yang sudah besar atau dewasa dianjurkan untuk minum sebanyak-banyaknya.

  • Komplikasi

            Menurut Broyles (1997) komplikasi diare  ialah: dehidrasi, hipokalemia, hipokalsemia, disritmia jantung (yang disebabkan oleh hipokalemia dan hipokalsemia), hiponatremia, dan shock hipovolemik.

  • Konsep Asuhan Keperawatan

            Pengkajian yang sistematis meliputi pengumpulan data, analisa data dan penentuan masalah. Pengumpulan data diperoleh dengan cara intervensi, observasi, pemeriksaan fisik. Pengkaji data menurut Cyndi Smith Greenberg, 1992 adalah :

  1. Identitas klien.
  2. Riwayat keperawatan.
  3. Awalan serangan : Awalnya anak cengeng,gelisah,suhu tubuh meningkat,anoreksia kemudian timbul diare.
  4. Keluhan utama : Faeces semakin cair,muntah,bila kehilangan banyak air dan elektrolit terjadi gejala dehidrasi,berat badan menurun. Pada bayi ubun-ubun besar cekung, tonus dan turgor kulit berkurang, selaput lendir mulut dan bibir kering, frekwensi BAB lebih dari 4 kali dengan konsistensi encer.
  5. Riwayat kesehatan masa lalu.

            Riwayat penyakit yang diderita, riwayat pemberian imunisasi.

  • Riwayat psikososial keluarga.

            Hospitalisasi akan menjadi stressor bagi anak itu sendiri maupun bagi keluarga, kecemasan meningkat jika orang tua tidak mengetahui prosedur dan pengobatan anak, setelah menyadari penyakit anaknya, mereka akan bereaksi dengan marah dan merasa bersalah.

  • Kebutuhan dasar.

            Pola eliminasi : akan mengalami perubahan yaitu BAB lebih dari 4 kali sehari, BAK sedikit atau jarang.

Pola nutrisi : diawali dengan mual, muntah, anopreksia, menyebabkan penurunan berat badan pasien.

            Pola tidur dan istirahat akan terganggu karena adanya distensi abdomen yang akan menimbulkan rasa tidak nyaman.

Pola hygiene : kebiasaan mandi setiap harinya.

Aktivitas : akan terganggu karena kondisi tubuh yang lemah dan adanya nyeri akibat distensi abdomen.

  • Pemerikasaan fisik.
    • Pemeriksaan psikologis :

Keadaan umum tampak lemah, kesadaran composmentis sampai koma, suhu tubuh tinggi, nadi cepat dan lemah, pernapasan agak cepat.

  • Pemeriksaan sistematik :
    • Inspeksi : mata cekung, ubun-ubun besar, selaput lendir, mulut dan bibir kering, berat badan menurun, anus kemerahan.
    • Perkusi : adanya distensi abdomen.
    • Palpasi : Turgor kulit kurang elastis
    • Auskultasi : terdengarnya bising usus.
    • Pemeriksaan tingkat tumbuh kembang.
    • Pada anak diare akan mengalami gangguan karena anak dehidrasi  sehingga berat badan menurun.
    • Pemeriksaan penunjang.
    • Pemeriksaan tinja, darah lengkap dan duodenum intubation yaitu untuk mengetahui penyebab secara kuantitatip dan kualitatif.
  • Diagnosa yang Mungkin Muncul
    • Kekurangan volume cairan b.d kehilangan berlebihan melalui feses dan muntah serta intake terbatas (mual).
    • Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d gangguan absorbsi nutrien dan peningkatan peristaltik usus.
    • Nyeri (akut) b.d hiperperistaltik, iritasi fisura perirektal.
    • Kecemasan keluarga b.d perubahan status kesehatan anaknya
    • Kurang pengetahuan keluarga tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan terapi b.d pemaparan informasi terbatas, salah interpretasi informasi dan atau keterbatasan kognitif.
    • Kecemasan anak b.d perpisahan dengan orang tua, lingkungan yang baru
  • Askep Pada Anak Dengan Diare
  • Prenatal

Kehamilan yang keberapa, tanggal lahir, gestasi (fulterm, prematur, post matur), abortus atau lahir hidup, kesehatan selama sebelumnya/kehamilan, dan obat-obat yang dimakan serta imunisasi.

  • Natal

Lamanya proses persalinan, tempat melahirkan, obat-obatan, orang yang menolong persalinan, penyulit persalinan.

  • Post natal

Berat badan nomal 2,5 Kg – 4 Kg, Panjang Badan normal 49 -52 cm, kondisi kesehatan baik, apgar score , ada atau tidak ada kelainan kongenital.

  • Feeding

Air susu ibu atau formula, umur disapih (2 tahun), jadwal makan/jumlahnya, pengenalan makanan lunak pada usia 4-6 bulan, peubahan berat-badan, masalah-masalah feeding (vomiting, colic, diare), dan penggunaan vitamin dan mineral atau suplemen lain.

  • Penyakit sebelumnya

Penyebabnya, gejala-gejalanya, perjalanan penyakit, penyembuhan, kompliksi, insiden penyakit dalam keluarga atau masyarakat, respon emosi terhadap rawat inap sebelumnya.

  • Alergi

Apakah pernah menderita hay fever, asthma, eksim. Obat-obatan, binatang, tumbuh-tumbuhan, debu rumah

  • Obat-obat terakhir yang didapat

Nama, dosis, jadwal, lamanya, alasan pemberian.

  • Imunisasi

Polio, hepatitis, BCG, DPT, campak, sudah lengkap pada usia 3 tahun, reaksi yang terjadi adalah biasanya demam, pemberian serum-serum lain, gamma globulin/transfusi, pemberian tubrkulin test dan reaksinya.

  • Tumbuh Kembang

Berat waktu lahir 2, 5 Kg – 4 Kg. Berat badan bertambah 150 – 200 gr/minggu, TB bertambah 2,5 cm / bulan, kenaikan ini terjadi sampai 6 bulan. Gigi mulai tumbuh pada usia 6-7 bulan, mulai duduk sendiri pada usia 8-9 bulan, dan bisa berdiri dan berjalan pada usia 10-12 bulan.

  1. Riwayat Psikososial

Anak sangat menyukai mainannya, anak sangat bergantung kepada kedua orang tuanya dan sangat histeris jika dipisahkan dengan orang tuanya. Usia 3 tahun (toddlers) sudah belajar bermain dengan teman sebaya.

  • Riwayat Spiritual

Anak sudah mengenal beberapa hal yang bersifat ritual misalnya berdoa.

  • Reaksi Hospitalisasi
  • Kecemasan akan perpisahan : kehilangan interaksi dari keluarga dan lingkungan yang dikenal, perasaan tidak aman, cemas dan sedih
  • Perubahan pola kegiatan rutin
  • Terbatasnya kemampuan untuk berkomunikasi
  • Kehilangan otonomi
  • Takut keutuhan tubuh
  • Penurunan mobilitas seperti kesempatan untuk mempelajari dunianya dan terbatasnya kesempatan untuk melaksanakan kesenangannya
  • Aktivitas Sehari-Hari
  • Kebutuhan cairan pada usia 3 tahun adalah 110-120 ml/kg/hari
  • Output cairan :

(a)  IWL (Insensible Water Loss)

(1) Anak : 30 cc / Kg BB / 24 jam

(2) Suhu tubuh meningkat : 10 cc / Kg BB + 200 cc (suhu tubuh – 36,8 oC)

(b) SWL (Sensible Water Loss) adalah hilangnya cairan yang dapat diamati,misalnya berupa kencing dan faeces. Yaitu :

  1. Urine : 1 – 2 cc / Kg BB / 24 jam
  2. Faeces : 100 – 200 cc / 24 jam
  3. Pada usia 3 tahun sudah diajarkan toilet training.

2.    Pemeriksaan Fisik

a)     Tanda-tanda vital

Suhu badan : mengalami peningkatan

Nadi : cepat dan lemah

Pernafasan : frekuensi nafas meningkat

Tekanan darah : menurun

b)     Antropometri

Pemeriksaan antropometri meliputi berat badan, Tinggi badan, Lingkaran kepala, lingkar lengan, dan lingkar perut. Pada anak dengan diare mengalami penurunan berat badan.

c)     Pernafasan

Biasanya pernapasan agak cepat, bentuk dada normal, dan tidak ditemukan bunyi nafas tambahan.

d)     Cardiovasculer

Biasanya tidak ditemukan adanya kelainan, denyut nadi cepat dan lemah.

e)      Pencernaan

Ditemukan gejala mual dan muntah, mukosa bibir dan mulut kering, peristaltik usus meningkat, anoreksia, BAB lebih 3 x dengan konsistensi encer

f)      Perkemihan

Volume diuresis menurun.

g)     Muskuloskeletal

Kelemahan fisik akibat output yang berlebihan.

h)    Integumen

       Lecet pada sekitar anus, kulit teraba hangat, turgor kulit jelek

i)      Endokrin

Tidak ditemukan adanya kelaianan.

j)      Penginderaan

 Mata cekung, Hidung, telinga tidak ada kelainan

k)     Reproduksi

Tidak mengalami kelainan.

l)      Neorologis

Dapat terjadi penurunan kesadaran.

3. Pemeriksaan Tingkat Perkembangan

  1. Motorik Kasar
  2. Sudah bisa naik/turun tangga tanpa dibantu, mamakai baju dengan bantuan, mulai bisa bersepeda roda tiga.
  3. Motorik Halus
  4. Menggambat lingkaran, mencuci tangan sendiri dan menggosok gigi
  5. Personal Sosial
  6. Sudah belajar bermain dengan teman sebayanya.

1. Fokus Pengkajian

  1. Identitas  pasien.

A.     Identitas Klien

1.       Nama/Nama panggilan              : Ani

2.       Tempat tanggal lahir / Usia       : Lampoh saka, 2 Januari 2013 / 5  Tahun

3.       Jenis Kelamin                            : Perempuan

4.       A g a m a                                   : Islam

5.       Pendidikan                                : –

6.       A l a m a t                                 :  Lampoh saka

7.       Tanggal masuk                          :  17 April 2018

8.       Tanggal pengkajian                   : 18 April 2018

9.       Diagnosa Medik                        : diare

10.   Rencana therapi                           : –

B.     Identitas Orang Tua

1.       Ayah                                                       

a.       Nama                                                       : Muzakir

b.       Usia                                                         : 38 tahun

c.       Pendidikan                                              : SMA 1 SIGLI

d.       Pekerjaan / Sumber penghasilan             : Buruh / Tidak Tentu

e.       Agama                                                     : Islam

f.        Alamat                                                    :  Rawa

2.       Ibu

a.       Nama                                                       : Nurhayati

b.       Usia                                                         : 30 Tahun

c.       Pendidikan                                                          : SMP 1 SIGLI

d.       Pekerjaan / Sumber penghasilan             :  MRT / –

e.       Agama                                                     : Islam

f.        Alamat                                                    : Rawa

C.     Identitas Saudara Kandung

NO N  A  M  A USIA HUBUNGAN KETERANGAN
1   2  Rival   Adi 12 tahun   8 tahun Saudara kandung Saudara kandung Anak pertama   Anak kedua
    •  ibu mengatakan anak nya muntah- muntah tadi malam sebanyak 8 kali
    • Anaknya tidak nafsu makan.
    Keluhan utama

Analisa Data

Data problem etiologi
Ds: ibu klien mengatatakan  anak nya muntah- muntah Do:-klien tampak pucat -lemas -turgor kulit jelek Kekuranagan volume cairan  dan elektrolit Intake yang tidak adekuat
Ds: klien mengatakan anaknya tidak nafsu makan . DO : – klien tampak lemas dan pucat       gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebetuhan tubuh anoreksia
  •  Diagnosa Keperawatan
  • gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan intake yang kurang adekuat
  • gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebetuhan tubuh b/d anoreksia
  • Rencana Keperawatangangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan intake yang kurang adekuat
Intervensi Rasional
Mengukur tanda vital pasienMenganjurkan agar minum yang banyak kepada pasienMengukur input dan output tiap 6 jam Memberikan cairan lewat parenteral Tanda vital ( nadi dan tensi ) menggambarkan keseimbangan cairan dan elektrolit pasienAlternatif penggantian cairan secara cepatInput dan output menggambarkan keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh pasien Sebagai alternatif pengganntian cairan cepat melalui parenteral
  • gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebetuhan tubuh b/d anoreksia
Intervensi Rasional
Mengukur dan mencatat BB paseinMenyajikan makanan dalam porsi kecil tapi seringMenyajikan makanan yang dapat menimbulkan selera makanMemberikan makanan tinggi TKTPMemberi motivasi kepada pasien agar mau makan.Memberi makan lewat parenteral ( D 5% )   BB menggambarkan status gizi pasien Sebagai masukan makanan sedikit-sedikit dan mencegah muntah Sebagai alternatif meningkatkan nafsu makan pasien Protein mempengaruhi tekanan osmotik pembuluh darahAlternatif lain meningkatkan motivasi pasien untuk makan Mengganti zat-zat makanan secara cepat melalui parenteral
  • Implementasi

Melaksanakan tindakan keperawatan sesuai dengan rencana tindakan yang telah direncanakan sebelumnya

  • Evaluasi

Evaluasi merupakan pengukuran keberhasilan sejauhmana tujuan tersebut tercapai. Bila ada yang belum tercapai maka dilakukan pengkajian ulang, kemudian disusun rencana, kemudian dilaksanakan dalam implementasi keperawatan lalau dievaluasi, bila dalam evaluasi belum teratasi maka dilakukan langkah awal lagi dan seterusnya sampai tujuan tercapai.

BAB III

PENUTUP

  1. Kseimpulan

Diare merupakan keadaan ketika individu mengalami atau berisiko mengalami defekasi  berupa feses cair atau feses tidak berbentuk dalam frekuensi yang sering .Diare adalah pasase feses yang lunak dan tidak berbentuk. Dari kedua pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa diare merupakan situasi dimana seorang individu mengalami sensasi rasa sakit perut seperti melilit atau mulas kemudian defekasi berupa feses yang encer atau lunak dan tidak berbentuk serta dikeluarkan secara terus- menerus dengan frekuensi lebih dari 3 kali.

  • Saran

Kami harap laporan ini dapat berguna untuk semua yang membacanya, untuk pasien yang mengalami diare diharapkan untuk banyak minum sebagai pengganti cairan elektrolit seperti oralit dan nori

Makalah Asfiksia

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Asfiksia neonaturium ialah suatu keadaan bayi baru lahir yang gagal bernafas secara spontan dan teratur segera setelah kelahirannya disertai dengan  hipoksia, hiperkapnia dan berakhir dengan asidosis. Hal ini disebabkan oleh hipoksia janin dalam uterus, hipoksia ini berhubungan dengan faktor-faktor yang timbul dalam kehamilan, persalinan, atau segera setelah bayi lahir. Akibat-akibat asfiksia akan bertambah buruk apabila penanganan bayi tidak dilakukan secara sempurna. Tindakan yang akan dikerjakan pada bayi bertujuan mempertahankan kelangsungan hidupnya dan membatasi gejala-gejala lanjut yang mungkin timbul.

Hipoksia yang terdapat pada penderita asfiksia ini merupakan faktor terpenting yang dapat menghambat adaptasi bayi baru lahir terhadap kehidupan ekstrauterin. Penolong persalinan harus mengetahui faktor-faktor resiko yang berpotensi untuk menimbulkan asfiksia. Apabila ditemukan adanya faktor risiko tersebut maka hal itu harus dibicarakan dengan ibu dan keluarganya tentang kemungkinan perlunya tindakan resusitasi, sebab asfiksia memiliki dampak negatif baik yang baersifat jangka panjang ataupun jangka pendek.

  • Rumusan Masalah

                 Rumusan masalah dalam makalah ini yakni mengetahui dampak asfiksia neonatorum dalam jangka panjang dan jangka pendek pada bayi.

  • Tujuan Penulisan

                 Untuk dapat mengetahui dampak asfiksia neonatorum dalam jangka panjang dan jangka pendek pada bayi.

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Definisi
    1. Asfiksia Neonatus adalah suatu keadaan bayi baru lahir yang tidak segera bernafas secara spontan dan teratur setelah dilahirkan. (Mochtar, 1989)
    1. Asfiksia neonatorum adalah keadaan bayi yang tidak dapat bernafas spontan dan teratur, sehingga dapat meurunkan O2 dan makin meningkatkan CO2 yang menimbulkan akibat buruk dalam kehidupan lebih lanjut. (Manuaba, 1998)
    1. Asfiksia neonatus adalah keadaan bayi baru lahir yang tidak dapat bernafas secara spontan dan teratur dalam satu menit setelah lahir (Mansjoer, 2000)
    1. Asfiksia berarti hipoksia yang progresif, penimbunan CO2 dan asidosis, bila proses ini berlangsung terlalu jauh dapat mengakibatkan kerusakan otak atau kematian.Asfiksia juga dapat mempengaruhi fungsi organ vital lainnya.(Saiffudin, 2001)
  • Etiologi/ Penyebab Asifksia

Beberapa kondisi tertentu pada ibu hamil dapat menyebabkan gangguan sirkulasi darah uteroplasenter sehingga pasokan oksigen ke bayi menjadi berkurang. Hipoksia bayi di dalam rahim ditunjukkan dengan gawat janin yang dapat berlanjut menjadi asfiksia bayi baru lahir.

Beberapa faktor tertentu diketahui dapat menjadi penyebab terjadinya asfiksia pada bayi baru lahir, diantaranya adalah:

a. Faktor ibu

  1. Preeklampsia dan eklampsia
  2. Pendarahan abnormal (plasenta previa atau solusio plasenta)
  3. Partus lama atau partus macet
  4. Demam selama persalinan Infeksi berat (malaria, sifilis, TBC, HIV)
  5. Kehamilan Lewat Waktu (sesudah 42 minggu kehamilan)

b. Faktor Tali Pusat

  1. Lilitan tali pusat
  2. Tali pusat pendek
  3. Simpul tali pusat
  4. Prolapsus tali pusat

c. Faktor Bayi

  1. Bayi prematur (sebelum 37 minggu kehamilan)
  2. Persalinan dengan tindakan (sungsang, bayi kembar, distosia bahu, ekstraksi vakum, ekstraksi forsep)
  3. Kelainan bawaan (kongenital)
  4. Air ketuban bercampur mekonium (warna kehijauan)
  1. Perubahan patofisiologis dan gambaran klinis

Pernafasan spontan BBL tergantung pada kondisi janin pada masa kehamilan dan persalinan. Bila terdapat gangguan pertukaran gas atau pengangkutan O2 selama kehamilan atau persalinan akan terjadi asfiksia yang lebih berat. Keadaan ini akan mempengaruhi fungsi sel tubuh dan bila tidak teratasi akan menyebabkan kematian asfiksia yang terjadi dimulai suatu periode apnu disertai dengan penurunan frekuensi. Pada penderita asfiksia berat, usaha bernafas tidak tampak dan bayi selanjutnya berada dalam periode apnue kedua. Pada tingkat ini terjadi bradikardi dan penurunan TD.

Pada asfiksia terjadi pula gangguan metabolisme dan perubahan keseimbangan asam-basa pada tubuh bayi. Pada tingkat pertama hanya terjadi asidosis respioratorik. Bila berlanjut dalam tubuh bayi akan terjadi proses metabolisme an aerobic yang berupa glikolisis glikogen tubuh, sehingga glikogen tubuh terutama pada jantung dan hati akan berkurang. Pada tingkat selanjutnya akan terjadi perubahan kardiovaskular yang disebabkan oleh beberapa keadaan diantaranya :

  1. Hilangnya sumber glikogen dalam jantung akan mempengaruhi fungsi jantung.
  2. Terjadinya asidosis metabolik yang akan menimbulkan kelemahan otot jantung.
  3. Pengisian udara alveolus yang kurang adekuat akan mengakibatkan tetap tingginya resistensi pembuluh darah paru sehingga sirkulasi darah ke paru dan ke sistem sirkulasi tubuh lain akan mengalami gangguan. (Rustam, 1998).
    1. Diagnosis

Asfiksia yang terjadi pada bayi biasanya merupakan kelanjutan dari anoksia / hipoksia janin. Diagnosis anoksia / hipoksia janin dapat dibuat dalam persalinan dengan ditemukannya tanda-tanda gawat janin. Tiga hal yang perlu mendapat perhatian yaitu :

1) Denyut jantung janin

Peningkatan kecepatan denyut jantung umumnya tidak banyak artinya, akan tetapi apabila frekuensi turun sampai ke bawah 100 kali per menit di luar his, dan lebih-lebih jika tidak teratur, hal itu merupakan tanda bahaya

2) Mekonium dalam air ketuban

Mekonium pada presentasi sungsang tidak ada artinya, akan tetapi pada presentasi kepala mungkin menunjukkan gangguan oksigenisasi dan harus diwaspadai. Adanya mekonium dalam air ketuban pada presentasi kepala dapat merupakan indikasi untuk mengakhiri persalinan bila hal itu dapat dilakukan dengan mudah.

3) Pemeriksaan pH darah janin

Dengan menggunakan amnioskop yang dimasukkan lewat serviks dibuat sayatan kecil pada kulit kepala janin, dan diambil contoh darah janin. Darah ini diperiksa pH-nya. Adanya asidosis menyebabkan turunnya pH. Apabila pH itu turun sampai di bawah 7,2 hal itu dianggap sebagai tanda bahaya gawat janin mungkin disertai asfiksia. (Wiknjosastro, 1999)

  • Penilaian asfiksia pada bayi baru lahir

Aspek yang sangat penting dari resusitasi bayi baru lahir adalah menilai bayi, menentukan tindakan yang akan dilakukan dan akhirnya melaksanakan tindakan resusitasi. Upaya resusitasi yang efesien clan efektif berlangsung melalui rangkaian tindakan yaitu menilai pengambilan keputusan dan tindakan lanjutan.

Penilaian untuk melakukan resusitasi semata-mata ditentukan oleh tiga tanda penting, yaitu :

  1. Penafasan
  2. Denyut jantung
  3. Warna kulit

Nilai apgar tidak dipakai untuk menentukan kapan memulai resusitasi atau membuat keputusan mengenai jalannya resusitasi. Apabila penilaian pernafasan menunjukkan bahwa bayi tidak bernafas atau pernafasan tidak kuat, harus segera ditentukan dasar pengambilan kesimpulan untuk tindakan vertilasi dengan tekanan positif (VTP).

  • Penanganan Asfiksia Pada Bayi Baru Lahir

Tindakan resusitasi bayi baru lahir mengikuti tahapan-tahapan yang dikenal sebagai ABC resusitasi, yaitu :

a.  Memastikan saluran terbuka

  1. Meletakkan bayi dalam posisi kepala defleksi bahu diganjal 2-3 cm.
  2. Menghisap mulut, hidung dan kadang trachea.
  3. Bila perlu masukkan pipa endo trachel (pipa ET) untuk memastikan saluran pernafasan terbuka.

b.  Memulai pernafasan

  1. Memakai rangsangan taksil untuk memulai pernafasan
    1. Memakai VTP bila perlu seperti : sungkup dan balon pipa ETdan balon atau mulut ke mulut (hindari paparan infeksi).

c.  Mempertahankan sirkulasi

  1. Rangsangan dan pertahankan sirkulasi darah dengan cara
  2. Kompresi dada dan pengobatan
  • Dampak asfiksia jangka pendek

Jika bayi mengalami gangguan pernapasan, suplai oksigen ke jaringan dan organ tubuh akan terganggu. Akibatnya, terjadi penumpukan karbon diokssida, tetapi kekurangan oksigen sehingga darah akan menjadi asam. Padahal, normalnya keasaman atau pH darah adalah sekitar 7,35-7,45.

Organ yang paling sering mengalami gangguan adalah otak dengan gejala utama kejang. Kekurangan oksigen juga dapat menyebabkan pembengkakan otak. Jika proses ini berlanjut, maka akan terjadi penyusutan volume (atropi) otak. Aakhirnya, ukuran otak menjadi lebih kecil daripada ukuran normal. Kondisi ini disebut mikrosefali. Selain itu, otak juga dapat membubur (periventrikulerlekomalacia), terutama jika asfiksia terjadi pada bayi prematur dengan kelainan jantung.

Bila janin kekurangan O2 dan kadar CO2 bertambah, timbulah rangsangan terhadap nervus vagus sehingga DJJ (denyut jantung janin) menjadi lambat. Jika kekurangan O2 terus berlangsung maka nervus vagus tidak dapat dipengaruhi lagi.Timbulah kini rangsangan dari nervus simpatikus sehingga DJJ menjadi lebih cepat akhirnya ireguler dan menghilang. Janin akan mengadakan pernafasan intrauterin dan bila kita periksa kemudian terdapat banyak air ketuban dan mekonium dalam paru, bronkus tersumbat dan terjadi atelektasis. Bila janin lahir, alveoli tidak berkembang. Apabila asfiksia berlanjut, gerakan pernafasan akan ganti, denyut jantung mulai menurun sedangkan tonus neuromuskuler berkurang secara berangsur-angsur dan bayi memasuki periode apneu primer.

Jika berlanjut, bayi akan menunjukkan pernafasan yang dalam, denyut jantung terus menurun , tekanan darah bayi juga mulai menurun dan bayi akan terluhat lemas (flascid). Pernafasan makin lama makin lemah sampai bayi memasuki periode apneu sekunder. Selama apneu sekunder, denyut jantung, tekanan darah dan kadar O2 dalam darah (PaO2) terus menurun. Bayi sekarang tidak bereaksi terhadap rangsangan dan tidak akan menunjukkan upaya pernafasan secara spontan. Kematian akan terjadi jika resusitasi dengan pernafasan buatan dan pemberian tidak dimulai segera.

  • Dampak asfiksia jangka panjangGangguan fungsi multi organ pada asfiksia berat

Redistribusi sirkulasi yang ditemukan pada pasien hipoksia dan iskemia akut telah memberikan gambaran yang jelas mengapa terjadi disfungsi berbagai organ tubuh pada bayi asfiksia. Gangguan fungsi berbagai organ pada bayi asfiksia tergantung pada lamanya asfiksia terjadi dan kecepatan penanganan.  Frekuensi disfungsi berbagai organ vital tersebut yaitu otak, kardiovaskular, paru, ginjal, saluran cerna dan darah.

  • Dampak sistem susunan saraf pusat

kelainan neuropatologis yang paling sering ditemukan pada bayi yang mengalami asfiksia, di samping perdarahan periventrikular-intraventrikular yang terutama terjadi pada bayi kurang bulan. Kelainan neurologis yang dapat ditimbulkan adalah gangguan intelegensia, kejang, gangguan perkembangan psikomotor dan kelainan motorik yang termasuk di dalam palsi serebral.  Gejala klinis biasanya terjadi 12 jam setelah asfiksia berat yaitu stupor sampai koma, pernafasan periodic, tidak ada refleks komplek seperti Moro dan hisap, kejang tonik-klonik atau multifokal antara 12–24 jam dapat terjadi apnu yang menggambarkan disfungsi batang otak. 24 sampai 72 jam kemudian terjadi perburukan, berupa koma, apnu lama dan mati batang otak terjadi 24-72 jam kemudian.3

  • Dampak sistem kardiovaskular

Bayi dengan asfiksia perinatal dapat mengalami iskemia miokardial transien. Secara klinis dapat ditemukan gejala gagal jantung seperti, takipnu, takikardia, pembesaran hati dan irama derap.  Ekokardiografi memperlihatkan struktur jantung yang normal tetapi kontraksi ventrikel kiri berkurang terutama di dinding posterior. Selain itu ditemukan hipertensi pulmonal persisten, insufisiensi trikuspid, nekrosis miokardium, dan renjatan.

  • Dampak terhadap ginjal

Hipoksia ginjal dapat menimbulkan gangguan perfusi dan dilusi ginjal, serta kelainan filtrasi glomerulus. Hal ini timbul karena proses redistribusi aliran darah akan menimbulkan beberapa kelainan ginjal antara lain nekrosis tubulus dan perdarahan medula. Gagal ginjal diduga terjadi karena ginjal sangat sensitif terhadap hipoksia. Hipoksia yang terjadi dalam 24 jam pertama kehidupan akan mengakibatkan iskemia ginjal yang awalnya bersifat sementara namun bila hipoksia berlanjut akan menyebabkan kerusakan korteks dan medula yang bersifat menetap. Bayi dengan asfiksia mempunyai risiko untuk terjadinya nekrosis tubular akut.

  • Dampak terhadap saluran cerna

Bayi asfiksia mempunyai risiko terjadinya iskemia saluran Cerna. Hal ini disebabkan pada bayi asfiksia terjadi redistribusi aliran darah ke organ-organ vital. Perfusi otak dan jantung dipertahankan dengan mengorbankan ginjal dan usus.

  • Dampak terhadap hati

Hati dapat mengalami kerusakan yang berat (shock liver), sehingga fungsinya dapat terganggu. Kadar transaminase serum, faktor pembekuan, albumin dan bilirubin harus dipantau. Kadar amoniak serum harus diukur. Diberikan faktor-faktor pembekuan jika diperlukan. Kadar gula darah dipertahankan pada 75-100 mg/dl. Obat-obat yang didetoksifikasi di hati juga harus dimonitor kadarnya secara ketat. Kegagalan fungsi hati merupakan pertanda prognosis yang buruk.

  • Dampak terhadap sistem darah

Seringkali ditemukan KID akibat rusaknya pembuluh darah, kegagalan hati membuat faktor pembekuan dan sumsum tulang gagal memproduksi trombosit.

  • Dampak terhadap paru

Dampak asfiksia terhadap paru adalah hipertensi pulmonal persisten, mekanisme terjadinya adalah vasokonstriksi paru akibat hipoksia dan asidosis, pembentukan otot arteriol paru pada masa pranatal, pelepasan zat aktif seperti leukotrin dan pembentukan mikrotrombus.

BAB III

KESIMPULAN

  1. Kesimpulan

Asfiksia neonatorum yang terjadi pada bayi memiliki dampak buruk yang berbahaya bagi kehidupan bayi. Dampak tersebut dapat terjadi dalam jangka pendek ataupun jangka panjang. Dampak jangka pendek dari asfiksia pada bayi dapat menyebabkan gangguan pernapasan yang mengakibatkan perdarahan dan gangguan pada otak.

Dampak jangka panjang dari asfiksia pada bayi yakni, gangguan fungsi multi organ, dampak sistem susunan saraf pusat, dampak sistem kardiovaskular, dampak terhadap ginjal, dampak terhadap saluran cerna, dampak terhadap hati, dampak terhadap system darah dan dampak terhadap paru.

  • Saran

Bidan diharapkan dapat lebih proaktif dalam bekerja sama dengan instansi kesehatan,  sehingga  apabila  terdapat  pasien  yang  perlu  segera  dirujuk dapat dilakukan  rujukan  secara  cepat  dan  tepat  dengan  harapan  pasien  dapat  segera ditangani

DAFTAR PUSTAKA

2013.Makalah asfiksia. Asfiksia (http://marsupilami13.blogspot.com/2013/09/makalah-asfiksia-dan-soap.htm diakses 07 April 2014Irma. 2012. Makalah askeb neonatus asfiksia neonatorum.Asfiksia (http://irmawatisyakir.blogspot.com/2012/11/makalah-askeb-neonatus-asfiksia.html. diakses 07 April 2014Tia. 2010.  Makalah asfiksia neonatorum. Asfiksia(http://cewexsweetiya.blogspot.com/2010/11/makalah-asfiksia-neonatorum.html. diakses 07 April 2014

Makalah dengan Tonsilitis

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Tonsilitis adalah massa jaringan limfoid yang terletak di rongga faring. Tonsil menyaring dan melindungi saluran pernafasan serta saluran pencernaan dari invasi organisme patogen dan berperan dalam pembentukan antibodi. Meskipun ukuran tonsil bervariasi, anak-anak umumnya memiliki tonsil yang lebih besar daripada remaja atau orang dewasa. Perbedaan ini dianggap sebagai mekanisme perlindungan karena anak kecil rentan terutama terhadap ISPA. (Wong, 2008 : 940)

Jika sering trinfeksi, tonsil dapat menjadi sumber infeksi. Dengan berulangnya infeksi, jaringan limfoid dapat menjadi hipertrofi atau mengecil dan fibrotik. Karena itu tonsil pada anak yang lebih tua dapat besar atau kecil. Dengan adanya tonsilitis berulang, seringkali jaringan limfoid tonsil membesar. Kadang-kadang, meskipun jarang, pembesaran tonsil menyebabkan obstruksi pada waktu bernapas, terutama malam hari. Kemudian terjadi serangan apnea yang dapat berlanjut terus. Juga terjadi pembesaran adenoid. Pada keadaan ini, aliran udara tersumbat dan anak kemudian bernapas dengan mulut. Juga, karena tuba Eustasius tersumbat, dapat terjadi otitis media atau glue ear,menyebabkan tuli. (Jhon Rendle-Short, 1994 :205)

Infeksi akut saluran nafas bagian atas pada anak-anak merupakan hal yang sering dijumpai oleh dokter umum. banyak terdapat antara pengobatan dengan operasi dan pengobatan medikamentosa pada penyakit-penyakit ini, karena baik pengobatan medikamentosa ataupun pengobatan dengan operasi ditentukan oleh perubahan fisiologis yang terjadi selama masa pertumbuhan anak. Sangat diketahui lebih dalam mengenai fisiologi tonsil dan adenoid. Tonsil dan adenoid membentuk cincin jaringan limfe pada pintu masuk saluran nafas dan saluran pencernaan yang dikenal sebagai cincin waldeyer. Bagian-bagian lain cincin ini dibentuk oleh tonsil lidah dan jaringan limfe di mulut tuba eustachii. Kumpulan jaringan ini pada pintu masuk saluran nafas dan saluran pencernaan, melindungi anak terhadap  infeksi melalui udara dan makanan. Seperti halnya jaringan-jaringan limfe yang lain, jaringan limfe pada cincin waldeyer menjadi hipertrofi pada masa anak-anak dan menjadi atrofi pada masa pubertas. Karena kumpulan jaringan ini berfungsi sebagai suatukesatuan, maka pada fase aktifnya, pengangkatan suatu bagian jaringan tersebut menyebabkan hipertrofi sisa jaringan.

  1. Rumusan Masalah
  2. buatlah konsep teori penyakit meliputi pengertian, klasifikasi, etiologi, patofisiologi, WOC, manifestasi klinis, komplikasi dan penatalaksanaan medis?
  3. buatlah proses keperawatan mulai dari pengkajian, diagnosa, perencanaa, implementasi dan evaluasi?
  4. sertakan sumber dari referensi makalah yang dibuat?

1.3 Tujuan

  1. menjelaskan konsep teori penyakit meliputi pengertian, klasifikasi, etiologi, patofisiologi, WOC, manifestasi klinis, komplikasi dan penatalaksanaan medis.
  2. mengetahui dan menjelaskan proses keperawatan mulai dari pengkajian, diagnosa, perencanaa, implementasi dan evaluasi.
  3. menyertakan sumber dari referensi makalah yang dibuat.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 DEFINISI

Tonsilitis merupakan inflamasi atau pembengkakan akut pada tonsil atau amandel (Reeves, Roux, Lockhart, 2001 ). Berikut adalah gambar tonsilitis :

Tonsilitis adalah infeksi amandel pada kelenjar di kedua sisi belakang tenggorokan. Amandel adalah bagian dari sistem kekebalan, yang melindungi dan membantu tubuh untuk melawan infeksi. Tonsilitis  sangat umum dan dapat terjadi pada semua usia. Hal ini paling umum pada anak-anak dan dewasa muda.            Tonsilitis akut adalah radang akut yang disebabkan oleh kuman streptococcus beta hemolyticus, streptococcus viridons dan streptococcus pygenes, dapat juga disebabkan oleh virus. (Mansjoer,A. 2000)

Tonsilitis sebagian besar disebabkan oleh virus dan sering didahului oleh dingin (hidung meler, batuk dan sakit mata). sedikit kasus (sekitar satu dari tujuh) yang disebabkan oleh bakteri. paling jenis umum dari bakteri yang terlibat adalah streptokokus (juga dikenal sebagai ‘radang’ tenggorokan). Tonsilektomi adalah suatu tindakan pembedahan dengan mengambil atau mengangkat tonsil. (Arsyad Soepardi,1995)

Macam-macam tonsillitis

1. Tonsillitis akut

Dibagi lagi menjadi 2, yaitu :

a. Tonsilitis viral

Ini lebih menyerupai common cold yang disertai rasa nyeri tenggorok. Penyebab paling tersering adalah virus Epstein Barr.

b. Tonsilitis Bakterial

Radang akut tonsil dapat disebabkan kuman grup A stereptococcus beta hemoliticus yang dikenal sebagai strept throat, pneumococcus, streptococcus viridian dan streptococcus piogenes. Detritus merupakan kumpulan leukosit, bakteri yang mulai mati.

2. Tonsilitis membranosa

a. Tonsilitis Difteri

Penyebabnya yaitu oleh kuman Coryne bacterium diphteriae, kuman yang termasuk Gram positif dan hidung di saluran napas bagian atas yaitu hidung, faring dan laring.

b. Tonsilitis Septik

Penyebab streptococcus hemoliticus yang terdapat dalam susu sapi sehingga menimbulkan epidemi. Oleh karena di Indonesia susu sapi dimasak dulu dengan cara pasteurisasi sebelum diminum maka penyakit ini jarang ditemukan.

3. Angina Plout Vincent

Penyebab penyakit ini adalah bakteri spirochaeta atau triponema yang didapatkan pada penderita dengan higiene mulut yang kurang dan defisiensi vitamin C. Gejala berupa demam sampai 39° C, nyeri kepala , badan lemah dan kadang gangguan pecernaan.

4.Tonsilitis kronik

Faktor predisposisi timbulnya tonsilitis kronis ialah rangsangan yang menahun dari rokok, beberapa jenis makanan, higiene mulut yang buruk, pengaruh cuaca kelemahan fisik dan pengobatan tonsilitis yang tidak adekuat kuman penyebabnya sama dengan tonsilitis akut tetapi kadang

2.2 ANATOMI FISIOLOGI

Tonsil terbentuk oval dengan panjang 2-5 cm, masing-masing tonsil mempunyai 10-30 kriptus yang meluas ke dalam yang meluas ke jaringan tonsil. Tonsil tidak mengisi seluruh fosa tonsilaris, daerah kosong di atasnya dikenal sebagai fosa supratonsilaris. Bagian luar tonsil terikat longgar pada muskulus konstriktor faring superior, sehingga tertekan setiap kali makan.

Walaupun tonsil terletak di orofaring karena perkembangan yang berlebih tonsil dapat meluas ke arah nasofaring sehingga dapat menimbulkan insufisiensi velofaring atau obstruksi hidung walau jarang ditemukan. Arah perkembangan tonsil tersering adalah ke arah hipofaring, sehingga sering menyebabkan terjaganya anak saat tidur karena gangguan pada jalan nafas. Secara mikroskopik mengandung 3 unsur utama:

1. Jaringan ikat/trabekula sebagai rangka penunjang pembuluh darah saraf.

2. Folikel germinativum dan sebagai pusat pembentukan sel limfoid muda.

3. Jaringan interfolikuler yang terdiri dari jaringan limfoid dalam berbagai stadium

Tabel 1:Gambar Tonsilitis

Tonsil (amandel) dan adenoid merupakan jaringan limfoid yang terdapat pada daerah faring atau tenggorokan. Keduanya sudah ada sejak anak dilahirkan dan mulai berfungsi sebagai bagian dari sistem imunitas tubuh setelah imunitas “warisan” dari ibu mulai menghilang dari tubuh anak. Pada saat itu (usia lebih kurang 1 tahun) tonsil dan adenoid merupakan organ imunitas utama pada anak, karena jaringan limfoid lain yang ada di seluruh tubuh belum bekerja secara optimal.

Sistem imunitas ada 2 macam yaitu imunitas seluler dan humoral. Imunitas seluler bekerja dengan membuat sel (limfoid T) yang dapat “memakan“ kuman dan virus serta membunuhnya. Sedangakan imunitas humoral bekerja karena adanya sel (limfoid B) yang dapat menghasilkan zat immunoglobulin yang dapat membunuh kuman dan virus.

Kuman yang “dimakan” oleh imunitas seluler tonsil dan adenoid terkadang tidak mati dan tetap bersarang disana serta menyebabklan infeksi amandel yang kronis dan berulang (Tonsilitis kronis). Infeksi yang berulang ini akan menyebabkan tonsil dan adenoid “bekerja terus “ dengan memproduksi sel-sel imun yang banyak sehingga ukuran tonsil dan adenoid akan membesar dengan cepat melebihi ukuran yang normal.

Tonsil dan adenoid yang demikian sering dikenal sebagai amandel yang dapat menjadi sumber infeksi (fokal infeksi) sehingga anak menjadi sering sakit demam dan batuk pilek.Selain itu folikel infeksi pada amandel dapat menyebabkan penyakit pada ginjal (Glomerulonefritis), katup jantung (Endokarditis), sendi (Rhematoid Artritis) dan kulit. (Dermatitis). Penyakit sinusitis dan otitis media pada anak seringkali juga disebabkan adanya infeksi kronis pada amandel dan adenoid.

2.3 ETIOLOGI/PREDISPOSISI

A. Tonsillitis bakterialis supuralis akut paling sering disebabkan oleh streptokokus beta hemolitikus group A,Misalnya: Pneumococcus, staphylococcus, Haemalphilus influenza, sterptoccoccus non hemoliticus atau streptoccus viridens.

B. Bakteri merupakan penyebab pada 50% kasus. Antara lain streptococcus B hemoliticus grup A, streptococcus, Pneumoccoccus,Virus, Adenovirus, Virus influenza serta herpes.

C. Penyebabnya infeksi bakteri streptococcus atau infeksi virus. Tonsil berfungsi membantu menyerang bakteri dan mikroorganisme lainnya sebagai tindakan pencegahan terhadap infeksi. Tonsil bisa dikalahkan oleh bakteri maupun virus, sehingga membengkak dan meradang, menyebabkan tonsillitis. (Adam,1999; Iskandar,1993; Firman,2006)

2.4 PATOFISIOLOGI

Saat bakteri atau virus memasuki tubuh melalui hidung atau mulut,amandel berperan sebagai filter, menyelimuti organism yang berbahaya tersebut sel-sel darah putih ini akan menyebabkan infeksi ringan pada amandel.Hal ini akan memicu tubuh untuk membentuk antibody terhadap infeksi yang akan datang akan tetapi kadang-kadang amandel sudah kelelahan menahan infeksi atau virus.Infeksi bakteri dari virus inilah yang menyebabkan tonsillitis.

 Bakteri atau virus menginfeksi lapisan epitel tonsil-tonsil epitel menjadikan terkikis dan terjadi peradangan serta infeksi pada tonsil.Infeksi tonsil jarang menampilkan gejala tetapi dalam kasus yang ekstrim pembesaran ini dapat menimbulkan gejala menelan.Infeksi tonsil yang ini adalah peradangan di tenggorokan terutama dengan tonsil yang abses (abses peritonsiler).Abses besar yang terbentuk dibelakang tonsil menimbulkan rasa sakit yang intens dan demam tinggi (39C-40C).abses secara perlahan-lahan mendorong tonsil menyeberang ke tengah tenggorokan.

Dimulai dengan sakit tenggorokan ringan sehingga menjadi parah.pasien hanya mengeluh merasa sakit tenggorokannya sehingga berhenti makan.Tonsilitis dapat menyebabkan kesukaran menelan,panas,bengkak,dan kelenjar getah bening melemah didalam daerah submandibuler,sakit pada sendi dan otot,kedinginan, seluruh tubuh sakit,sakit kepala dan biasanya sakit pada telinga.Sekresi yang berlebih membuat pasien mengeluh sukar menelan,belakang tenggorokan akan terasa mengental.Hal-hal yang tidak menyenangkan tersebut biasanya berakhir setelah 72 jam. (Edward,2001 Reeves,Charlene J.Roux,Gayle dkk,2001 )

2.5 MANIFESTASI KLINIK

a. Orang dengan tonsilitis sering memiliki:

• sakit tenggorokan dan leher

• Nyeri ketika menelan

• drooling pada anak-anak

• demam (suhu tubuh yang lebih 37.5ºC untuk orang dewasa dan lebih dari 38 º C pada anak-anak)

• kehilangan nafsu makan, dan merasa umumnya ‘tidak sehat’

• amandel merah dan bengkak (dengan nanah)

• bengkak dan kelenjar getah bening tender (kelenjar) di kedua sisi

leher

• perubahan suara mereka (seperti terdengar ‘Serak’ atau teredam).

Anak-anak mungkin mengeluh sakit perut tanpa sakit yang tenggorokan, dan mereka mungkin muntah. Anak-anak kecil mungkin hanya mengalami demam.

2.6 KOMPLIKASI

Faringitis merupakn komplikasi tonsilitis yang paling banyak didapat. Demam rematik, nefritis dapat timbul apabila penyebab tonsilitisnya adalah kuman streptokokus. Komplikasi yang lain dapat berupa :

  1. Abses pertonsil

Terjadi diatas tonsil dalam jaringan pilar anterior dan palatum mole, abses ini terjadi beberapa hari setelah infeksi akut dan biasanya disebabkan oleh streptococcus group A ( Soepardi, Effiaty Arsyad,dkk. 2007 ).

  • Otitis media akut

Infeksi dapat menyebar ke telinga tengah melalui tuba auditorius (eustochi) dan dapat mengakibatkan otitis media yang dapat mengarah pada ruptur spontan gendang telinga ( Soepardi, Effiaty Arsyad,dkk. 2007 ).

  • Mastoiditis akut

Ruptur spontan gendang telinga lebih jauh menyebarkan infeksi ke dalam sel-sel mastoid ( Soepardi, Effiaty Arsyad,dkk. 2007 ).

  • Laringitis

Merupakn proses peradangan dari membran mukosa yang membentuk larynx. Peradangan ini mungkin akut atau kronis yang disebabkan bisa karena virus, bakter, lingkungan, maupunmkarena alergi ( Reeves, Roux, Lockhart, 2001 ).

  • Sinusitis

Merupakan suatu penyakit inflamasi atau peradangan pada satua atau lebih dari sinus paranasal. Sinus adalah merupakan suatu rongga atau ruangan berisi udara dari dinding yang terdiri dari membran mukosa ( Reeves, Roux, Lockhart, 2001 ).

  • Rhinitis

Merupakan penyakit inflamasi membran mukosa dari cavum nasal dan nasopharynx ( Reeves, Roux, Lockhart, 2001 ).

2.7 PENGOBATAN

Pada kebanyakan orang, infeksi yang disebabkan oleh virus hanya perlu diobati dengan parasetamol untuk menurunkan demam. Pereda nyeri juga mungkin berguna untuk mengurangi rasa sakit .

Tonsilitis yang disebabkan oleh bakteri mungkin perlu diobati dengan antibiotik (misalnya penisilin atau eritromisin, jika alergi terhadap penisilin). Jika anak Anda mendapatkan antibiotik, penting sekali untuk meminum obat sampai tuntas agar bakteri benar-benar musnah dan tidak menjadi resisten obat.

Bedah amandel

Bedah untuk mengangkat amandel (tonsilektomi)–dulu pernah menjadi tindakan umum untuk mengobati tonsilitis–hanya dilakukan bila tonsilitis sering berulang atau kronis, tidak merespon pengobatan atau menyebabkan komplikasi serius. Pengangkatan amandel tidak berefek buruk terhadap daya kekebalan tubuh secara keseluruhan. Namun demikian, operasi ini kini relatif lebih jarang dilakukan dibandingkan dulu

2.8 PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

Dilakukan pemeriksaan fisik menyeluruh, dan pengumpulan riwayat kesehatan yang cermat untuk menyingkirkan kondisi sistemik atau kondisi yang berkaitan. Usap tonsilar dikultur untuk menentukan adanya infeksi bakteri. Jika tonsil adenoid ikut terinfeksi maka dapat menyebabkan otitis media supuratif yang mengakibatkan kehilangan pendengaran, pasien harus diberikan pemeriksaan audiometik secara menyeluruh sensitivitas/ resistensi dapat dilakukan jika diperlukan

2.9 PENATALAKSANAAN

Penatalaksanaan tonsillitis secara umum:

a. Jika penyebab bakteri, diberikan antibiotik peroral (melalui mulut ) selama 10 hari, jika mengalami kesulitan menelan, bisa diberikan dalam bentuk suntikan.

b. Pengangkatan tonsil (Tonsilektomi ) dilakukan jika:

1) Tonsilitis terjadi sebanyak 7 kali atau lebih /tahun .

2) Tonsilitis terjadi sebanyak 5 kali atau lebih / tahun dalam kurun waktu 2 tahun.

3) Tonsilitis terjadi sebanyak 3 kali atau lebih / tahun dalam kurun waktu 3 tahun.

4) Tonsilitis tidak memberikan respon terhadap pemberian antibiotik.         

Penatalaksanaan tonsillitis adalah :

a. Penatalaksanaan tonsillitis akut

1) Antibiotik golongan penelitian atau sulfanamid selama 5 hari dan obat kumur atau obat isap dengan desinfektan, bila alergi dengan diberikan eritromisin atau klidomisin.

2) Antibiotik yang adekuat untuk mencegah infeksi sekunder, kortikosteroid untuk mengurangi edema pada laring dan obat simptomatik.

3) Pasien diisolasi karena menular, tirah baring, untuk menghindari komplikasi kantung selama 2-3 minggu atau sampai hasil usapan tenggorok 3 kali negatif

4) Pemberian antipiretik

b. Penatalaksanaan tonsillitis kronik

1) Terapi lokal untuk hygiene mulut dengan obat kumur / hisap.

2) Terapi radikal dengan tonsilektomi bila terapi medikamentosa atau terapi konservatif tidak berhasil.

Tonsilektomi menurut Firman S (2006), yaitu :

a. Perawatan Prabedah

Diberikan sedasi dan premedikasi, selain itu pasien juga harus dipuasakan, membebaskan anak dari infeksi pernafasan bagian atas.

b. Teknik pembedahan

Anestesi umum selalu diberikan sebelum pembedahan,pasien diposisikan terlentang dengan kepala sedikit direndahkan dan leher dalam keadaan ekstensi mulut ditahan terbuka dengan suatu penutup dan lidah didorong keluar dari jalan. Penyedotan harus dapat diperoleh untuk mencegah inflamasi dari darah. Tonsil diangkat dengan diseksi

quillotine. Metode apapun yang digunakan penting untuk mengangkat tonsil secara lengkap. Perdarahan dikendalikan dengan menginsersi suatu pak kasa ke dalam ruang post nasal yang harus diangkat setelah pembedahan. Perdarahan yang berlanjut dapat ditangani dengan mengadakan ligasi pembuluh darah pada dasar tonsil.

c. Perawatan paska-bedah

1) Berbaring kesamping sampai bangun kemudian posisi mid fowler.

2) Memantau tanda-tanda perdarahan:

  • Menelan berulang
  • Muntah darah segar
  • Peningkatan denyut nadi pada saat tidur

3) Diet

a) Memberikan cairan bila muntah telah reda.

  • Mendukung posisi untuk menelan potongan makanan yang besar (lebih nyaman dari adanya kepingan kecil)
  • Hindari pemakaian sedotan (suction dapat menyebabkan perdarahan)

b) Menawarkan makanan

  • Es cream, crustard dingin, sup krim, dan jus.
  • Refined sereal dan telur setengah matang biasanya lebih dapat dinikmati pada pagi hari setelah perdarahaan.
  • Hindari jus jeruk,minuman panas, makanan kasar atau banyak bumbu selama 1 minggu

c) Mengatasi ketidaknyamanan pada tenggorokan

  • Menggunakan ice color (kompres es) bila mau
  • Memberikan analgesik (hindari aspirin)
  • Melaporkan segera tanda-tanda perdarahan.
  • Minum 2-3 liter / hari sampai bau mulut hilang.

d) Mengajari pasien mengenal hal berikut

  • Hindari latihan berlebihan, batuk, bersin, berdahak dan menyisi hidung segera selama 1-2 minggu
  • Tinja mungkin seperti teh dalam beberapa hari karena darah yang tertelan.
  • Tenggorokan tidak nyaman dapat sedikit bertambah antara hari ke-4 dan ke-8 setelah operasi.

ASUHAN KEPERAWATAN TONSILITIS

3.1 PENGKAJIAN

   a. Aktivitas / istirahat

       Gejala :     – kelemahan

                        – kelelahan (fatigue)

   b. Sirkulasi

       Tanda :     – Takikardia

                        – Hiperfentilasi (respons terhadap aktivitas)

   c. Integritas Ego

       Gejala :     – Stress

                        – Perasaan tidak berdaya

        Tanda :    – Tanda- tanda ansietas, mual : gelisah, pucat, berkeringat,  perhatian menyempit.

   d. Eliminasi

       Gejala :     – Perubahan pola berkemih

       Tanda :     – Warna urine mungkin pekat

   e. Maknan / cairan

       Gejala :     – Anoreksia

                        – Masalah menelan

                        – Penurunan menelan

       Tanda :     – Membran mukosa kering

                        – Turgor kulit jelek

   f. Nyeri / kenyamanan

      Gejala :      – Nyeri pada daerah tenggorokan saat digunakan untuk menelan.

                        – Nyeri tekan pada daerah sub mandibula.

– Faktor pencetus : menelan ; makanan dan minuman yang dimasukkan melalui oral, obat-obatan.

      Tanda :      – Wajah berkerut, berhati-hati pada area yang sakit, pucat, berkeringat, perhatian menyempit.

3.2 Pathways Keperawatan

Streptococcus hemolitikus tipe A

Virus hemolitikus influenza

Reaksi antigen dan antibody dalam tubuh

Antibody dalam tubuh tidak dapat melawan antigen kuman

Virus dan bakteri menginfeksi tonsil

Epitel terkikis

Inflamasi tonsil

Anoreksia                          Rangsang                          sumbatan jalan                            fungsi tubuh

                                        termoregulasi                       napas dan cerna

harga diri rendah    

                             hipotalamus

Intake tidak                                                                                                                  

cemas  
nyeri  

adekuat                         suhu tubuh                                  tindakan

    tonsilektomi             

Hipertemi  
resiko kurang nutrisi  

                                                                                          terputusnya

   pembuluh darah

            penumpukkan                       terputusnya keutuhan                 luka terbuka

                               sekret                                    jaringan

Resiko tidak efektif bersihan jalan nafas  

                                                                        pendarahan                              pertahanan tubuh

Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan perdarahan yang berlebihan  

pemajanan

                                                                                                                        mikroorganisme

resiko infeksi  

3.3 Diagnosa Keperawatan

1. Pre Operasi

a. Resiko kurang nutrisi dari kebutuhan berhubungan dengan intake yang tidak adekuat

b. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan respon inflamasi

c. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan respon inflamasi

d. Harga diri rendah berhubungan dengan penurunan fungsi tubuh

e. Cemas berhubungan dengan akan dilakukannya tindakan operasi tonsilektomi.

2. Post operasi

a. Resiko tidak efektif bersihan jalan nafas berhubungan dengan penumpukan sekret

b. Resiko kekurangan volume cairan peredaran yang berlebihan

c. Gangguan rasa nyeri berhubungan dengan tindakan pembedahan

d. Resiko infeksi berhubungan dengan luka post operasi ditandai dengan luka terbuka. (Edward, 2001 Reeves, Charlene J.Roux, Gayle dkk. 2001)

3.4 Fokus Intervensi dan Rasional

1. Pre Operasi

A. Resiko kurang nutrisi dari kebutuhan berhubungan dengan intake yang tidak adekuat ditandai dengan ancroksia, disfagia keperawatan kebutuhan nutrisi pasien adekuat

Kriteria hasil : Kebutuhan nutrisi pasien adekuat, tidak ada tanda-tanda malnutrisi, mampu menghabiskan makanan sesuai dengan porsi yang diberikan atau dibutuhkan

Intervensi

a. Awasi masukan dan berat badan sesuai indikasi

R : Memberikan informasi sehubungan dengan kebutuhan nutrisi dan keefektifan terapi

b. Auskultasi bunyi usus

R : Makan hanya dimulai setelah bunyi usus membaik setelah operasi

c. Mulai dengan makan kecil dan tingkatkan sesuai toleransi

R : Kandungan makan dapat mengakibatkan ketidak toleransian, memerlukan perubahan pada kecepatan/tipe formula

d. Berikan diet nutrisi seimbang (makan cair atau halus) atau makanan selang yang sesuai indikasi

R : –

(Doenges,2000)

B. Gangguan rasa nyeri berhubungan dengan respon inflamasi

Tujuan : nyeri berkurang/terkontrol

Kriteria hasil : setelah dilakukan tindakan keperawatan nyeri

berkurang, skala nyeri menurun

Intervensi

a. Monitoring perkembangan nyeri

R : Mengetahui perkembangan tindakan dari yang dilakukan

b. Monitoring tanda-tanda vital darah dan nadi

R : Mengetahui keadaan pasien

c. Berikan tindakan nyaman dan akivitas hiburan

R :Meningkatkan relaksasi dan membantu pasien memfokuskan perhatian pada sesuatu disamping diri sendiri/ketidaknyamanan. Dapat menurunkan kebutuhan dosis analgetik

d. Selidiki perubahan karakeristik nyeri,periksa mulut,tenggorokan

R : Dapat menunjukkan terjadinya komplikasi yang memerlukan evaluasi lanjutan

e. Catatan indikator non-verbal respon automatic terhadap nyeri evaluasi efek samping

R : Dapat meningkatkan kerjasama dan partisipasi dalam program pengobatan

(Doenges,2000)

C. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan respon inflamasi

Tujuan : setelah dilakukan tindakan perawatan diharapkan suhu tubuh normal

Kriteria hasil : suhu tubuh normal (36-37ºC) tubuh tidak terasa panas, pasin tidak       gelisah

Intervensi

a. Pantau suhu pasien (derajad dan pola) perhatikan menggigil/diaphoresis

R : Suhu 38,9-41,1 menunjukkan proses penyakit infeksius

b. Pantau suhu lingkungan, batasi/tambahan linen tempat tidur sesuai indikasi

R : Suhu ruangan harus diubah untuk mempertahankan suhu mendekati normal

c. Berikan kompres mandi hangat, hindari penggunaan alcohol

R : Dapat membantu mengurangi demam

d . Berikan antipiretik misalnya ASA (aspirin) asetaminofon

R : Gunakan untuk mengurangi demam dengan aksi sentralnya pada hipotalamus meskipun demam mungkin dapatberguna dalam mengatasi pertumbuhan organism dan meningkatkan autodestruksi dari sel-sel yang terinfeksi

(Doenges,2000)

D. Harga diri rendah berhubungan dengan penurunan fungsi tubuh

Tujuan : tidak mengalami harga diri rendah

Kriteria hasil : 1. menyatakan pemahaman akan perubahan dan penerimaan diri pada situasi yang ada 2. Mengidentifikasi persepsi diri negative

Intervensi

a. Diskusikan situasi atau dorong pernyataan takut atau masalah, jelaskan hubungan antara gejala dengan asal penyakit

R : Pasien sangat sensitif terhadap perubahan tubuh

b. Dukung dan dorong pasien, berikan perawatan yang positif, perilaku bersahabat

R : Pemberian perawatan kadang-kadang memungkinkan penilaian perasaan pasien untuk memuat upaya untuk membantu pasien merasakan nilai pribadi.

c. Dorong keluarga/orang terdekat untuk menyatakan perasaa, berkunjung atau berpartisipai pada perawatan

R : Anggota keluarga dapagt merasa bersalah tentang kondisi pasien dan takut terhadap kematian.

d. Tekankan keberhasilan yang kecil sekalipun baik mengenai penyembuhan fungsi tubuh ataupun kemandirian pasien

R : Mengkonsolidasikan keberhasilan membantu menurunkan perasaan marah dan ketidakberdayaan dan menimbulakn perasaan adanya perkembangan

e. Bantu dan dorong kebiasaan berpakaian dan berdandan yang baik

R : Membantu peningkatan rasa harga diri dan kontorl atas salah satu bagian kehidupan

(Doenges,2000)

E. Cemas berhubungan dengan akan dilakukannya tindakan operasi tonsilektomi.

Tujuan : Kecemasan berkurang /hilang

Kriteria Hasil : Kecemasan berkurang ,monitor intensitas kecemasan.

Intervensi:

a. Kaji sejauh mana kecemasan klien.

R : Untuk mengetahui tingkat kecemasan klien.

b. Informasikan pasien /orang terdekat tentang peran advokat perawat intra operasi

R : Mengembangkan rasa percaya diri.

c. Identifikasikan tingkat rasa cemas.

R : Untuk mengetahui tingkat kecemasan klien.

d. Validasi sumber rasa takut.

R : Mengidentifikasikan rasa takut yang spesifik.

e. Beritahu pasien kemungkinan dilakukan operasi.

R : Mengurangi rasa takut

(Doenges,2000)

2. Post Operasi

  1. Resiko tidak efektif bersihan jalan nafas berhubungan dengan penumpukan secret

Tujuan : jalan nafas sefektif

Kriteria hasil : setelah dilakukan keperawatan resiko ketidakefektifan bersihan jalan nafas dapat teratasi ditandai dengan tidak adanya sekret

Intervensi

a. Pantau irama atau frekuensi irama pernafasan

R : Pernafasan dapat melambatkan dan frekuensi ekspirasi memanjang di banding inspirasi

b. Auskultasi bunyi nafas, catat adanya bunyi nafas, misalnya: mengi, krekel, ronki

R : Bunyi nafas mengi, krekels, dan ronki terdengar pada inspirasi dan atau ekspirasi pada respon terhadap pengumpulan secret

c. Kaji pasien untuk posisi yang nyaman, misalnya peninggian kepala tempat tidur, duduk pada sandaran tempat tidur

R : Peninggian kepala tempat tidur mempermudah fungsi pernafasan dengan menggunakan gravitasi namun, pasien dengan distresi berat akan mencari posisi yang paling

mudah untuk bernafas

d. Dorong pasien untuk mengeluarkan lender secara perlahan

R : Membersihkan jalan nafas dan membantu mencegah komplikasi pernafasan

(Doenges,2000)

  1. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan perdarahan yang berlebihan

Tujuan : berkurangnya volume cairan yang terjadi

Kriteria hasil : setelah dilakukan tindakan keperawatan resiko kekurangan volume cairan dapat terstasi ditandai dengan tanda vital stabil, membran mukosa lembab, turgor kulit baik, pengisian kapiler cepat

Intervensi

a. Kaji atau ukur dan catat jumlah pendarahan

R : Potensial kekurangan cairan, khususnya bila tidak ada tambahan cairan

b. Awasi tanda vital: bandingkan dengan hasil normal pasien/sebelumnya. Ukur TD dengan posisi duduk atau berbaring serta ukur nadi

R : Perubahan TD dan nadi dapat digunakan untuk perkiraan kasar kehilangan darah, missal nadi diduga 25% penurunan >110

c. Catat respon fisiologi individual pasien terhadap perdarahan,

misalnya perubahan mental, kelemahan, gelisah, anietas, pucat,

berkeringant, takipnea, peningkatan suhu

R : Simtomatologi dapat berguna dalam mengukur berat badan atau lamanya episode perdarahan. Memburuknya gejala dapat menunjukkan berlanjutnya perdarahan atau tidak adekuatnya penggataian cairan

d. Awasi batuk dan bicara karena akan mengiritasi luka dan menambah perdarahan

R : Aktivitas batuk dan bicara meninkakan tekanan intraabdomen dan dapat mencetuskan perdarahan langit

(Doenges,2000)

C.Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan tindakan pembedahan

Tujuan : nyeri berkurang atau hilang

Kriteria hasil : setelah dilakukan tindakan keperawatan nyeri berkurang, skala nyeri terkontrol

Intervensi

a. Tentukan karakteristik nyeri, misalnya tajam, konstan, ditusuk, selidiki perubahan karakter atau lokasi atau intensitas nyeri

R : Nyeri biasanya ada dalam beberapa derajat, juga dapat menimbulkan komplikasi

b. Anjurkan klien untuk mengurangi nyeri dengan:

1. minum air dingin atau air es

2. hindarkan makanan pedas, panas, asam dan keras

3. melakukan teknik relaksasi

R : Tindakan non-analgetik diberikan dengan cara alternative untuk mengurangi nyeri dan menghilangkan ketidaknyamanan

c. Menciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman

R : Menurunkan stress dan rangsangan berlebihan, meningkatkan istirahat

d. Pantau tanda vital

R : Perubahan frekuensi jantung atau TD menunjukkan bahwa pasien mengalami nyeri, khususnya bila alas an lain untuk perubahan tanda vital telah terlihat

(Doenges,2000)

  • Resiko infeksi berhubungan dengan luka post operasi ditandai dengan luka terbuka

Tujuan : menyatakan pemahaman penyebab atau fakto resiko individu

Kriteria hasil : mengidentifikasi intervensi untuk mencegah atau menurunkan resiko infeksi, menunjukkan tehnik atau perubahan pola hidup untuk meningkatkan lingkungan yang nyaman

Intervensi

a. Cuci tangan sebelum dan sesudah aktivitas walaupun menggunakan sarung tangan steril

R : Mengurangi kontaminasi silang

b. Tetap ada fasilitas control infeksi steril dan prosedur aseptic

R : Tetapkan mekanisme yang dirancang untuk mencegah infeksi

c. Siapkan lokasi operasi menurut produsen khusus

R : Meminimalkan jumlah bakteri pada lokasi operasi

  • Implementasi

Implementasi adalah inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang spesifik. Tujuan dari pelaksanaan adalah membantu klien dalam mencapai tujuan yang telah diterapkan, yang mencakup peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit pemulihan kesehatan dan memfasilitasi koping (Nursalam: 2001).

3.5       Evaluasi

Evaluasi adalah penilaian dengan cara membandingkan perubahan keadaan pasien (hasil yang diamati) dengan tujuan dan kriteria hasil yang dibuat pada tahap perencanaan (Nursalam, 2001).Adapun evaluasi dari tiap – tiap masalah di atas adalah:
a. Nyeri berkurang atau teratasi
Kriteria hasil : Reflek menelan baik, tidak ada masalah saat makan, tidak mengalami batuk saat menelan, menelan secara normal, menelan dengan nyaman.

b. Keseimbangan cairan terpenuhi
Kriteria hasil : Mukosa bibir lembab, Turgor kulit baik, tanda-tanda vital stabil

c. Nutrisi tubuh terpenuhi
Kriteria hasil : Nafsu makan klien bertambah, mual dan muntah berkurang, peningkatan berat badan.

d. Suhu tubuh dalam batas normal
Kriteria hasil : Suhu tubuh dalam rentang normal 36-370C, keadaan, kulit dalam batas normal tidak mengalami turgor kulit yang jelek, nadi dan pernapasan dalam batas normal yaitu 80 x/menit dan pernapasan 18 x/menit.

e. Cemas tidak terjadi, kenyamanan pasien meningkat
Kriteria hasil : Ansietas berkurang, klien bisa mengendalikan tingkat kecemasannya, mengetahui penyebab mengalami kecemasan.

f. Pola nafas efektif
Kriteria hasil : Tidak mengalami sesak nafas, pernafasan dalam batas normal, tidak terjadi batuk

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Kesimpulan penulis berdasarakan beberapa pengertian diatas, tonsilitis merupakan suatu peradangan pada tonsil yang disebabkan karena bakteri atau virus,prosesnya bisa akut atau kronis. Tonsilektomi adalah suatu tindakan pembedahan dengan mengambil atau mengangkat tonsil. (Arsyad Soepardi,1995)

Indikasi untuk tonsitektomi dulu dan sekarang tidak berbeda, namun terdapat perbedaan prioritas relatif dalam menentukan indikasi tonsitektomi pada saat ini. Terakhir dapat dicegah bila seorang pasien selalu menjaga personal hygene dan pola makan.

Dengan saya membuat, meneliti atau menggunakan kasus bedah post operasi Tonsilitis akut pada Tugas Akhir saya. Saya serta anda semua dapat mengerti mengenai tanda, gejala, ciri-ciri fisik, contoh pasien, dan therapy atau pengobatnya.

Tonsilitis adalah radang yang disebabkan oleh infeksi bakteri kelompok A streepfokus bila hemolitil, namun dapat juga disebabkan oleh bakteri jenis lain atau oleh infeksi virus. Ciri-ciri atau dengan tanda dan gejala : Demam, Tidak enak badan, mual, muntah, Tonsil membesar dengan permukaan tidak rata, dengan pengobatan / therapi-therapi dari dokter dan insisi bedah, dapat menyembuhkan tonsillitis

Saran

Diharapkan mahasiswa dapat mengerti dan memahami tentang penyakit tonsilitis dan mengaplikasikan/menerapkan asuhan keperawatan pada pasien tonsilitis dengan baik dan benar.  Semoga perpustakaan lebih melengkapi literatur bacaan.

DAFTAR PUSTAKA

Klik untuk mengakses tonsilitis.pdf

http://seputarsehat.com/keperawatan/asuhan-keperawatan-tonsilitis.html

Klik untuk mengakses jtptunimus-gdl-julibestar-5392-2-babiik-r.pdf

MAKALAH TONSILITIS

http://majalahkesehatan.com/gejala-dan-penanganan-radang-amandel-tonsilitis/

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai