KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum.wr.wb.
Puji syukur kehadirat Allah SWT karena dengan limpahan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Askep Pada Anak Dan Remaja” tepat pada waktunya. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kan kepada Nabi kita Muhammad SAW, keluarga, sahabat dan pengikut beliau hingga akhir zaman. Aamiin.
Penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran konstruktif dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini di kemudian hari. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian makalah ini. Akhir kata, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca pada umumnya. Aamiin.
Wassalamu’alaikum. Wr. Wb.
Sigli, Mei 2024
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ………………………………………………………………………………. ii
DAFTAR ISI …………………………………………………………………………………………….. iii
BAB I : PENDAHULUAN…………………………………………………………………… 1
- Latar Belakang……………………………………………………………………. 1
- Tujuan……………………………………………………………………………….. 2
BAB II : TINJAUAN PUSTAKA …………………………………………………………. 4
- Definisi dan Deskripsi Komunitas…………………………………………. 4
- Pengertian Obesitas…………………………………………………………….. 11
- Konsep Asuhan Keperawatan Komunitas………………………………. 16
BAB III : ASUHAN KEPERAWATAN OBESITAS……………………………….. 21
BAB IV : PENUTUP ……………………………………………………………………………. 27
- Kesimpulan ……………………………………………………………………….. 27
- Saran ………………………………………………………………………………… 28
DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………………………………….. 29
BAB I
PENDAHULUAN
- Latar Belakang
Kesehatan merupakan bagian integral dari kehidupan manusia, bertolak dari latar belakang manusia yang berbeda-beda. Hal ini mengakibatkan banyak faktor yang terjadi dan berhubungan dengan masalah kesehatan. Di dalam komunitas masyarakat suatu daerah bila di klasifikasikan berdasarkan kelompok khusus, yang sangat rentan terhadap kondisi kesehatan terganggu adalah kelompok khusus anak usia sekolah. Salah satu upaya yang dilaksanakan adalah meningkatkan pola hidup masyarakat yang sehat dengan melakukan kegiatan keperawatan pada komunitas atau masyarakat yang didalamnya terdapat kelompok khusus anak sekolah.
Berdasarkan hasil pengkajian data yang dilakukan di kelurahan Wonokromo Surabaya yang dilakukan pada tanggal 12 November 2015. Ditemukan sebagian besar anak SDN IV Wonokromo yang memiliki masalah kebersihan diri (personal hygiene), cukup banyak antara lain 45 murid yang bermasalah pada gigi dengan persentase 36.5 %, 25 murid yang tidak menggosok gigi dengan persentase 20.3%, 6 murid yang tidak tidak mencuci tangan sebelum makan dengan persentase 4.9%, 15 murid yang tidak mencuci kaki sebelum tidur dengan persentase 12.1 %, 7 murid tidak biasa memakai alas kaki dengan persentase 5.7 %, 20 murid tidak biasa potong kuku dengan persentase 16.2% , 5 murid yang mempunyai kebiasaan mandi 1 kali sehari dengan persentase 4%. Dampak negatif dari perilaku tersebut adalah menimbulkan berbagai penyakit yang terjadi seperti karies gigi, diare, cacingan, dan gatal-gatal. Sehingga perlu untuk ditindak lanjuti dengan pemberian asuhan keperawatan.
Saat ini di seluruh Indonesia, banyak institusi kesehatan tersebar di bebagai daerah. Jadi dapat diperkirakan mahasiswa-mahasiswa dengan basic kesehatan semakin banyak pula. Untuk membantu mengatasi masalah remaja, maka mahasiswa dengan basic kesehatan hendaknya ikut berperan aktif yakni dengan memberikan pendidikan pada remaja di sekolah ataupun di fakultas non kesehatan. Strategi yang dapat di jalankan adalah melalui penyebarluasan pengalaman dan pelajaran tentang masalah yang banyak terjadi pada remaja.
Masa remaja adalah masa peralihan dari masa kanak-kanak menjadi masa yang yang menyenangkan, meski bukan berarti tanpa masalah. Banyak proses yang harus dilalui seseorang dimasa transisi kanak-kanak menjadi dewasa ini. Tantangan yang dihadapi orangtua dan petugas kesehatan dalam menangangi problematika remaja pun akan semakin kompleks. Namun ada penyelesaian masalah untuk membentuk manusia-manusia kreatif dengan karakter yang kuat, salah satunya dengan melakukan asuhan keperawatan komunitas pada kelompok remaja.
Berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang semakin canggih membawa dampak pada semua kehidupan, terutama pada generasi penerus bangsa khususnya pada remaja. Salah satunya dampak negative banyak para pelajar di kalangan remaja sudah merokok, berkendaraan dengan kecepatan tinggi, percobaan bunuh diri, minum-minuman dan penggunaan zat yang merusak kesehatan.
Dampak yang terjadi pada remaja itu merupakan masalah yang komplek, ditandai oleh dorongan penggunaan yang tidak terkendali untuk terus menerus digunakan, walaupun mengalami dampak yang negative dan menimbulkan gangguan fungsi sehari-hari baik dirumah, sekolah maupun di masyarakat.
- Tujuan
Tujuan Umum : (anak dan remaja )
- Untuk memberikan gambaran tentang perilaku berisiko pada komunitas agregat anak usia sekolah termasuk upaya pencegahan/penanganannya melalui pendekatan proses keperawatan komunitas dan asuhan keperawatan pada pasien dengan obesitas.
- Agar mahasiswa /mahasiswi STIKES Medika Nurul Islam sigli memperoleh informasi dan gambaran tentang Keperawatan Komunitas dan Asuhan keperawatan pada pasien dengan obesitas Pada Remaja.
Tujuan Khusus : (anak dan remaja )
- Membahas tentang definisi dan deskripsi komunitas pada Anak dan Remaja
- Mampu menjelaskan konsep teori tentang anak dan remaja.
- Mampu membuat Asuhan keperawatan pada pasien dengan obesitas Pada Remaja.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
- Definisi dan Deskripsi Komunitas
- Definisi Komunitas
- ANAK
- Definisi Komunitas
Komunitas dapat diartikan kumpulan orang pada wilayah tertentu dengan sistem sosial tertentu. Komunitas meliputi individu, keluarga, kelompok/agregat dan masyarakat. Salah satu agregat di komunitas adalah kelompok anak usia sekolah yang tergolong kelompok berisiko (at risk) terhadap timbulnya masalah kesehatan yang terkait perilaku tidak sehat. Berdasarkan umur kronologis dan berbagai kepentingan, terdapat berbagai definisi tentang anak usia sekolah yaitu:
- Menurut definisi WHO (World Health Organization) yaitu golongan anak yang berusia antara 7-15 tahun, sedangkan di Indonesia lazimnya anak yang berusia 7-12 tahun.
- Menurut Wong (2016), usia sekolah adalah anak pada usia 6-12 tahun
- Besarnya Komunitas
Komunitas agregat anak usia sekolah yang menjadi sasaran pengkajian adalah anak usia sekolah SD dengan umur 6 – 12 tahun.
- Anak Usia Sekolah Sebagai Kelompok Risiko
Anak usia sekolah adalah anak yang memiliki umur 6 sampai 12 tahun yang masih duduk di sekolah dasar dari kelas 1 sampai kelas 6 dan perkembangan sesuai usianya. Anak usia sekolah merupakan kelompok risiko yaitu suatu kondisi yang dihubungkan dengan peningkatan kemungkinan adanya kejadian penyakit. Hal ini tidak berarti bahwa jika faktor risiko tersebut ada pasti akan menyebabkan penyakit, tetapi dapat berakibat potensial terjadinya sakit atau kondisi yang membahayakan kesehatan secara optimal dari populasi. Anak usia sekolah merupakan populasi risiko karena beberapa hal yaitu:
- Anak banyak menghabiskan waktu di luar rumah
- Aktivitas fisik anak semakin meningkat
- Pada usia ini anak akan mencari jati dirinya
- Masih membutuhkan peran orang tua untuk membantu memenuhi kebutuhan
- Framework/ Model yang Digunakan Untuk Pengkajian Komunitas
- Aktivitas fisik anak semakin meningkat
Dalam memberikan asuhan keperawatan pada agregat anak usia sekolah menggunakan pendekatan Community as partner model. Klien (anak usia sekolah) digambarkan sebagai inti (core) mencakup sejarah, demografi, suku bangsa, nilai dan keyakinan dengan 8 (delapan) subsistem yang saling mempengaruhi meliputi lingkungan fisik,
Delapan subsistem yang dikaji seperti berikut:
- Pengkajian
- Data inti komunitas, terdiri dari:
- Demografi : Jumlah anak usia sekolah keseluruhan, jumlah anak usia sekolah menurut jenis kelamin, golongan umur.
- Etnis : suku bangsa, budaya, tipe keluarga.
- Nilai, kepercayaan dan agama : nilai dan kepercayaan yang dianut oleh anak usia sekolah berkaitan dengan pergaulan, agama yang dianut, fasilitas ibadah yang ada, adanya organisasi keagamaan, kegiatan-kegiatan keagamaan yang dikerjakan oleh anak usia sekolah.
- Data subsystem
Delapan subsitem yang dikaji sebagai berikut :
- Lingkungan Fisik
Inspeksi : Lingkungan sekolah anak usia sekolah, kebersihan lingkungan, aktifitas anak usia sekolah di lingkungannya, data dikumpulkan dengan winshield survey dan observasi.
Auskultasi : Mendengarkan aktifitas yang dilakukan anak usia sekolah dari guru kelas, kader UKS, dan kepala sekolah melalui wawancara.
Angket : Adanya kebiasaan pada lingkungan anak usia sekolah yang kurang baik bagi perkembangan anak usia sekolah.
- Pelayanan kesehatan dan pelayanan social
Ketersediaan pelayanan kesehatan khusus anak usia sekolah, bentuk pelayanan kesehatan bila ada, apakah terdapat pelayanan konseling bagi anak usia sekolah melalui wawancara.
- Ekonomi
Jumlah pendapatan orang tua siswa, jenis pekerjaan orang tua siswa, jumlah uang jajan para siswa melalui wawancara dan melihat data di staff tata usaha sekolah.
- Keamanan dan transportasi.
- Keamanan : adanya satpam sekolah, petugas penyebarang jalan.
- Transportasi
Jenis transportasi yang dapat digunakan anak usia sekolah, adanya bis sekolah untuk layanan antar jemput siswa
- Politik dan pemerintahan
Kebijakan pemerintah tentang anak usia sekolah, dan tata tertib sekolah yang harus dipatuhi seluruh siswa.
- Komunikasi
- Komunikasi formal
Media komunikasi yang digunakan oleh anak usia sekolah untuk memperoleh informasi pengetahuan tentang kesehatan melalui buku dan sosialisasi dari pendidik.
- Komunikasi informal
Komunikasi/diskusi yang dilakukan anak usia sekolah dengan guru dan orang tua, peran guru dan orang tua dalam menyelesaikan dan mencegah masalah anak sekolah, keterlibatan guru dan orang tua dan lingkungan dalam menyelesaikan masalah anak usia sekolah.
- Pendidikan
Terdapat pembelajaran tentang kesehatan, jenis kurikulum yang digunakan sekolah, dan tingkat pendidikan tenaga pengajar di sekolah.
- Rekreasi
Tempat rekreasi yang digunakan anak usia sekolah, tempat sarana penyaluran bakat anak usia sekolah seperti olahraga dan seni, pemanfaatannya, kapan waktu penggunaan
- Peran Perawat Komunitas Terkait Anak Usia Sekolah
- Praktik Keperawatan Kesehatan Komunitas.
Keperawatan kesehatan komunitas (CHN) merupakan spesialis pelayanan keperawatan yang berbasiskan pada masyarakat dimana perawat mengambil tanggung jawab untuk berkontribusi meningkatkan derajad kesehatan masyarakat. Fokus utama upaya CHN adalah pencegahan penyakit, peningkatan dan mempertahankan kesehatan dengan tanggung jawab utama perawat CHN pada keseluruhan populasi dengan penekanan pada kesehatan kelompok populasi daripada individu dan keluarga.
- Fungsi dan Peran Perawat CHN Pada Agregat Anak Usia Sekolah
Fungsi dan peran perawat kesehatan komunitas terkait agregat anak usia sekolah antara lain :
- Kolaborator
Perawat bekerjasama dengan lintas program dan lintas sektoral dalam membuat keputusan dan melaksanakan tindakan untuk menyelesaikan masalah anak sekolah. Seperti halnya perawat melakukan kemitraan dengan tokoh masyarakat, tokoh agama, keluarga, guru, kepolisian, psikolog, dokter,LSM, dan sebagainya.
- Koordinator
Mengkoordinir pelaksanaan konferensi kasus sesuai kebutuhan anak sekolah, menetapkan penyedia pelayanan untuk anak usia sekolah.
- Case finder
Mengembangkan tanda dan gejala kesehatan yang terjadi pada agregat anak usia sekolah, menggunakan proses diagnostik untuk mengidentifikasi potensial kasus penyakit dan risiko pada anak usia sekolah.
- Case manager
Mengidentifikasi kebutuhan anak usia sekolah, merancang rencana perawatan untuk memenuhi kebutuhan anak usia sekolah, mengawasi pelaksanaan pelayanan dan mengevaluasi dampak pelayanan.
- Pendidik
Mengembangkan rencana pendidikan kepada keluarga dengan anak usia sekolah di masyarakat dan anak usia sekolah di institusi formal, memberikan pendidikan kesehatan sesuai kebutuhan, mengevaluasi dampak pendidikan kesehatan.
- Konselor
Membantu anak usia sekolah mengidentifikasi masalah dan alternatif solusi, membantu anak usia sekolah mengevaluasi efek solusi dan pemecahan masalah.
- Peneliti
Merancang riset terkait anak usia sekolah, mengaplikasikan hasil riset pada anak usia sekolah, mendesiminasikan hasil riset.
- Care giver
Mengkaji status kesehatan komunitas anak usia sekolah, menetapkan diagnosa keperawatan, merencanakan intervensi keperawatan, melaksanakan rencana tindakan dan mengevaluasi hasil intervensi.
- Pembela
Memperoleh fakta terkait situasi yang dihadapi anak usia sekolah, menentukan kebutuhan advokasi, menyampaikan kasus anak usia sekolah terhadap pengambil keputusan, mempersiapkan anak usia sekolah untuk mandiri
b. REMAJA
Remaja atau adolesens adalah periode perkembangan selama di mana individu mengalami perubahan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa, biasanya antara usia 13-20 tahun. Batasan usia remaja menurut WHO adalah 12 s/d 24 th Namun jika pada usia remaja sudah menikah maka ia sudah tergolong dalam kelompok dewasa. Istilah adolesens biasanya menunjukkan maturasi psikologis individu, ketika pubertas menunjukan titik di mana reproduksi mungkin dapat terjadi. Perubahan hormonal pubertas mengakibatkan perubahan penampilan pada orang muda, dan perkembangan mental mengakibatkan kemampuan untuk menghipotesis dan berhadapan dengan abstraksi.
- Perkembangan
- Perkembangan Kognitif Remaja
- Abstrak (teoritis). Menghubungkan ide,pemikiran atau konsep pengertian guna menganalisa dan memecahkan masalah. Contoh pemecahan masalah abstrak ; aljabar.
- Idealistik. Berfikir secara ideal mengenai diri sendiri, orang lain maupun masalah social kemasyarakatan yang ditemui dalam hidupnya.
- Logika. Berfikir seperti seorang ilmuwan, membuat suatu perencanaan untukmemecahkan suatu masalah. Kemudian mereka menguji cara pemcahan secara runtut, tratur dan sistematis.
- Perkembangan Psikososial Remaja
- Menyesuaikan diri dengan perubahan fisiologis – psikologis
- Belajar bersosialisasi sebagai seorang laki-laki maupun wanita
- Memperoleh kebebasan secara emosional dari orang tua dan orang dewasa lain
- Remaja bertugas untuk menjadi warga negara yang bertanggung jawab.
- Memperoleh kemandirian dan kepastian secara ekonomis
- Perkembangan Identitas Diri
- Konsep diri
- Evaluasi diri
- Harga diri
- Efikasi diri
- Kepercayaan diri
- Tanggung jawab
- Komitmen
- Ketekunan
- Kemandirian
- Masalah Kesehatan Spesifik Pada Adolesens
- Kecelakaan tetap merupakan penyebab utama kematian pada adolesens (sekitar 70%). Kecelakaan kendaraan bermotor, yang merupakan penyebab umum terbanyak, mengakibatkan hamper setengah kematian pada usia 16 sampai 19 tahun (Edelmen da Mandel, 1994). Kecelakaan ini sering dikaitkan dengan intoksikasi alcohol atau penyalahgunaan obat.
- Penyalahgunaan zat merupakan kenyataan masalah utama bagi mereka yang bekerja dengan adolesens. Adolesens dapat menyakini bahwa zat yang merubah alam persaan menciptakan perasaan sejahtera atau membuktika tingkat penampilan. Semua adolesensberada pada risiko penggunaan zat untuk eksperimental atau kebiasaan atau berasal dari keluarga yang tidak stabil lebih berisiko terhadap penggunaan kronik dan ketergantungan fisik. Beberapa adolesens percaya bahwa penggunaan zat membuat mereka lebih matur.
- Bunuh diri merupakan penyebab utama kemtian ketiga pad adolesens usia antara 15 dan 24 tahun (Hawton, 1990); kecelakaan dan pembunuhan merupakan penyebab utama. Depresi dan isolasi social biasanya mendahului usha diri, tetapi bunuh diri mungkin juga sebagai akibat dari kombinasi beberapa factor.
Penyakit menular seksual dialami sekitar 10 juta orang per tahun di bawah usia 25 tahun. Tingkat insiden tertinggi mengharuskan adolesens yang aktif seksual dilakukan skrining terhadap PMS, meskipun mereka tidak menunjukan gejala. Kehamilan remaja merupakan kejadian umum di Amerika Serikat; 1 dari setiap 10 wanita dibawah usia 20 tahun mengalami kehamilan, dan banyak yang memilih untuk memelihara bayinya sendiri. Kehamilan tidak memiliki risiko fisik pada ibu yang masih remaja kecuali mereka dibawah usia 16 tahun atau tidak menerima perawatan prenatal.
- Pengertian Obesitas
Obesitas atau kegemukan didefinisikan sebagai kelebihan akumulasi lemak tubuh sedikitnya 20 % dari berat rata-rata untuk usia, jenis kelamin dan tinggi badan. Prognosis umum untuk peningkatan dan mempertahankan penurunan berat badan buruk. Namun keinginan untuk pola hidup lebih sehat dan penurunan faktor resiko sehubungan dengan ancaman penyakit terhadap hidup memotivasi beberapa orang mengikuti diet dan program penurunan berat badan.
- Klasifikasi
Obesitas digolongkan menjadi 3 kelompok:
- Obesitas ringan : kelebihan berat badan 20-40%
- Obesitas sedang : kelebihan berat badan 41-100%
- Obesitas berat : kelebihan berat badan >100% (Obesitas berat ditemukan sebanyak 5% dari antara orang-orang yang gemuk)
Indeks Massa Tubuh (Body Mass Index, BMI)
| BMI | Klasifikasi |
| < 18.5 | berat badan di bawah normal |
| 18.5–24.9 | Normal |
| 25.0–29.9 | normal tinggi |
| 30.0–34.9 | Obesitas tingkat 1 |
| 35.0–39.9 | Obesitas tingkat 2 |
| ≥ 40.0 | Obesitas tingkat 3 |
BMI merupakan suatu pengukuran yang menghubungkan (membandingkan) berat badan dengan tinggi badan.
- Dengan Rumus:
Satuan Metrik menurut sistem satuan internasional : BMI = kilogram / meter2 Rumus : BMI = b / t2 dimana b adalah berat badan dalam satuan metrik kilogram dant adalah tinggi badan dalam meter.
- Komplikasi
Seorang obesitas menghadapi risiko masalah kesehatan yang berat, antara lain:
- Hipertensi.
Penambahan jaringan lemak meningkatkan aliran darah. Peningkatan kadar insulin berkaitan dengan retensi garam dan air yang meningkatkan volum darah. Laju jantung meningkat dan kapasitas pembuluh darah mengangkut darah berkurang.Semuanya dapat menungkatkan tekanan darah.
- Diabetes.
Obesitas merupakan penyebab utama DM t2.Lemak berlebih menyebabkan resistensi insulin, dan hiperglikemia berpengaruh negatif terhadap kesehatan.
- Dislipidemia.
Terdapat peningkatan kadar low-density lipoprotein cholesterol (jahat), penurunan kadar high-density lipoprotein cholesterol (baik) dan peningkatan kadar trigliserida. Dispilidemia berisiko terbentunya aterosklerosis.
- Penyakit jantung koroner dan Stroke
Penyakit-penyakit ini merupakan penyakit kardiovaskular akibat aterosklerosis.
- Osteoartritis.
Morbid obesity memperberat beban pada sendi-sendi.
- Apnea tidur.
Obesitas menyebabkan saluran napas yang menyempit yang selanjutnya menyebabkan henti napas sesaat sewaktu tidur dan mendengkur berat.
- Asthma
Anak dengan BBL atau obes cenderung lebih banyak mengalami serangan asma atau pembatasan keaktifan fisik.
- Kanker
Banyak jenis kanker yang berkaitan dengan BBL misalnya pada perempuan kanker payudara, uterus, serviks, ovarium dan kandung empedu; pada lelaki kanker kolon, rektum dan prostat.
- Penyakit perlemakan hati
Baik peminum alkohol maupun bukan dapat mengidap penyakit perlemakan hati (non alcoholic fatty liver disease = NAFLD) atau non alcoholic steatohepatitis (NASH) yang dapat berkembang menjadi sirosis.
- Penyakit kandung empadu
Orang dengan BBL dapat menghasilkan banyak kolesterol yang berisiko batu kandung empedu.
- Etiologi
Obesitas dapat di sebabkan oleh beberapa faktor antara lain , keturunan,pola makan, obat-obatan,psikososial ekonomi, aktivitas, pola pikir dan konsentrasi intake makanan
- Manifestasi klinis
Obesitas dapat terjadi pada semua golongan umur, akan tetapi pada anak biasanya timbul menjelang remaja dan dalam masa remaja terutama anak wanita, selain berat badan meningkat dengan pesat, juga pertumbuhan dan perkembangan lebih cepat (ternyata jika periksa usia tulangnya), sehingga pada akhirnya remaja yang cepat tumbuh dan matang itu akan mempunyai tinggi badan yang relative rendah dibandingkan dengan anak yang sebayanya.
Bentuk tubuh, penampilan dan raut muka penderita obesitas :
- Paha tampak besar, terutama pada bagian proximal, tangan relatif kecil dengan jari – jari yang berbentuk runcing.
- Kelainan emosi raut muka, hidung dan mulut relatif tampak kecil dengan dagu yang berbentuk ganda.
- Dada dan payudara membesar, bentuk payudara mirip dengan payudara yang telah tumbuh pada anak pria keadaan demikian menimbulkan perasaan yang kurang menyenangkan.
- Abdomen, membuncit dan menggantung serupa dengan bentuk bandul lonceng, kadang – kadang terdapat strie putih atau ungu.
- Lengan atas membesar, pada pembesaran lengan atas ditemukan biasanya pada biseb dan trisebnya
Pada penderita sering ditemukan gejala gangguan emosi yang mungkin merupakan penyebab atau keadaan dari obesitas.
Penimbunan lemak yang berlebihan dibawah diafragma dan di dalam dinding dada bisa menekan paru – paru, sehingga timbul gangguan pernafasan dan sesak nafas, meskipun penderita hanya melakukan aktivitas yang ringan.Gangguan pernafasan bisa terjadi pada saat tidur dan menyebabkan terhentinya pernafasan untuk sementara waktu (tidur apneu), sehingga pada siang hari penderita sering merasa ngantuk.
Obesitas bisa menyebabkan berbagai masalah ortopedik, termasuk nyeri punggung bawah dan memperburuk osteoartritis (terutama di daerah pinggul, lutut dan pergelangan kaki).Juga kadang sering ditemukan kelainan kulit.Seseorang yang menderita obesitas memiliki permukaan tubuh yang relatif lebih sempit dibandingkan dengan berat badannya, sehingga panas tubuh tidak dapat dibuang secara efisien dan mengeluarkan keringat yang lebih banyak.Sering ditemukan edema (pembengkakan akibat penimbunan sejumlah cairan) di daerah tungkai dan pergelangan kaki.
- Patofisiologi pada obesitas
Makanan yang adekuat, yang di sertai dengan ketidak seimbangan antara intake dan out put yang keluar – masuk dalam tubuh akan menyebabkan akumulasi timbunan lemak pada jaringan adiposa khususnya jaringan subkutan. Apabila hal ini terjadi akan timbul berbagai masalah, diantaranya
Timbunan lemak pada area abdomen yang emnyebabkan tekanan pada otot-otot diagfragma meningkat sehingga menggagu jalan nafas , BB yang berlebihan menyebabkan aktifitas yang terganggu sehingga mobilitas gerak terbatasi dan timbul perasaan tidak nyaman, obat-obatan golongan steroid yang memicu nafsu makan tidak terkontrol mengakibatkan perubahan nutrisi yang berlebih, dan krisis kepercayaan diri karena timbunan lemak pada tubuh telah mengubah bentuk badannya.
- Penatalaksanaan
Penatalaksanaan Obesitas dianjurkan agar melalui banyak cara secara bersama-sama. Terdapat banyak pilihan antara lain:
- Gaya hidup
Perubahan perilaku dan pengaturan makan.Prinsipnya mengurangi asupan kalori dan meningkatkan keaktifan fisik, dikombinasikan dengan perubahan perilaku.Kata pepatah Cina kuno “makan malam sedikit akan membuat Anda hidup sampai sembilan puluh sembilan tahun”.Pertama usahakan mencapai dan mempertahankan BB yang sehat.
- Bedah bariatrik
Di Amerika Serikat cara ini dianjurkan bagi mereka dengan IMT 40 kg/m2 atau IMT 35,0-39,9 kg/m2 disertai penyakit kardiopulmonar, DM t2, atau gangguan gaya hidup dan telah gagal mencapai penurunan BB yang cukup dengan cara non-bedah. (NIH Consensus Development Panel pada tahun 1991).
- Obat-obat anti obesitas
Ada obat yang mempunyai kerja anoreksian (meningkatkan satiation, menurunkan selera makan, atau satiety, meningkatkan rasa kenyang, atau keduanya), contohnya Phentermin.Obat ini hanya dibolehkan untuk jangka pendek.
- Balon Intragastrik
Balon Intragastrik adalah kantung poliuretan lunak yang dipasang ke dalam lambung untuk mengurangi ruang yang tersedia untuk makanan.
- Pintasan Usus
Pintasan usus meliputi penurunan berat badan dengan cara malabsorbsi. Tindakan ini kadang-kadang dilakukan dengan diversi biliopankreatik, yang memerlukan reseksi parsial lambung dan eksisi kandung empedu dengan transeksi jejunum .jejunum proksimal dianastomosiskan (dihubungkan melalui pembedahan) ke ilium distal, dan jejunum distal dianastomosiskan ke bagian sisa dari lambung.
- Pemeriksaan Diagnostik
- Pemeriksaan metabolik atau endorin : Dapat menyatakan ketidaknormalan misalnya hipotiroidisme, hipogonadisme, peningkatan pada insulin, hiperglikemi.
- Pemeriksaan antropometrik : Dapat memperkirakan rasio lemak dan otot.
- Konsep Asuhan Keperawatan
- Pengkajian
- Identitas Pasien
- Pengkajian
Identitas klien Nama, umur, jenis kelamin, status perkawinan, agama, suku/bangsa, pendidikan, pekerjaan, pendapatan, alamat, dan nomor register.
- Riwayat kesehatan
- Riwayat Kesehatan sekarang : keluhan pasien saat ini
- Riwayat Kesehatan masa lalu : kaji apakah ada keluarga dari pasien yang pernah menderita obesitas
- Riwayat kesehatan keluarga : kaji apakah ada ada di antara keluarga yang mengalami penyakit serupa atau memicu
- Riwayat psikososial,spiritual : kaji kemampuan interaksi sosial , ketaatan beribadah, kepercayaan
- Pemerikasaan fisik :
- Sistem kardiovaskuler : Untuk mengetahui tanda-tanda vital, ada tidaknya distensi vena jugularis, pucat, edema, dan kelainan bunyi jantung.
- Sistem respirasi : untuk mengetahui ada tidaknya gangguan kesulitan napas
- Sistem hematologi : Untuk mengetahui ada tidaknya peningkatan leukosit yang merupakan tanda adanya infeksi dan pendarahan, mimisan.
- Sistem urogenital : Ada tidaknya ketegangan kandung kemih dan keluhan sakit pinggang.
- Sistem muskuloskeletal : Untuk mengetahui ada tidaknya kesulitan dalam pergerakkan, sakit pada tulang, sendi dan terdapat fraktur atau tidak.
- Sistem kekebalan tubuh : Untuk mengetahui ada tidaknya pembesaran kelenjar getah bening.
- Pemeriksaan penunjang :
Pemeriksaan metabolik / endokrin dapat menyatakan tak normal, misal : hipotiroidisme, hipopituitarisme, hipogonadisme, sindrom cushing (peningkatan kadar insulin)
- Pola fungsi kesehatan
- Aktivitas istirahat
Kelemahan dan cenderung mengantuk, ketidakmampuan / kurang keinginan untuk beraktifitas.
- Sirkulasi
Pola hidup mempengaruhi pilihan makan, dengan makan akan dapat menghilangkan perasaan tidak senang : frustasi
- Makanan / cairan
Mencerna makanan berlebihan
- Kenyamanan
Pasien obesitas akan merasakan ketidaknyamanan berupa nyeri dalam menopang berat badan atau tulang belakang
- Pernafasan
Pasien obesitas biasanya mengalami dipsnea
- Seksualitas
Pasien dengan obesitas biasanya mengalami gangguan menstruasi dan amenouria
- Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul
- Perubahan nutrisi lebih dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan intake makanan yang lebih
- Gangguan pencitraan diri yang berhubungan dengan biofisika atau psikosial pandangan px tehadap diri
- Hambatan interaksi sosial yang berhubungan dengan ungkapan atau tampak tidak nyaman dalam situasi sosial
- Pola napas tak efektif yang berhubungan dengan penurunan ekspansi paru, nyeri , ansietas , kelemahan dan obstruksi trakeobronkial
- Perencanaan
Setelah pengumpulan data, megelompokkan dan menentukan diagnosa keoerawatan yang mungkin muncul, maka tahapan selanjutnya adalah menentukkan prioritas, tujuan dan rencana tindakkan keperawatan.
Diagnosa 1
- Perubahan nutrisi: lebih dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan intake makanan yang lebih
Tujuan :
Kebutuhan nutrisi kembali normal
Kriteria hasil :
Perubahan pola makan dan keterlibatan individu dalam program latihan
Menunjukan penurunan berat badan
Intervensi :
- Kaji penyebab kegemukan dan buat rencana makan dengan pasien
- Timbang berat badan secara periodik
- Tentukan tingkat aktivitas dan rencana program latihan diet
- Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentujan keb kalori dan nutrisi untuk penurunan berat badan
- Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat penekan nafsu makan (ex.dietilpropinion)
Rasional :
- Mengidentifikasi / mempengaruhi penentuan intervensi
- Memberikan informasi tentang keefektifan program
- Mendorong px untuk menyusun tujuan lebih nyata dan sesuai dg rencana
- Kalori dan nurtisi terpenuhi secara normal
- Penurunan berat badan
Diagnosa 2
Gangguan pencitraan diri b.d biofisika atau psikosial pandangan px tehadap diri.
Tujuan :
Menyatakan gambaran diri lebih nyata
Kriterian hasil :
Menunjukkan beberapa penerimaan diri dari pandangan idealisme
Mengakui indiviu yang mempunyai tanggung jawab sendiri
Intervensi :
- Beri privasi kepada px selama perawatan
- Diskusikan dengan px tentang pandangan menjadi gemuk dan apa artinya bagi px trsebut
- Waspadai mitos px / orang terdekat
- Tingkatkan komunikasi terbuka dengan px untuk menghondari kritik
- Waspadai makan berlebih
- Kolaborasi dengan kelompok terapi
Rasional :
- Individu biasanya sensitif terhadap tubuhnya sendiri
- Pasien mengungkapkan beban psikologisnya
- Keyakinan tentang seperti apa tubuh yang ideal atau motifasi dapat menjadi upaya penurunan berat badan
- Meningkatkan rasa kontrol dan meningkatkan rasa ingin menyelesaikan masalahnya
- Pola makan terjaga
- Kelompok terapi dapat memberikan teman dan motifasi
Diagnosa 3
Hambatan interaksi sosial b.d ungkapan atau tampak tidak nyaman dalam situasi sosial
Tujuan :
Mengungkapkan kesadaran adanya perasaan yang menyebabkan interaksi sosial yang buruk
Kriteria hasil :
Menunjikan peningkatan perubahan positif dalam perilaku sosial dan interpersonal
Intervensi :
- Kaji perilaku hubungan keluarga dan perilaku sosial
- Kaji penggunaan ketrampilan koping pasien
- Rujuk untuk terapi keluarga atau individu sesuai dengan indikasi
Rasional :
- Keluarga dapat membantu merubah perilaku sosial pasien
- Mekanisme koping yang baik dapat melindungi pasien dari perasaan kesepian isolasi
- Pasien mendapat keuntungan dari keterlibatan orang terdekat untuk memberi dukungan
Diagnosa 4
Pola napas tak efektif yang berhubungan dengan penurunan ekspansi paru, nyeri , ansietas , kelemahan dan obstruksi trakeobronkial
Tujuan :
Mengembalikan pola napas normal
Kriteria hasil :
- Mempertahankan ventilasi yang adekuat
- Tidak mengalami sianosis atau tanda hipoksia lain
Intervensi :
- Awasi, auskultasi bunyi napas
- Tinggikan kepala tempat tidur 30 derajat
- Bantu lakukan napas dalam, batuk menekan insisi
- Ubah posisi secara periodik
- Berikan O2 tambahan / alat pernapasan lain
Rasional :
- Peranapasan mengorok/ pengaruh anastesi menurunkan ventilasi, potensial atelektasis, hipoksia.
- Mendorong pengembangan diafragma sehingga ekspansi paru optimal, pasien lebih nyaman.
- Ekspansi paru maksimal, pembersihan jalan napas, resiko atelektasis minimal.
- Memaksimalkan sediaan O2 untuk pertukaran dan penurunan kerja napas.
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN OBESITAS
- Pengkajian
Identitas
Nama : Nn. M
Jenis Kelamin : Perempuan
Dignosa medis : Obesitas berat
Umur : 19 tahun
Tinggi badan : 156 cm
Berat badan : 120 kg
Pendidikan : Mahasiswi
Pekerjaan : –
Alamat : Pidie
- Riwayat Kesehatan
Keluhan utama
Pasien mengatakan susah sekali berdiri sehabis duduk dari lantai.
- Riwayat Kesehatan Sekarang
Pasien tidak mengalami keluhan apa-apa selain merasakan berat badannya semakin bertambah, disamping itu pasien mengalami kesusahan untuk berdiri sehabis duduk dari lantai.
- Riwayat Kesehatan Dahulu
Sebelumnya pasien memiliki berat badan yang normal tapi setelah 2 tahun kemudian berat badan pasien mengalami perubahan, itu terjadi saat pasien beranjak kelas 2 SMA.
- Riwayat Kesehatan Keluarga
Keluarga pasien tidak ada yang mengalami obesitas.
- Riwayat Psiko-Sosial-Spiritual
- Psikologi pasien
Pasien dapat menerima dengan keadaan yang dialami sekarang dan merasa enjoy atas apa yang dianugerahkan meski terkadang merasa minder.
- Sosial
Pasien berinteraksi dan bergaul dengan lingkungannya dengan baik dapat menerima dan diterima oleh orang lain.
- Spiritual
Dalam kondisi dengan badan yang berlebih pasien masih tetap aktif menjalankan ibadah.
Pemeriksaan fisik
- Vital sign
Tekanan darah : 130/80 mmHg
Pernafasan : 24 x/menit
Nadi : 85 x/menit
Suhu : 370C
- Keadaan umum : Baik
- Pemeriksaan Head to Toe
Kulit : Inspeksi (warna kulit sawo matang)
Palpasi (turgor normal < 3 dtik)
Kepala : Inspeksi (kulit kepala bersih, bulat sempurna,
rambut panjang lurus, tidak ada benjolan atau lesi)
Palpasi (tidak ada benjolan)
Telinga : Inspeksi (normal tidak ada lesi, bersih tidak ada serumen)
Palpasi (normal tidak ada lipatan)
Mata : Inspeksi (bulat besar, bersih tidak cowong)
Mulut : Inspeksi (bersih, lembab, gigi normal)
Dada : Inspeksi (bentuk dada simetris/normal)
Palpasi (tidak ada benjolan atau lesi)
Perkusi (terdengar bunyi sonor paru, tidak ada benjolan atau
lesi)
Auskultasi (terdengar bunyi sonor paru, tidak ada suara
tambahan)
Abdomen : Inpeksi (buncit terdapat lipatan)
· Pola Fungsi Kesehatan
- Pola Nutrisi
- Kebiasaan sehari-hari
Pasien makan 3x sehari dengan porsi biasa
- Saat sekarang
Pasien makan lebih dari 3x sehari dengan porsi banyak dan kadang-kadang ditambah dengan makanan ringan, pasien selalu ingin ngemil.
- Pola Eliminasi
- Kebiasaan sehari-hari
Pasien BAB dan BAK normal
- Saat sekarang
Pasien BAB dan BAK normal
- Pola Istirahat-Tidur
- Pasien tidur pada jam-jam istirahat
- Sesudah mengalami obesitas pasien lebih sering mengantuk dan memperbanyak tidurnya.
- Pola Aktivitas
- Kebiasaan sehari-hari
Pasien dalam menjalankan aktivitas tidak mengalami keluhan / hambatan.
- Saat sekarang
Pasien mengalami hambatan, cepat capek dan lelah, malas dengan berat badan yang berlebihan.
Pengkajian Psiko-Sosial-Spiritual
- Psikologi pasien
Pasien dapat menerima dengan keadaan yang dialami sekarang dan merasa enjoy atas apa yang dianugerahkan meski terkadang merasa minder.
- Sosial
Pasien berinteraksi dan bergaul dengan lingkungannya dengan baik dapat menerima dan diterima oleh orang lain.
- Spiritual
Dalam kondisi dengan badan yang berlebih pasien masih tetap aktif menjalankan ibadah.
- Analisa Data
Data Fokus
DS : Pasien mengatakan terkadang tidak nyaman dengan berat badan yang dimilikinya.
DO :
- Pasien tampak terganggu dalam melaksanakan aktivitas karena berat badannya
- Pasien sering kali kesusahan berdiri sehabis duduk dari lantai
| Symptom | Etiologi | Problem |
| a. DS :Pasien mengatakan terkadang merasa kurang nyaman dengan berat badan yang dimilikinya DO : Pasien tampak kesusahan dalam beraktivitas karena barat badannya. b. DS : Pasien mengatakan kurang percaya diri jika berinteraksi / bersosialisasi dengan orang lain DO: Pasien kelihatan minder saat berkomunikasi dan bergaul dengan temannya. | Berat badan yang berlebihan Harga diri rendah | Gangguan dalam beraktivitas Gangguan dalam bersosialisasi dengan orang lain dan pandangan negatif terhadap diri |
- Diagnosa Keperawatan
- Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan berat badan yang ditandai dengan kesusahan dalam beraktivitas.
- Resiko terhadap kerusakan interaksi social yang berhubungan dengan ketidakmampuan untuk mempertahankan hubungan akibat perasaan malu dan respon negatif dari orang lain.
- Perencanaan Keperawatan
| No. Dx Kep | Tujuan | Intervensi | Rasional |
| 1 2 | Setelah dilakukan perawatan dan penyuluhan 2×24 jam pasien diharapkan mampu melaksanakan diet dengan criteria hasil : – Menunjukkan perubahan pola makan dan keterlibatan individu dalam program latihan – – Menunjukkan penurunan BB dengan pemeliharaan kesehatan optimal Setelah dilakukan penyuluhan 2×24 jam pasien diharapkan mampu bersosialisasi dengan baik dengan kriteria hasil : – – Menyatakan gambaran diri lebih nyata – – Menunjukkan beberapa penerimaan diri aripada andangan idealisme – – Mengakui diri sebagai individu yang mempunyai tanggung jawab sendiri | – – Diskusikan emosi / kejadian sehubungan dengan makan dan buat rencana makan dengan pasien. – – Tekankan pentingnya menghindari diet berlemak dan diskusikan tambahan tujuan nyata untuk penurunan BB – – Diskusikan dengan pasien pandangan menjadi gemuk dan apa artinya bagi individu – – Dorong pasien untuk mengeksprsikan perasaan dan persepsi masalah – – Bantu dalam mengidentifikasi tanggung jawab sendiri dan control pada situasi | — Membantu mengidentifikasikan kapan pasien makan untuk memuaskan kebutuhan emosi daripada lapr fisiologi — Hilangkan kebutuhan komponen yang dapat menimbulkan ketidakseimbangan metabolik ex : penurunan karbohidrat berlebih – Pandangan mental termasuk ideal kita dan biasanya tidak terbaru, gemuk dapat mempunyai akar dalam psikologi. — Membantu mengidentifikasi dan memperjelas alasan untuk kesulitan dalam berinteraksi dengan orang lain — Megidentifikasi masalah khusus dan menganjurkan tindakan yang dapat diambil untuk mempengaruhi perubahan |
- Pelaksanaan / Implementasi
| No. Dx | Tindakan | Respon |
| 1 2 | a. Memberikan penyuluhan dan nasehat kepada pasien agar melaksanakan diet teratur dan optimal b. Menganjurkan kepada pasien untuk berkonsultasi kepada ahli diet a. Memberi semangat bahwa berat badan pasien masih bisa diturunkan b. Memberi dukungan bahwa itu adalah anugerah dari Tuhan c. Memberikan pengertian kalau hanya diri kitalah yang mampu merubah keadaan yang ada pada dari kita sendiri | a. Pasien menerima tentang anjuran untuk menurunkan berat badannya dan berkeinginan diet secara teratur b. Pasien masih tampak ragu untuk berkonsultasi dengan ahli diet karena belum yakin apakah BBnya bisa kembali normal a. Pasien masih tampak ragu b. Bisa menerima dan percaya bahwa itu adalah yang terbaik untuknya c. Pasien tampak semangat dan optimis akan penurunan berat badannya f. |
E. EVALUASI
| No. Dx | Catatan Perkembangan |
| 1 2 | – Pasien bias sedikit mengurangi porsi makanannya – Pasien mampu meghindari makanan yang banyak mengandung lemak : gorengan – Pasien terkadang masih kurang percaya diri jika berkumpul dengan banyak orang – Pasien mampu menerima dan menyadari bahwa berinteraksi dengan orang lain itu sangat penting |
BAB IV
PENUTUP
- Simpulan
Komunitas dapat diartikan kumpulan orang pada wilayah tertentu dengan sistem sosial tertentu. Komunitas meliputi individu, keluarga, kelompok/agregat dan masyarakat.
Dalam memberikan asuhan keperawatan pada agregat anak usia sekolah dan remaja menggunakan pendekatan Community as partner model. Klien (anak usia sekolah) dan remaja digambarkan sebagai inti (core) mencakup sejarah, demografi, suku bangsa, nilai dan keyakinan dengan 8 (delapan) subsistem yang saling mempengaruhi meliputi lingkungan fisik, pelayanan kesehatan dan sosial, ekonomi, keamanan dan transportasi, politik dan pemerintahan, komunikasi, pendidikan dan rekreasi.
Kegemukan (obesitas) didefinisikan sebagai kelebihan akumulasi lemak rubuh sedikitnya 25% dari berat rata-rata untuk usia., jenis kelamin, dan tinggi badan. Prognosis umum untuk peningkatan dan mempertahankan penurunan berat badan buruk.Namun, keinginan pola hidup lebih sehat Dn penurunan factor risiko sehubungan dengan ancaman penyakit terhadap hidup memotivasi beberapa orang untuk mengikuti diet dan program penurunan berat badan.Obesitas juga merupakan suatu keadaan patologis dengan terdapatnya penimbuan lemak yang berlebihan daripada yang diperlukan untuk fungsi tubuh. Masalah gizi karena kelebihan kalori biasanya disertai kelebihan lemak dan protein hewani, kelebihan serat dan mikro nutrien.
Obesitas terjadi karena adanya kelebihan energi yang disimpan dalam bentuk jaringan lemak. Gangguan keseimbangan energi ini dapat disebabkan oleh faktor eksogen (obesitas primer) sebagai akibat nutrisional (90%) dan faktor endogen (obesitas sekunder) akibat adanya kelainan hormonal, sindrom atau defek genetik (meliputi 10%).
Faktor yang menentukan antara lain :
- Faktor Genetik
- Faktor Psikologis (gangguan emosi)
- Faktor Neurogenik ( gangguan hormon)
- Faktor Nutrisi
- Aktivitas fisik
- Saran
- Di dalam menentukan intervensi keperawatan telebih mengenai program diet, harus lebih banyak berdiskusi dengan klien.
- Untuk klien dengan obesitas, harus lebih mengutamakan pengaturan pola makan yang baik untuk menghindari kemungkinan buruk yang bisa terjadi.
- Dalam perawatan klien, sebaiknya banyak melibatkan orang terdekat klien, mulai dari keluarga,, mulai dari keluarga,abat samapi teman akrab klien.
- Dibutuhkan peran serta orang tua, guru, dan anggota masyarakat untuk mendukung keberhasilan intervensi asuhan keperawatan pada komunitas anak usia sekolah dan reamaja
DAFTAR PUSTAKA
Kemenkes RI, (2015). Buletin data dan kesehatan :Situasi Diare diIndonesia,Jakarta :Kemenkes
Wong Donna L. (2018). Buku Ajaran Keperawatan Pediatrik. Vol 2. EGC : Jakarta
Ngastiyah. (2015). Perawatan Anak Sakit Edisi Dua. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta
Nurasalam (2017). Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Edisi2 Jakarta : Salemba
Medika.Hidayat A. A. A. (2016). Pengantar Ilmu Keperawatan Anak. Jakarta. Salemba Medika
Potter dan Perry. (2005). Fundamental Keperawatan edisi 4. Jakarta: EGC
Mansjoer, Arif., et all. (2016). Kapita Selekta Kedokteran. Fakultas Kedokteran UI : Media Aescullapius
Barbara C long.(2016). Perawatan Medical Bedah. Pajajaran Bandung Guytion & Hall, Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 9, Penerbit Buku Kedokteran EGC


